Ruang yang hilang
disudut belakang kampus

Benyamin Lakitan
Ruang yang hilang
disudut belakang kampus
Kampus tak pernah lagi sama seperti yang di bayang-bayangkan, ia tak sama lagi seperti yang tertulis dalam buku “Takhta Mahasiswa” karangan Sinta Yudisia atau dalam catatan harian Gie. Kampus idealnya adalah gudang para intelek yang haus akan ilmu pengetahuan. Didalamnya tercipta kelompok-kelompok kecil yang mempertanyakan segala apa yang ada, bahkan yang abstrak sekalipun.
Ruang kecil disudut belakang kampus dahulu ramai berisik akan debat kusir tentang hal yang mereka dapatkan dari membaca buku. Paling sering memperdebatkan filsafat modern Nietzche atau Hegel atau Karl Max. Mereka akan sangat bangga ketika menghatamkan buku merah itu. Lain sudut, orang-orang biasa itu mendiskusikan sastra karangan Pramodya, Iksaka Banu, atau Buya Hamka. Jauh dibelakang, tercipta konferensi meja bundar adu jotos merunutkan peristiwa 65 dan mulai bermain konspirasi.
Itu dahulu,
Dewasa kini, kampus kehilangan satu ruang berharga yang menjadikannya disebut pabrik kecerdasan. Ruang-ruang dealektika perlahan menghilang selayaknya ruang misteri yang turut lenyap dari hati para penghuninya.
Ruang kecil itu perlahan tergusur, perlahan ditinggalkan oleh para penghuninya. Tercipta ruang-ruang baru yang didalamnya tak ada secarik kertas, atau naskah atau apapun yang bisa dibaca. Ruang dialektika itu perlahan lenyap ditelan laju mutasi gen homosapiens. Para homo modern sebagai penghuni baru kampus ini lebih senang berada dalam ruang-ruang berbeda, dalam layar kecil yang membatasi pandangan dan perhatian. Mereka menembus ruang dan waktu, namun tak sejengkal pun jiwanya sampai pada masa lalu dan belajar dari apa yang tertuang, terjadi, dan terpelihara dalam naskah-naskah sastra abadi.
Kampus kehilangan jiwanya bersamaan dengan tergusurnya ruang-ruang kecil disudut belakang kampus. Saat kelompok kecil dalam ruang itu tak lagi hidup, kampus tak ayalnya bangunan besar tanpa denyut intelektual.
Fenomena ini mestilah ditanggapi dengan bijak, para penghuni itu haruslah sadar bahwa mereka bertanggungjawab untuk membangun kembali ruang — ruang tergusur itu. Sebab kampus bukan hanya galian validasi, namun sabana ilmu dimana para pemikir berdialog dengan kafilah-kafilah kecil itu — meski hanya dari meja kecil di pojok sunyi.
메타데이터
- post_id
- caf88d4c7b97
- slug
- ruang-yang-hilang-caf88d4c7b97
- url
- https://medium.com/@muhammadnurrahmat68/ruang-yang-hilang-caf88d4c7b97
- canonical_url
- https://medium.com/@muhammadnurrahmat68/ruang-yang-hilang-caf88d4c7b97
- author_url
- https://medium.com/@muhammadnurrahmat68
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-17 01:05:21