Berita Favorit Saya
Catatan Pengamatan
Berita Favorit Saya
Catatan Pengamatan

Yes! Saya akhirnya sangat gembira menemukan video sebuah pabrik yang mengolah sampah. Ini berita yang sangat bagus. Hal ini mengingat betapa melimpahnya sampah yang tidak diolah, bahkan sampai menimbulkan bencana.
Baca gratis di sini.
[embed]*Sampah, Energi yang Melimpah Ruah tapi Disia-siakan *Catatan Penelusuran medium.com
Pabrik itu menghasilkan atap seperti asbes yang berwarna-warni. Warnanya memang unik karena merupakan cacahan plastik yang beraneka ragam. Akan tetapi, karena ukurannya hampir sama, sehingga terlihat indah.


TikTok Jerhemynemo
Atap hasil pengolahan sampah ini juga lebih kuat jika dibandingkan dengan asbes biasa ketika diuji dengan cara dilindas oleh kendaraan.
https://vt.tiktok.com/ZSQGthVPa/
Hasil dari sampah dari rumah tangga, restoran, warung, atau kebun, bisa dipakai untuk pakan magot (sejenis ulat) yang bisa digunakan untuk pakan hewan. Produk ini juga bisa dikeringkan, sehingga lebih awet.
Bahan baku yang melimpah ruah tetapi bercampur, membutuhkan pemilahan. Akhirnya diperlukan tenaga kerja untuk membantu proses produksi. Ini adalah kesempatan pihak pabrik berkolaborasi dengan masyarakat. Peluang untuk meningkatkan ekonomi terbuka lebar, dan inilah yang seharusnya terjadi dengan proyek-proyek yang dibuat oleh pemerintah.

Oleh karena itu, saya senang sekali saat menemukan video Pertamina dan BRIN yang mau mendukung pengolahan sampah menjadi Petrasol. Di Banjarnegara kegiatan ini sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dengan bertambahnya penghasilan, maka daya beli masyarakat meningkat, sehingga pertumbuhan ekonomi menyebar ke pelosok-pelosok. Mereka akan lebih sering berbelanja dan akhirnya masyarakat bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.
Wisata-wisata alam atau kuliner warga setempat memiliki peluang untuk membantu masyarakat menambah penghasilan. Jika daya beli kecil, orang akan menahan diri, sehingga lalu lintas ekonomi melambat.
Anggaran negara, tentu sangat diperlukan terhadap kebutuhan yang tidak terjangkau, seperti biaya kuliah. Saya rasa, kalau untuk makan, tentu sebagian besar masyarakat bisa, tetapi hanya berapa persen yang mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi?
Dunia ini terus menghasilkan sampah, dan ketidakpedulian manusia sebenarnya akan berdampak pada kehidupan manusia itu sendiri. Kita sedih saat terkena penyakit, tetapi sering lupa bagaimana penyakit itu sering ditimbulkan oleh manusia sendiri.
Foto oleh Sebastian Pena Lambarri di Unsplash
Contohnya adalah pencemaran, baik di udara, tanah, maupun air. Penduduk kota-kota besar terkena polusi dari kendaraan bermotor dan asap pabrik. Tanah dengan sampah logam dan bahan kimia, serta air dengan pencemaran bahan kimia dan mikroplastik. Bisa dibayangkan, bagaimana makanan yang seharusnya bergizi tinggi justru berpotensi membahayakan manusia.
Krisis global yang membuat harga minyak dunia melambung. Mau tidak mau membuat masyarakat, terutama pebisnis, baik skala kecil maupun besar terkena dampaknya. Harga turunan dari minyak bumi misalnya plastik untuk pembungkus mengalami kenaikan yang signifikan.
Bahkan kresek yang banyak diberikan gratis oleh pedagang kecil, juga memengaruhi berkurangnya pendapatan. Tetangga saya pedagang nasi jagung juga mengeluh.
Namun, sebenarnya ada “sedikit” hikmah dari peningkatan harga ini. Seperti minimarket yang sudah beberapa waktu lalu menerapkan ini, mungkin sudah saatnya kita mengubah kebiasaan terlalu banyak memakai kantung plastik, menjadi tas kain atau plastik yang bahannya lebih mudah hancur. Bisa juga memakai tas kertas jika tidak terlalu berat.
Foto oleh Archer Fu di Unsplash
Dulu saya heran saat menonton film di luar negeri, orang menggendong kantong kertas cokelat setelah berbelanja di supermarket. Negara maju ternyata sudah menerapkan itu sejak lama. Memang sulit mengubah kebiasaan yang sudah menjadi budaya, tapi bukan berarti tidak mungkin. Kalau di minimarket bisa, tentunya di pasar tradisional juga bisa.
Saya ingat dulu nenek membawa keranjang jika berbelanja. Bahan makanan misalnya bawang juga banyak dibungkus dengan daun pisang atau kertas, lalu dimasukkan keranjang. Bahkan tali yang mengikat sayuran juga terbuat dari bambu atau daun pisang.
Selalu ada hikmah di balik sebuah peristiwa atau keadaan. Saya rasa dengan kembali ke alam, seperti pemakaian daun pisang untuk membuat lontong, misalnya, jauh lebih aman jika dibandingkan dengan pemakaian plastik. Pada suhu tinggi, plastik malah bisa meleleh dan mencemari makanan.
Saya juga menemukan video pembuatan konfeti (confetti) yang terbuat dari daun kering. Konfeti adalah potongan-potongan kecil kertas berwarna-warni atau bahan logam mengilap yang biasanya disebarkan atau dilemparkan ke udara untuk merayakan suatu momen bahagia.
Foto oleh Jason Leung di Unsplash
Saat ini, ketika orang semakin sadar terhadap lingkungan, maka konfeti yang diminati justru terbuat dari bahan alami karena mudah terurai. Tinggal menyemprotkan parfum agar terasa mewah. Peluang ekspor ini juga bisa meningkatkan penghasilan.
Terima kasih sudah berkenan membaca.
메타데이터
- post_id
- cb64da4cbfe8
- slug
- berita-favorit-saya-cb64da4cbfe8
- url
- https://medium.com/cerita-uang-perekonomian/berita-favorit-saya-cb64da4cbfe8
- canonical_url
- https://medium.com/cerita-uang-perekonomian/berita-favorit-saya-cb64da4cbfe8
- author_url
- https://medium.com/@putrimelati0873
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 20:33:08