Kota yang Dirindukan.
Kota di ujung utara Sulawesi
Kota yang Dirindukan.
Kota di ujung utara Sulawesi

Kota yang dirindukan, sebuah frasa sederhana, tetapi menyimpan banyak makna. Terutama bagi seseorang yang harus meninggalkan tempat lahirnya, entah untuk bekerja, kuliah, atau sekadar mengikuti arus hidup yang tak selalu bisa kita pilih. Bagi aku, kota itu bernama Manado. Sebuah kota di ujung utara Sulawesi, dengan laut yang indah, gunung, dan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Setiap kali kembali ke sana, rasanya seperti mendengarkan lagu End of Beginning. Ada jiwa lain yang terasa hidup, seolah sebagian diriku masih tertinggal di sana. Sejak kecil, aku tak pernah membayangkan akan meninggalkan kota ini. Semua yang kubutuhkan ada: keluarga, teman, rasa aman, dan kesederhanaan yang waktu itu tak pernah kupikirkan sebagai sebuah kemewahan. Hidup terasa utuh tanpa perlu banyak pertanyaan.
Namun hidup, seperti yang sering kita sadari belakangan, tidak pernah statis. Terus bergerak, berubah, dan kadang memaksa kita memilih sebelum kita benar-benar siap. Sampai pada satu titik, aku harus meninggalkan Manado dan pergi ke ibu kota untuk menimba ilmu.
Sering kali aku bertanya pada diri sendiri: bagaimana bisa aku meninggalkan kota yang serba ada? Kota tempat keluargaku tinggal, tempat aku tumbuh, tertawa, dan belajar menjadi diri sendiri. Mengapa harus sejauh itu hanya untuk mencari ilmu? Pertanyaan itu terus berulang, bahkan setelah aku benar-benar berada di Jakarta.
Aku mencoba menjawabnya dengan alasan yang terdengar rasional. Bahwa pendidikan di kota asalku masih jauh dibandingkan Jakarta. Bahwa merantau ke pusat memberi peluang lebih besar untuk berkembang dan mencari relasi. Bahwa keluar dari kampung halaman adalah jalan yang hampir semua orang tempuh demi masa depan yang lebih baik. Jawaban-jawaban itu terdengar masuk akal, tetapi tidak selalu menenangkan juga bagiku.
Aku teringat novel The Alchemist. Tentang seorang anak muda yang bernama santiago, meninggalkan ketenangan kampungnya, menjual apa yang ia miliki, dan memilih jalan penuh ketidakpastian demi mengejar mimpinya. Banyak yang bisa dipelajari dari kisah itu, tentang keberanian, jatuh bangun, dan keberanian meninggalkan zona nyaman. Namun semakin dewasa, aku mulai bertanya: apakah setiap mimpi memang selalu menuntut kita pergi sejauh itu? Apakah ketenangan selalu yang harus dikorbankan?
Manado memberikan rasa aman, dan Jakarta memberiku kegelisahan, tapi kegelisahan itulah aku belajar banyak hal tentang diriku sendiri. Tentang rindu, tentang kehilangan, tentang bagaimana menjadi dewasa sering kali berarti menerima bahwa tidak semua pilihan datang tanpa luka.
Aku banyak berdiskusi dengan orang-orang yang berpendapat bahwa meninggalkan zona nyaman adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan. Alasannya terdengar tegas dan sederhana: zona nyaman dianggap membuat kita manja, tumpul, dan berhenti bertumbuh. Selama hidup terasa aman, kata mereka, kita tidak akan pernah benar-benar mengenal batas kemampuan diri sendiri.
Pandangan itu tidak sepenuhnya salah. Ada kebenaran di dalamnya. Kenyamanan yang terlalu lama memang bisa membuat kita enggan mengambil risiko, menunda tantangan, dan memilih jalan yang paling aman. Dalam kondisi tertentu, ketidaknyamanan justru memaksa kita belajar, beradaptasi, dan mengenali diri di luar peran yang selama ini kita kenal.
Namun semakin sering aku mendengar argumen itu, semakin aku merasa perlu mempertanyakannya. Apakah setiap bentuk kenyamanan pasti berujung pada kemanjaan? Atau kita terlalu mudah menyederhanakan kenyamanan sebagai sesuatu yang harus selalu dilawan? Dalam konteks merantau, meninggalkan zona nyaman sering dipuji sebagai tanda keberanian. Tetapi keberanian itu tidak datang tanpa biaya.
Yang pasti, meninggalkan Manado tidak pernah berarti melepaskannya sepenuhnya. Kota itu akan tetap hidup dalam ingatan, dalam cara aku memandang dunia.
메타데이터
- post_id
- ca9bc1f49e23
- slug
- kota-yang-dirindukan-ca9bc1f49e23
- url
- https://medium.com/@davincipasiak/kota-yang-dirindukan-ca9bc1f49e23
- canonical_url
- https://medium.com/@davincipasiak/kota-yang-dirindukan-ca9bc1f49e23
- author_url
- https://medium.com/@davincipasiak
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 16:21:41