← Back to list

Menjalani Hari-Hari yang Berat dengan Sedikit Lebih Ringan

Memberi jeda dan meningkatkan kemampuan menentukan skala prioritas

Dian Paramita Nugraharini in Lentera Literasi · 2026-07-07 13:50 · 0 claps · 3.5 min read
#lentera-literasi #psikologi #kesejahteraan-mental #refleksi-diri #nonfiksi
Open on Medium ↗

Menjalani Hari-Hari yang Berat dengan Sedikit Lebih Ringan

Memberi jeda dan meningkatkan kemampuan menentukan skala prioritas

Photo by Lewis Cameron on Unsplash

Photo by Lewis Cameron on Unsplash

Jurnal Harian: Dua minggu terakhir ini aktivitas di tempat kerja cukup padat. Masa liburan sekolah yang saya kira bisa menjadi waktu yang tepat untuk rehat sejenak dari kesibukan ternyata justru dipenuhi hari-hari yang padat dengan pertemuan demi pertemuan. Sebenarnya saya senang-senang saja menjalaninya, tapi ternyata faktor usia nggak bisa bohong ya, rasanya cukup melelahkan.

Masalahnya, dengan kondisi kesehatan mental yang saya alami, kelelahan fisik bisa menyebabkan kelelahan mental atau biasa disebut sebagai mental fatigue. Lelah fisik yang di luar batas bisa membuat suasana hati terjun bebas. Akibatnya dalam aktivitas keseharian jadi kontra produktif. Siang hari kelelahan tapi malam hari tidak bisa tidur. Hal ini bisa terjadi berhari-hari tanpa henti. Di tengah kesibukan, suasana hati justru naik turun. Sulit sekali memotivasi diri untuk bangun dari tempat tidur dan memulai aktivitas sehari-hari.

Saya tidak tahu sumber masalahnya di mana. Tapi sepertinya sih ketidakmampuan untuk menentukan skala prioritas menjadi penyebab utamanya. Rasanya semua ingin dikerjakan, segala hal terlihat penting dan darurat dalam waktu yang sangat terbatas. Ingin menyelesaikan segalanya dalam jangka waktu singkat justru membuat tidak ada satu pun yang terselesaikan. Saya jadi menyadari bahwa akhir-akhir ini saya memiliki masalah fokus dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Regulasi emosinya sih oke, tapi rentang fokusnya singkat sekali.

Akhirnya saya menyempatkan diri untuk kontrol ke Psikolog sebelum berangkat ke tempat kerja pagi ini. Hanya sekedar untuk mencurahkan isi hati dan mencari second opinion yang netral untuk melihat pokok persoalan. Karena dalam situasi yang sangat melelahkan bagi fisik dan mental, terkadang kita tidak bisa melihat suatu persoalan dengan jernih dan kepala dingin. Butuh pihak lain untuk membantu mengingatkan mana yang perlu dikesampingkan terlebih dahulu dan mana yang perlu diprioritaskan.

Memang begitulah saya. Di saat-saat yang berat, saya memilih untuk tidak memikul beban itu sendirian. Saya bukan Superman. Saya lebih suka disebut sebagai the Avenger Team. Black Widow. Saya tidak suka memikul beban sendirian. Saya lebih menghargai kerja tim dalam menyelesaikan suatu persoalan. Bukannya tidak bisa mandiri, namun saya percaya kerja tim akan memberikan hasil akhir yang lebih baik ketimbang bekerja sendirian. Terutama dalam hal meminta bantuan tenaga kesehatan professional.

Saya tidak suka merasa frustrasi sendirian. Jika saya bisa membagi beban dengan teman senasib sepenanggungan, maka hal itulah yang akan saya prioritaskan. Maka itulah yang saya lakukan. Saya lebih memilih untuk datang ke tempat kerja lebih sering dan lebih awal di masa liburan, demi bisa mengerjakan tugas bersama rekan-rekan guru yang lain ketimbang membawa pekerjaan rumah dan mengerjakannya sendirian. Selain karena faktor saya juga butuh untuk bersosialisasi, alasannya ya seperti yang sudah saya jelaskan di atas.

I know my limit. Saya tahu batasan saya. Maka saya menolak untuk mengerjakan yang melampaui batas kemampuan saya. Saya membagi beban hari demi hari ke dalam bagian-bagian kecil.

Dalam tulisan Mas Prof. Riza Putranto disebutkan bahwa kemampuan untuk bertahan dari stressor dalam menjalani kehidupan keseharian salah satunya adalah dengan menerapkan Prinsip Psychological Flexibility atau fleksibilitas mental. Bagaimana kita berusaha untuk tetap memiliki pikiran dan sikap terbuka terhadap perubahan yang terjadi dalam kehidupan yang dapat meningkatkan kesejahteraan mental seseorang.

Tulisan Mas Riza tentang Prinsip Psychological Flexibility:

[embed]Jalani Satu Hari Demi Satu Hari Chapter #335 — Menulis Satu Halaman, 6 Juli 2026medium.com

Saya memaknainya sebagai cara seseorang untuk bisa beradaptasi terhadap tekanan dan perubahan dalam kehidupan dengan berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan saat ini. Bahwa sikap yang terlalu kaku justru akan menjebak kita dalam stress dan kecemasan yang berlebihan. Bagaimana keterbukaan pikiran dan fokus terhadap hal-hal yang kita hadapi saat ini, pada apa yang ada di hadapan kita saat ini akan mampu mengurangi risiko terjadinya kecemasan akan masa depan.

Bagaimana cara kita menghadapi stressor kehidupan sehari-hari dalam hari-hari yang terasa berat menjadi tanggung jawab diri kita sendiri. Dengan mengenali dan lebih memahami diri sendiri dan berfokus pada apa yang bisa kita lakukan, kita lebih memahami batas kemampuan dan kelemahan diri. Bukan untuk menyerah, namun untuk mengatur strategi dalam menjalani hari demi hari. Tetap menentukan skala prioritas meskipun hari terasa begitu singkat dan melelahkan. Di antara kepadatan pekerjaan, memprioritaskan kesehatan dan kewarasan bisa membantu menjaga produktivitas dalam menyelesaikan pekerjaan.

Kadangkala cara untuk bertahan adalah dengan menjalaninya satu demi satu, semampu kita. One step at a time. Memilih untuk melambat dan berfokus pada satu pekerjaan semampu kita daripada muncul keinginan untuk menyelesaikan segalanya sekaligus. Tentu kita semua punya batasan; baik itu kemampuan fisik, mental, kognitif, maupun sosial.

Dalam era dimana kita sering merasa kebanjiran informasi digital, maka memilih untuk melambat dan berjeda, memilah-milah mana yang bisa kita prioritaskan untuk dilakukan meskipun hanya sedikit, lebih baik daripada berusaha melakukan segalanya namun tidak tuntas. Bahkan memilih untuk menikmati secangkir teh di pagi hari sebelum memulai aktivitas, bermain dengan hewan kesayangan sejenak sebelum kembali menyelesaikan pekerjaan mampu meningkatkan kesejahteraan mental kita di tengah padatnya kesibukan.

Perjalanan mengenali diri sendiri merupakan salah satu hal yang paling krusial untuk dipelajari sepanjang rentang masa kehidupan. Kalau bukan kita yang berusaha mengenali dan menyayangi diri kita sendiri, lalu siapa lagi? Berusaha untuk berjeda, melambat, dan menjalani hari demi hari bisa menjadi bukti bahwa kita tetap berusaha bertahan di tengah besarnya tekanan kehidupan. Satu hal yang perlu diingat; kamu tidak sendirian, dan meminta bantuan bukanlah suatu tanda kelemahan.

Semangat untuk terus melanjutkan hidup bagi kita semua..

Sekian.


메타데이터
post_id
cb106b8913c7
slug
menjalani-hari-hari-yang-berat-dengan-sedikit-lebih-ringan-cb106b8913c7
url
https://medium.com/lentera-literasi/menjalani-hari-hari-yang-berat-dengan-sedikit-lebih-ringan-cb106b8913c7
canonical_url
https://medium.com/lentera-literasi/menjalani-hari-hari-yang-berat-dengan-sedikit-lebih-ringan-cb106b8913c7
author_url
https://medium.com/@firstlumos
status
ok
fetched_at
2026-07-09 13:13:48