← Back to list

Jalan-Jalan dan Perform Akhir Tahun

Short Story Special Natal dan Tahun Baru dari “In The End of The Park”

Yuuki_icenfire0803 · 2024-12-28 16:12 · 0 claps · 7.7 min read
#yinwar #fanfiction #alternative-universe #short-story #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 🔭 · Astronomy & Space ✍️ · Writing & Creative

Jalan-Jalan dan Perform Akhir Tahun

Short Story Special Natal dan Tahun Baru dari “In The End of The Park”

[embed]

Di pagi hari saat matahari sudah cukup panas menyingsing dan sorot sinarnya sudah mulai sangat menyilaukan, itulah tanda waktunya untuk siapapun yang sedang bermain tenis agar segera menghentikan segala aktivitasnya.

“Piwo~ PHIIII!!”

Tak lama ada suara laki-laki menggema dari arah tribun dekat jalan yang dibatasi dengan jaring-jaring besi. Pria itu terlihat mengoyak-oyak jaring-jaring itu agar tercipta suara sehingga orang yang sedang dipanggilnya mau menoleh kearahnya.

KRANCANG…. KRANCANG….

Bekali-kali Ia mengoyak-oyak sampai Pria yang sedang membereskan peralatannya di tengah lapangan dengan terburu-buru itu menyahut, “AI YIIINN!! SEBENTAAARR!!”

Dan akhirnya, Pria yang dipanggil “Piwo” itu berlari menuju ke arah luar lapangan sambil mengalungkan tasnya ke pundak.

“Piwo nanti mandi di rumah, ya! Mama sudah nungguin buat sarapan, abis itu kita jalan-jalan ramean.” Kata Pria yang sedang menyetir itu sambil mengangkat alisnya bersamaan dengan senyum jahilnya yang mengembang menutupi kedua matanya.

Pria yang ada disebelahnya tentu saja langsung terbelalak, mulutnya menganga, seakan masih tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya!

“Ai Yiiinnn!! Yang benar saja?? Masak Aku ketemu Mamamu keringetan begini??”

“Mana, mana…” Yin mengendus-endus ke sekitaran leher dan lengan Si Pria berkulit cerah itu,

“Nggak ada bau kok~ wangi, selalu wangi dan… cantik!” Kata Yin sambil mengedipkan sebelah matanya. Kelakuannya itu tentu saja membuat Pria yang dipanggilnya “Piwo” tersebut tersenyum malu lalu memalingkan mukanya ke depan. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi kelakuan Pacar brondongnya itu.

Tak lama, sampailah mereka di depan sebuah rumah berlantai 2 berpagar besi warna hitam yang langsung di sambut oleh gonggongan anjing sebanyak 3x sampai Si Empunya gonggongan keluar.

“Zuluuuuu!” Pekik War begitu keluar dari mobil Yin dan langsung memeluk anjing jenis Siba berwarna Orange itu.

Yin yang masih sibuk membuka pintu belakang mobil untuk mengambil tas dan peralatan tenis War memperhatikan keduanya dengan senyuman, lalu mengikuti Pacar imutnya dan Zulu yang terlebih dahulu masuk ke dalam area rumah di belakangnya.

Aw! Anak-anak Mama sudah datang rupanyaaa!” Seorang wanita paruh baya cantik langsung menyambut mereka!

Wanita cantik itu merupakan Ibu Yin yang langsung menemui War dan memeluk Pria mungil nan menggemaskan itu erat.

“Hemmmm pasti abis tenisan ya?” Selidik Beliau.

“Ehehe… iya, Ma.”

“Yaudah, mandi dulu gih di kamar Yin! Ada bawa baju ganti nggak?”

War menepuk jidatnya yang langsung dimengerti oleh Sang Ibu, “Kali ini lupa bawa apa?”

“Celana dalam….” Kata War setengah berbisik di dekat telinga Si Ibu.

“Pakai punya Yin!” Balas Beliau juga dengan setengah berbisik.

“Tapi beda size Maaaa…” Rengek War yang membuat Sang Ibu langsung memasang wajah takjub dan mengangguk pelan, kemudian mendekat ke arah War sampai benar-benar berdempet.

“Kok tau? Pernah nyoba ya?” Deg! Mampuslah!

Bagai hendak dihujam meteor, War langsung menelan ludahnya dalam-dalam yang membuat si Ibu tertawa terbahak-bahak.

“Canda~ Mama udah tau.” Kata Si Ibu santai sambil berjalan ke arah meja makan dan mengayunkan tangannya agar War mengikutinya.

“Jadi Mama suruh Yin buat prepare barang-barang ukuran Kamu~” Brak! Suara pintu ditutup. “Tuh, tanya anaknya!” Kata Ibu sambil menunjuk ke arah Yin yang baru saja masuk dan menutup pintu rumah. War menoleh dan Si yang dimaksud cuma melihat keduanya dengan ekspresi kebingungan setelah mendapati wajah Kekasihnya yang ternyata sudah memerah, merona dan menyala.

War tampak grusah-grusuh mendorong Yin untuk segera masuk ke dalam kamarnya dan segera menutup pintu,

“Kamu serius punya celana dalam ukuranku??” Tanya War setengah berbisik begitu Yin dan Ia masuk ke dalam kamar. Si Empunya kamar cuma mengangguk dan War langsung memasang wajah syok, lalu mundur sampai ke kasur Yin untuk duduk.

“Emang kenapa?”

“Mama… Mama tadi bilang kalau Beliau tau kita-”

“Oh jelas!” War mendongak yang dibalas dengan senyuman jahil Yin, “Insting seorang Ibu~”

War seketika berdiri, lalu meraih bantal terdekat dari tangannya dan melemparkannya ke badan Yin, “Dasar Kamu itu yaaaa!!”

Tapi sayang sekali, Yin berhasil menangkapnya dengan gemilang. “Mamaku masuk buat ambil cucian kotor dan Aku lupa buat tutup pintu…jadi yaaa~…..hehe.” Jawab Yin sambil cengengesan.

War menepuk jidatnya untuk yang kedua kali. Bagaimana Dia baru sadar kalau memang pacar brondongnya ini terkenal punya tabiat yang teramat sangat sembrono?

“Udah ah! Aku mau mandi! Kamu keluarrr… keluaaarr!!”

War mendorong Yin keluar dari kamar dan menutupnya. Yin agak keheranan, tapi Dia memilih untuk tidak memikirkannya dan pergi menuju ke tempat dimana Mama dan Kakaknya berada.

Setelah selesai mandi War baru menyadari jika closet kamar mandi Yin sudah terbagi dua. Seperti ada dua bagian warna disana. Di satu sisinya terdiri dari barang-barang berwarna gelap, dan di sisi lainnya berisi barang-barang berbagai warna. Dan saat Ia mendekat, barulah War tahu jika barang-barang berwarna-warni itu sebagian besar adalah barang-barang yang sama dengan apa yang ada di kamar kosnya. Termasuk mainan, sikat gigi dan skincare-nya. War tersenyum. Dia tak menyangka jika Yin akan sangat memperhatikan detail semacam itu, karena secara tidak sadar inilah yang membuatnya merasa sangat dijaga dan diperhatikan oleh Yin. War semakin jatuh dan jatuh lagi dengan pesona Yin Anan.

Tak lama, War pun keluar dengan baju bersih yang sudah Ia bawa dari tempat kosnya tadi. Namun tiba-tiba entah kenapa Dia malah teringat jika benar-benar menemukan ada kotak berisi celana dalam yang masih baru berlabelkan ukurannya di dalam lemari Yin! Otomatis kepalanya langsung mendidih dan dirinya benar-benar malu hingga berpikir untuk tidak ingin berjalan lagi dan kembali ke dalam kamar. Tapi suara Kakak Yin yang baru datang dari luar membuyarkan pikiran semrawutnya itu.

“Loh? Ngapain cuma diem aja War? Ayok ke ruang makan!” Kata Jai dengan membawa beberapa buku, headphone dan beberapa benda lain ditangannya. Tampaknya tadi Dia keluar untuk mengambil barang-barang tersebut di mobilnya.

Setelah semua berkumpul di meja makan, Ibu Yin membuka pembicaraan dengan mengatakan akan pergi jalan-jalan bersama. Sekalian setelah menjemput Papa Yin yang mengantar Nenek untuk check up rutinan di Rumah Sakit.

“Tadi Papa-nya mereka berdua nggak bawa mobil karena Nenek tiba-tiba minta pergi naik bus. Yasudah, Kita turuti saja maunya Nenek bagaimana.”

“Lalu sekalian, deh Kita semua jemput Nenek dan Papa trus jalan-jalan~” Ah~ War yang diberi tahu alasan kenapa tiba-tiba ada agenda jalan-jalan itu mengangguk-angguk paham. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah, kenapa Dia juga diajak?

“Dan Adik Iparku ini,” Jai yang duduk tepat di samping War itu tiba-tiba merangkul pundak War yang hampir membuat Pria itu tersedak, ”Harus ikut!”

Yin kesal mendapati Kakaknya itu sok akrab dengan pacarnya langsung menarik tangan Sang Pacar agar jaraknya lebih dekat dengan dirinya dan rangkulan Sang Kakak dapat terlepas.

“Cih! Yang cembukor!! CEMBURU SAMPEK EKOR!!”

“Lu kira GueH ZULU?!” Kata Yin sambil berusaha memukul Jai dari balik rangkulannya ke War.

“Lu pan Bapaknya, pe-ak!” Balas Jai dengan berusaha mencari celah untuk menghindar tapi juga berusaha balas memukul Yin.

“Lu Kakeknya berarti, dodol!”

“EH! Udah! Malah ribut bukannya makan!”

Namun pada akhirnya, “The Final Boss” yang sebenarnya tetaplah Ibu mereka berdua.

[embed]

Akhirnya tibalah mobil keluarga itu di jalan depan halaman Rumah Sakit, dimana Nenek dan Papa Wong sedang menunggu. Papa membukakan pintu tengah agar Nenek bisa masuk yang langsung disambut oleh Mama dan semua anggota keluarga. Tak terkecuali War yang duduk di samping Yin di kursi depan dan Jai yang duduk di kursi belakang bersama Zulu. Anjing Siba itu menggonggong beberapa kali, tanda jika Dia juga sedang bersemangat.

Nenek duduk diantara Mama dan Papa Wong yang sejak tadi sibuk mengobrol bersama Jai, tanpa mereka sadari jika Nenek sedari awal sibuk memperhatikan orang yang duduk di samping cucunya yang tengah menyetir itu.

“Kamu siapa?” Akhirnya suara Nenek keluar yang membuat seisi mobil terdiam.

War yang merasa jika dirinya lah yang dimaksud langsung menoleh dan tersenyum cukup canggung, “Nama Saya War, Nek-”

“Dia Phi War, Nek. Pacar Yin.” Sambung Yin yang langsung membuat War menoleh ke arahnya dengan tampang terkejut.

Ohhh… Jadi ini yang katanya Pacar Yin itu, yaaa… cantik, ya?” Kata Nenek sambil terus memandangi wajah War tanpa berkedip. Tentu saja War merasa malu dan bilang “terima kasih” dengan suara yang sangat kecil sampai hampir tak terdengar.

Yin yang melirik ke arah pacarnya itupun tersenyum, apalagi setelah melihat wajahnya yang memerah dengan lesung pipinya yang tajam. Ingin sekali Ia mencubiti pipi yang menggemaskan itu rasanya jika Pria tersebut tidak ingat kalau Ia sedang menyetir.

“Cantik, ya? Tampan, imut juga Dia!” Kata Nenek sambil melihat ke arah Mama dan Papa Wong secara bergantian. “Pintar, ya Yinyin nyarinya!”

“PPFFTTT!!” Begitu mendengar pujian Nenek, Jai langsung menahan tawa. Yin yang merasakan hawa ledekan Jai itu langsung berubah ekspresi. Senyumnya hilang seketika.

“Kalau saja Nenek tau siapa yang mulai pedekate duluaaann~” Ledek Jai lagi.

“Jai jomblooooo!!! Pokoknya ZAI ZOMVLOOOOO!!” Balas Yin dengan lebih agresif!

War dan semua orang yang mendengar logat aneh Yin itupun langsung tertawa terbahak-bahak, kecuali Jai yang langsung memberikan tanda tunjuk yang mengarah ke kaca dashboard sambil melotot. Sedangkan Yin membalasnya dengan rollingan mata dan membuka mulutnya serta hidungnya lebar-lebar ke arah kaca tersebut agar terlihat oleh Jai. Kedua Kakak Beradik ini terus melakukan rutinitas ledek-ledekannya sampai mobil itu tiba di lokasi yang dituju, yaitu pasar malam yang terletak di taman area tengah kota.

Suasana saat itu masih temaram, khas suasana sore menjelang malam yang terkesan romantis. Langit masih terbilang cerah karena hari itu seharian sangat full sinar matahari tanpa ada mendung barang sedikitpun, sehingga lumayan banyak sekali pengunjung yang datang kesana. Rombongan ini pun berjalan-jalan mengitari pasar malam sampai ke area restoran. Di sini pengunjungnya agak sedikit karena kebanyakan anak-anak dan para remaja pergi ke tempat bermain dan hiburan lainnya sedangkan para orang tua akan menunggu anak-anak mereka disini. Di area restoran ini juga terdapat panggung mini dengan peralatan band lengkap sehingga orang-orang yang sedang makan di area ini akan mendapatkan pertunjukkan secara live, sangat keren!

Setelah mencari tempat, akhirnya semua orang pun duduk di tempatnya masing-masing kecuali Jai yang memilih untuk pergi berjalan-jalan dengan Zulu ke area permainan hewan peliharaan. Kemudian Mama menawari Papa dan Nenek untuk memesan makanan dan minuman. Setelah memutuskan apa yang mereka mau, Mama pun mengajak War dan Yin untuk ikut bersamanya.

Saat menunggu pesanan Papa dan Nenek jadi, Mama menawari mereka berdua untuk membeli sesuatu juga tapi War menolak karena dirinya masih merasa kenyang dari makan siang yang Ia makan tadi. Tapi Mama tetap bersih keras,

“Yakin War nggak mau apa-apa? Pumpung masih di area food court loh!” War tampak berpikir keras. Melihat Pacarnya yang bingung, Yin akhirnya berinisiatif.

“Gimana kalau beli minuman aja? Yang seger-seger, gitu?”

War mengangguk senang, “Eum! Boleh!” Jawabnya.

Akhirnya, belilah mereka berdua jus mangga dan jus jeruk ukuran jumbo untuk dibawa masing-masing. Mama terlihat senang sekali melihat anak-anaknya yang sangat rupawan.

“Eh? Berhenti dulu coba, diem disitu kalian berdua!”

Yin dan War yang asyik bercengkrama itupun kaget dengan intrupsi tiba-tiba dari sang Mama.

“Sini bawaan kalian! Taruh dulu!”

“Ini juga Ma?” Tanya Yin sambil menyodorkan minumannya.

“Enggak, enggak….. Nggak usah! Mundur dikit! NAAAH!” Kata Mama memberikan isyarat sambil fokus ke arah kamera ponselnya. Kedua anak itu sebenarnya agak bingung, sejak kapan Mama mengeluarkan ponselnya?

“Oke, sip! Angle-nya bagus nih! Pose, pose jangan lupa! Yak! 1, 2, 3, SENYUUUM!!”

Dan CKREK! Foto War dan Yin pertama, yang di tangkap setelah mereka resmi menjadi pasangan kekasih telah berhasil diabadikan!

Tak lama, terdengar alunan musik dari panggung live di tengah area restoran. Lagu “Night Changes” dari “One Direction” yang diiringi dengan instrumen akustik itu membuat suasana di pasar malam semakin hangat, bertabur dengan kerlap-kerlip lampu dekorasi yang memenuhi setiap tiang dan dinding-dindingnya. Perayaan di penghujung tahun pertama yang War lewati bersama dengan seseorang yang berharga selain keluarga dan teman-temannya, yaitu dengan Pacar Terkasihnya, Yin.

“We’re only gettin’ older, baby And I’ve been thinkin’ about it lately Does it ever drive you crazy Just how fast the night changes? Everything that you’ve ever dreamed of Disappearing when you wake up But there’s nothing to be afraid of Even when the night changes It will never change, me and you”


메타데이터
post_id
cb4ce0dbeabf
slug
jalan-jalan-dan-perform-akhir-tahun-cb4ce0dbeabf
url
https://medium.com/@ekayuuki/jalan-jalan-dan-perform-akhir-tahun-cb4ce0dbeabf
canonical_url
https://medium.com/@ekayuuki/jalan-jalan-dan-perform-akhir-tahun-cb4ce0dbeabf
author_url
https://medium.com/@ekayuuki
status
ok
fetched_at
2026-07-21 12:21:33