Desain yang tidak lagi mengkomunikasikan
Kalian pernah ga sih ngerasa kalian capek banget, padahal kalian cuma duduk aja di motor atau cuma duduk diem pas lagi di angkot? rasanya…
Desain yang tidak lagi mengkomunikasikan
Kalian pernah ga sih ngerasa kalian capek banget, padahal kalian cuma duduk aja di motor atau cuma duduk diem pas lagi di angkot? rasanya tuh kaya energi kalian udah abis, padahal badan kalian ga banyak gerak. Kalau kalian ngeh, mungkin itu bukan karena kalian abis melakukan aktivitas yang berat atau rasa capek yang dateng karena kalian kepanasan or even polusi asap kendaraan, tapi itu datang dari mata kita yang bisa dibilang dipaksa untuk “menelan” banyaknya informasi yang bahkan diri kita sendiri ga minta di sepanjang jalan.
Misalnya ya, di sepanjang perjalanan kalian pasti lihat banyak banget informasi. Seperti spanduk warung pecel lele dengan warnanya yang iconic, yaitu kuning-hijau yang mencolok, poster konser dangdut yang tanggalnya udah lewat dua bulan lalu tapi masih nangkring disana, iklan sedot WC yang ditempel asal-asalan di tiang listrik, sampai ribuan wajah politisi yang tersenyum kaku di sepanjang pagar pembatas jalan. Dan mata kita seolah-olah ngga dikasih ruang buat istirahat buat sebentar aja.

Kondisi inilah disebut sebagai “Sampah Visual” oleh pengamat visual, bernama Sumbo Tinar Buko. Istilah ini sebenarnya sangat akurat. Sebagai contoh, kalau sampah plastik bikin kotor selokan dan tanah, sampah visual ini bikin kotor pikiran dan merusak kenyamanan mata kita. Ini merupakan bentuk polusi yang sering dianggap remeh, padahal dampaknya itu nyata banget.
Apa itu Sampah Visual?
Coba kalian bayangin, desain itu ibaratnya orang yang lagi kita ajak ngobrol. Desain yang bagus itu kaya temen kita yang bicara dengan sopan, jelas, dan tau kapan waktu yang pas buat ngomong. Tapi kalau di jalanan kita sekarang, ibaratnya kita lagi berdiri di tengah kerumunan ribuan orang yang semua berteriak pake toa di telinga kita secara bersamaan. Isinya beda beda, nadanya tinggi semua, dan ga ada yang mau ngalah.
Hasilnya kita ngga bakal denger satu kata yang jelas. Kita cuma ngerasain brisiknya dan malah jadi pusing sendiri. Sumbo Tinar Buko sering banget bilang bahwa ruang publik, seperti trotoar, taman, sampai langkit kota itu milik kita bersama. Tapi kenyataannya, ruang-ruang ini sering kali “dijajah” oleh iklan-iklan, spanduk yang dipasang sembarangan. Hal ini disebut “sampah” karena keberadaannya ngga memberikan manfaat informasi yang nyata, tapi malah mengotori pemandangan dan bikin kita ngga betah lama-lama di luar.
Fenomena paling nyata itu biasanya terjadi pas musim pemilu. Di masa-masa ini, setiap pohon, tiang listrik, sampai jembatan penyebarangan penuh banget sama yang namanya banner dan baliho calon anggota dewan. Niat awalnya mungkin baik, mau kenalan sama rakyat. Tapi karena jumlahnya yang terlalu banyak dan ditaro disembarangan tempat, alhasil fungsi komunikasinya malah jadi mati total. Jujur banget nih, izin, siapa sih yang bener-bener baca visi misi atau bahkan hafal nama dari banyaknya baliho yang ada di sepanjang jalan? probably no one.
Secara alami, otak manusia itu punya mekanisme pertahanan. Kalau ada terlalu banyak gangguan visual, otak kita otomatis nyalain filter. Kita tau ada banner disana, tapi informasinya cuma lewat aja di mata tanpa masuk ke kepala. Kita jadi “buta” secara sengaja karena mata kita udah terlalu capek. Inilah kegagalan terbesar dalam sebuah desain. Ketika niatnya mau menyampaikan informasi, tapi malah menciptakan “polusi” yang bikin orang liatnya aja udah males. Bukannya simpati yang didapat, masyarakat malah sering banget ngerasa kesal karena ruang hidupnya terasa sumpek.
Saya, sebagai mahasiswa desain grafis, melihat fenomena ini merasa cukup miris, sakit hati sekaligus gemas sendiri. Di kampus, kami diajarkan bahwa design is solution. Kami begadang cuma buat mikirin grid, jarak antar huruf (kerning), sampai pemilihan warna yang mempunyai filosofi kuat agar audiens yang melihat merasa nyaman saat melihat karya. Kami juga diajarkan untuk membuat “ruang kosong” atau white space supaya mata orang yang melihat bisa istirahat. Kami belajar visual hierarchy supaya orang-orang tau mana informasi yang penting dan mana informasi yang tambahan.
Tapi begitu keluar dari kampus, kenyataannya berbalik 180 derajat. Semua teori estetika dan etika komunikasi yang saya pelajari rasanya langsung hilang begitu saja. Saya melihat desain-desain yang “egois” karena banyak pembuatnya cuma berpikir “yang penting gede” atau “yang penting banyak”, tanpa mempedulikan apakah karya itu mengganggu orang lain atau ngga. Mereka ngga peduli soal user experience di ruang publik.
Bagi saya, banner iklan atau spanduk kampanye yang dipaku di pohon itu benar-benar sebuah visual disaster. Harusnya pohon-pohon di pinggir jalan itu jadi satu-satunya tempat mata kita bersitirahat melihat yang hijau-hijau di tengah gersangnya aspal. Bukan menjadi “papan iklan” dadakan yang dipaku sana-sini. Ini juga bukan cuma sekedar merusak pemandangan, tapi juga menunjukkan betapa rendahnya apresiasi kita terhadap lingkungan. Spanduk itu ngga lagi berfungsi sebagai media komunikasi, tapi menjadi “sampah visual” yang merampas hak kita untuk melihat pemandangan yang asri.
Kalau dipikir-pikir, dampak dari fenomena ini sebenarnya cukup mengerikan. Lama kelamaan, sampah visual ini membuat standar keindahan kita menjadi turun. Kita menjadi terbiasa melihat kota yang kumuh dan penuh “coretan” dimana-mana. Kita seolah-olah pasrah kalau hak kita untuk menikmati pemandangan langit yang bersih atau pepohonan yang hijau harus tertutup oleh kain-kain promosi yang sebentar lagi bakal jadi limbah. Kita pelan-pelan kehilangan sense of beauty karena setiap hari disuguhi pemandangan yang berantakan.
Sumbo Tinar Buko mengajak kita untuk lebih kritis. Kita harus menjaga ruang visual kita layaknya kita menjaga kebersihan rumah kita sendiri. Kita perlu menyadari kalau mata kita juga punya hak untuk beristirahat. Kita ngga wajib menerima semua sampah informasi yang dilemparkan ke hadapan kita di ruang publik. Our eyes deserve a break.
Menurut saya, sudah saatnya untuk para desainer, pemilik bisnis, sampai para politisi kembali ke dasar bahwa desain itu untuk manusia. Komunikasi yang efektif itu ngga harus disampaikan berkali-kali agar audiens paham. Terkadang, satu poster yang diletakkan di tempat yang tepat dengan pesan yang jujur dan visual yang bersih itu jauh lebih enak dibanding seribu banner yang menutupi trotoar di sepinggir jalan. Quality over quantity adalah prinsip yang harusnya kita pegang teguh.
Desain yang komunikatif adakah desain yang menghargai audiensnya. Memberi informasi tanpa harus mencuri perhatian secara paksa. Desain hadir untuk mempermudah hidup kita, bukan malah memperumit. Sebagai warga, kita juga harus mulai peduli. Kota yang keren bukan cuma kota yang bebas dari sampah plastik di got, tapi juga kota yang bebas dari sampah visual.
Sudah saatnya kita menuntut ruang publik yang lebih manusiawi. kita berhak punya kota di mana komunikasi bisa berjalan dengan tenang dan sopan, tanpa harus bikin mata kita lelah setiap kali melihatnya. Karena pada akhirnya, keindahan kota adalah cerminan dari cara kita menghargai satu sama lain di ruang bersama. Let’s claim back our visual space agar hidup di kota ngga lagi terasa sesak oleh informasi yang mengganggu kenyamanan kita.
메타데이터
- post_id
- cb0e3ed02408
- slug
- desain-yang-tidak-lagi-mengkomunikasikan-cb0e3ed02408
- url
- https://medium.com/@addyshiuly/desain-yang-tidak-lagi-mengkomunikasikan-cb0e3ed02408
- canonical_url
- https://medium.com/@addyshiuly/desain-yang-tidak-lagi-mengkomunikasikan-cb0e3ed02408
- author_url
- https://medium.com/@addyshiuly
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-10 21:21:38