← Back to list

THE LAST BLUE JUNE

CHAPTER 13 : CEPAT SEMBUH, JUNE

greenyiee · 2026-06-08 05:33 · 0 claps · 4.0 min read
#elio #lovers
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

THE LAST BLUE JUNE

CHAPTER 13 : CEPAT SEMBUH, JUNE

Matinya simbol api di TikTok beberapa waktu lalu, ternyata bukanlah akhir dari segalanya, bagi dua cowok berzodiak Cancer ini. Meski atmosfer kelas 12 semakin mencekik, karena tekanan ujian, hubungan June dan Julio tetap berjalan dengan sangat baik. Kedewasaan yang tumbuh, di antara mereka membuat June selalu bisa memaklumi kesibukan Julio, yang sedang berjuang demi nilai dan proyek filmnya. Begitupun dengan Julio, dia selalu memaklumi June, yang kini lebih banyak menghabiskan waktu bersama circle kelasnya sendiri, demi mengukir momen terakhir SMA.

June paham betul, kalau Julio lagi sibuk-sibuknya mengejar materi TKA. Mengurus tugas kelompok, bersama teman sekelasnya. Demi menjaga kenyamanan sang sahabat, June bahkan sengaja tidak mengganggu Julio lagi, dengan kehebohannya yang biasa. Dia dengan lapang dada, membiarkan Julio menghabiskan seluruh waktunya di dalam kelasnya, benar-benar tanpa ada kunjungan, atau interogasi mendadak dari June seperti hari-hari biasanya.

Di tengah jarak yang sengaja mereka jaga, demi masa depan itu, June tidak pernah memelihara rasa kecewa. Melalui pesan teks WhatsApp, di suatu malam yang tenang, June justru mengusulkan sebuah ide manis untuk memperbaiki hubungan digital mereka.

“Lio, kita buat dari awal lagi aja yuk? Kita nyalain lagi apinya sampai tinggi,” tulis June dalam pesannya, lengkap dengan emoji api yang familiar.

Julio yang membaca pesan singkat itu, dari balik meja belajarnya, langsung mengulas senyuman manis yang begitu tulus. Ada rasa lega yang luar biasa menjalar di dadanya karena June ternyata sangat pengertian. Tanpa membuang waktu, Julio mengetikkan balasan setuju, membalas interaksi June di TikTok, dan sejak malam itu, mereka resmi mengusulkan kembali untuk mulai dari awal membuat streak. Yang artinya api mereka kembali membara.

Waktu berjalan, hingga pada suatu sore, Julio akhirnya mendapati sebuah waktu senggang, di antara himpitan tugas kelasnya. Rasa rindu yang sudah lama ia pendam, terhadap kebersamaan mereka membuat Julio tergerak untuk mengambil inisiatif terlebih dahulu. Dengan bersemangat, Julio mengetikkan sebuah pesan teks singkat, berniat untuk mengajak June keluar dan bermain bersama ke tempat favorit mereka.

Namun, balasan pesan yang masuk beberapa menit kemudian langsung mematahkan semangat Julio. June menolak ajakannya, dengan kalimat yang teramat singkat dan lemah, mengabarkan bahwa kondisi tubuhnya sedang drop total akibat demam. Khawatir setengah mati, mendengarkan kabar tak biasa itu, Julio langsung menyambar kunci motor dan jaketnya, mengabaikan rasa lelahnya sendiri, demi bergegas menuju rumah June.

Sebelum tiba di tujuan, Julio menyempatkan diri untuk mampir ke toko terdekat, membelikan sekeranjang buah-buahan segar, sebagai buah tangan untuk meringankan sakit sang sahabat. Setibanya di rumah June, Julio melangkah terburu-buru, menuju kamar june. Begitu pintu kamar dibuka perlahan, Julio mendapati June sedang terbaring lemas, di bawah selimut tebal dengan wajah yang pucat pasi.

Julio melangkah mendekati meja nakas di samping ranjang, mencoba mencari keberadaan botol obat atau resep dokter. Namun, matanya tidak mendapati satu pun obat di dekat June, sebuah kenyataan yang membuatnya mengembuskan napas berat. June yang menyadari kehadiran Julio, hanya bisa membuka kelopak matanya yang sayu, menatap sang sahabat dengan tatapan bersalah.

“Kamu baru banget ngerasain demamnya ya? Kok belum ada obat sama sekali di sini,” ucap Julio dengan nada prihatin yang amat kental sembari menyentuh dahi panas June.

“Ayo aku temenin beli obat,” sambung Julio, tidak ingin membiarkan kondisi June semakin memburuk.

June yang tubuhnya sedang menggigil halus, langsung menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menolak bantuan itu dengan sisa tenaga yang ia miliki.

“Eh jangan, merepotin kamu aja,” ucap June dengan suara yang terdengar serak.

Julio mendengus pelan, menatap June dengan pandangan mata yang judes, namun sarat akan kepedulian yang mendalam. Dia berkacak pinggang, menolak mentah-mentah penolakan kaku dari mulut sang sahabatnya itu.

“Kayak dengan siapa aja,” jawab Julio ketus, namun hangat.

Mendengar jawaban singkat dan tegas dari Julio, June akhirnya tidak bisa berkutik lagi dan memilih pasrah menuruti perintah sang sahabat. Julio dengan telaten membantu June memakai jaket tebalnya, lalu menuntun langkah limbung cowok itu, menuju area parkir rumah. Sore itu, dengan diboncengi oleh Julio menggunakan motor matic, mereka berdua pergi menuju apotek terdekat untuk membeli obat demam.

Setelah semua urusan obat selesai, Julio kembali mengantarkan June pulang, dengan sangat hati-hati menembus embusan angin sore. Setibanya di rumah, Julio menuntun June kembali ke kamarnya, memastikan cowok itu berbaring dengan nyaman di atas ranjangnya yang empuk. Di dalam kamar yang sunyi itu, seluruh perhatian, tenaga, dan mata Julio benar-benar bekerja keras secara maksimal, hanya untuk mengurus segala keperluan June.

Julio mendudukkan dirinya di samping ranjang, mulai berbicara banyak hal, dengan nada suara yang ceria tanpa membiarkan June menyela atau berbicara sepatah kata pun. Dia sengaja terus mengoceh tentang banyak hal acak, agar June merasa terhibur dan melupakan rasa sakit di tubuhnya.

“Cepat sembuh ya, Jun. Nanti kalau lo udah sehat, kita main lagi keluar bareng,” ucap Julio dengan seulas senyum manis.

“Aku kangen bakmi itu, kangen meja nomor sembilan kita. Makanya lo harus cepet pulih,” sambung Julio lagi, menatap lekat ke dalam manik mata June yang tampak terharu, mendengarkan untaian kalimatnya.

June yang dipaksa diam mendengarkan semua celotehan panjang Julio, hanya bisa mengulas seulas senyuman tipis, yang sangat tulus dari balik selimutnya. Dia memandangi wajah teduh Julio dengan binar mata yang dipenuhi rasa bahagia, di dalam dadanya.

“Hahaha, iya… iya, Lio,” jawab June lirih, menyerah pada perhatian luar biasa, yang diberikan oleh sang sahabat sore itu.

Karena mama June juga sedang sangat sibuk dengan urusan pekerjaan, di luar rumah, Julio mengorbankan sebagian besar waktu belajarnya demi merawat June. Dia menjadi sangat sering menjenguk dan datang ke rumah June setiap pulang sekolah, memastikan cowok itu selalu makan dengan teratur, meminum obatnya tepat waktu, dan tidak merasa kesepian di kamarnya.

Dedikasi dan ketulusan Julio yang luar biasa itu, akhirnya membuahkan hasil yang manis, dalam beberapa hari berikutnya. Kondisi fisik June berangsur-angsur membaik, suhu tubuhnya kembali normal, hingga akhirnya sang sahabatnya itu dinyatakan pulih total dari demamnya.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, ketika June akhirnya bisa kembali melangkah masuk melewati gerbang sekolah dengan seragam rapi dan senyuman tengil andalannya yang telah kembali. Hari-hari sepi Julio di kelas pun resmi berakhir, menyadari bahwa frekuensi kebersamaan mereka siap diukir kembali, di sisa-sisa masa SMA yang semakin singkat.

Next…


메타데이터
post_id
caaf880dbb3e
slug
the-last-blue-june-caaf880dbb3e
url
https://medium.com/@fallinlovee/the-last-blue-june-caaf880dbb3e
canonical_url
https://medium.com/@fallinlovee/the-last-blue-june-caaf880dbb3e
author_url
https://medium.com/@fallinlovee
status
ok
fetched_at
2026-06-16 19:09:56