← Back to list

Nina: Teruntuk yang dicintai sedalam palung, tumbuhlah.

Lagu Nina muncul sebagai manifestasi yang tersusun dari keping rasa syukur dan kebahagiaan.

V. · 2025-11-16 04:08 · 0 claps · 6.9 min read
#feast #hindia #nina #song-lyrics #healing
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧠 · Mental Wellness 🎵 · Music & Audio

Nina: Teruntuk yang dicintai sedalam palung, tumbuhlah.

Ketika membicarakan tentang dirayakan secara benar dan sabar, di kepalaku, lagu Nina muncul sebagai manifestasi yang tersusun dari keping rasa syukur dan kebahagiaan.

[embed].Feast — Nina.

Saya menulis catatan ini sesederhana terlalu mengagumi bagaimana seluruh aspek dari lagu Nina terasa begitu sempurna, namun terasa sangat dekat dengan hidup kita yang dibentuk tanpa kisi-kisi. Jadi untuk tulisan setelah ini, saya akan membahas mengapa dalam setiap liriknya, memeluk diri kecil saya dan menemani proses pendewasaan yang setiap hari semakin membingungkan untuk dijalani.

Kita mungkin sudah mendengar banyak lagu dari .Feast tentang sebuah perlawanan dari opresi yang melilit leher kita sebagai manusia-manusia di bawah kukungan pemegang kuasa absolut. .Feast sendiri adalah sebuah band asal Indonesia yang dibentuk pada tahun 2013 yang lirik-lirik lagunya sebagian besar berorientasi pada kesadaran sosial dan pandangannya terhadap politik. Saya sendiri sangat suka mendengar “Berita Kehilangan”, dan “Peradaban”. Lagu-lagu ini adalah salah dua dari lagu .Feast yang berisik untuk tetap berani melawan akan ketimpangan yang mengakar dalam sistem sosial karena terus-terusan disiram oleh kepatuhan yang dipaksa.

Namun, pada 5 Juli tahun 2024, .Feast muncul dengan single baru dengan judul, Nina. Sebuah perbedaan yang cukup segar dengan makna lirik yang tidak berkaitan dengan makna beberapa lagu sebelumnya. Orang-orang pun mulai menari mendengar lagu tersebut, meneriakinya, menyanyikannya, menikmatinya. Melihat semua itu, saya tidak menyalahkan reaksi mereka.

Nina diambil dari nama anak gitaris .Feast yaitu Adnan Satyanugraha. Secara sederhana, lagu Nina adalah lagu yang menceritakan tentang kedalaman kasih sayang yang diberikan oleh orang tua untuk anaknya. Namun, saya melihat bahwa lagu Nina bukan hanya tentang pelukan hangat atau sepotong kue kering yang dinikmati sore hari bersama teh hangat di depan teras rumah. Lagu Nina adalah manifestasi yang tersusun dari keping rasa syukur dan kebahagiaan kemudian dirajut sebagai pelindung dari segala sakit yang dunia kasih secara cuma-cuma.

Potongan lirik pada bait pertama memberikan sentuhan pengenalan sederhana yang langsung menyentuh. Saya memeluk lirik ini dengan penuh kasih sayang. Membayangkan kita harus jauh dengan orang yang kita kasihi sebab hidup harus terus berlanjut namun dengan harga yang tidak sedikit membuat kita mengais harap di kota-kota dengan lampu jalan yang enggan padam.

Sebagai pekerja, meninggalkan rumah tentu akan membawa kita pada kesendirian yang penuh. Dunia nyata di depan harus terus kita hadapi sendiri karena demi orang yang kita sayangi, mengarungi segala sakit dan lelah adalah hal kecil yang akan terus kita lakukan agar orang rumah tetap bertumbuh dan suatu saat dapat menemukan jalannya sendiri. Meski artinya, kita harus mengorbankan waktu dan jarak menjadi berkurang.

Potongan ini kemudian memberikan lanjutan bahwa kita yang pergi, akan kembali lagi untuk memeluk orang-orang rumah sebab waktu sendiri itu luruh di depan pintu masuk. Hangatnya rentangan tangan yang membungkus tubuh dan suara gelak tawa menyapu segala berisik tentang kekalahan yang sempat kita hadapi dan berenang di kepala saat di perjalanan pulang. Hal itu terus berlanjut, sampai tidak terasa, detik menjadi menit pun berubah menjadi tahun-tahun yang menumpuk.

Lirik ini seakan menyampaikan bahwa apa yang kita pegang dalam kesendirian, adalah tabungan yang kita simpan agar nanti orang-orang yang kita sayangi siap untuk merasakan kesunyian dalam proses bertumbuh dan menjadi dewasa yang tidak lagi hanya dikelilingi oleh pekerjaan rumah dari guru di sekolah, namun juga tanggung jawab sebagai manusia yang bisa memanusiakan sesama.

Kemudian, dorongan untuk mengatakan tumbuh lebih baik dibanding diri kita seakan menjadi tamparan bagi konstruksi sosial yang berenang di lingkungan tempat kita hidup, karena seringkali membuat kita tidak memiliki kesempatan yang sama. Hal itu pun membawa kita pada hidup yang sedang kita jalani sekarang, dimana hal inilah yang menjadi dasar untuk silakan berkelana sejauh mungkin demi menemukan setitik kesempatan agar orang yang kita kasihi dapat hidup dengan idealisnya, sebab nanti, waktu akan perlahan-lahan menggoyahkan semua itu.

Setelah kita dipeluk dan dituntun dengan hangat dan pelan dari potongan-potongan lirik sebelumnya, bait ini mulai mengajarkan dengan hati-hati tentang proses bertumbuh yang tidak terelakan. Kita akan menua dan berpulang. Mereka yang sudah mulai dewasa perlahan-lahan akan mulai memahami tentang dinamika dunia, sehingga pertanyaan-pertanyaan rumit akan mulai bermunculan.

Oleh sebab itu, menurut saya bagian ini adalah tempat dimana kita mulai menyadari bahwa semuanya tidak bisa selesai dalam waktu yang cepat dan tidak semua pertanyaan punya jawaban saat itu juga. Maksudnya, ada begitu banyak sesal yang tercipta dari keputusan-keputusan ceroboh yang kita buat di masa lalu, dan hal itu membentuk diri kita yang sekarang.

Namun, di tengah kebingungan yang melayang-layang di udara, membuat seisi rumah penuh akan penolakan dan lara, tidak akan sebanding dengan jahatnya dunia di luar sana. Hal ini menurut saya tercermin pada lirik-lirik tersebut. Segala pertengkaran yang telah terjadi, tidak akan menghapus tekad untuk selalu memberikan yang terbaik dan menginginkan mereka yang kita sayang untuk bisa hidup di sisi dunia yang lebih lunak dan mengampuni.

Kita sampai pada lirik ini. Saya merasa potongan bait ini mengusap kepala saya dengan lembut dan menepuk pelan punggung saya di penghujung hari yang melelahkan. Lirik ini seakan menghargai kerapuhan yang hidup dalam diri kita yang jarang kita tunjukkan ke orang lain. Lirik pertama benar-benar sangat butuh untuk saya dengarkan. Karena kita tahu diri kita yang sudah menutup begitu banyak luka akibat menaklukan hari-hari yang menyeramkan juga butuh uluran tangan untuk menarik kita pada jurang patetis.

Diri kecil saya direngkuh dengan hati-hati, melindungi saya dari kejamnya dunia dan seisinya. Menjadi salah satu simbol bahwa seberapa kuatnya kita, bantuan orang lain tetap akan kita butuhkan, dan sebaliknya. Sehebat apapun orang yang kita sayang, bagi kita, mereka adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk dibiarkan melakukan apapun sendirian. Pemikiran kita tidak sanggup membayangkan segala redup yang akan datang menghampirinya harus mereka hadapi seorang diri. Oleh sebab itu, untuk menghapus kebisingan di kepala, kita kerap kali akan bersembunyi dalam bayang demi memastikan mereka tidak sendiri menghadapi takut dan hantu yang bergentayangan.

Hal ini juga membuat saya melihat bahwa lirik tersebut juga memiliki sudut pandang yang beragam. Saya melihat seolah-olah lirik tersebut diucapkan untuk diri sendiri agar mau untuk hidup satu hari lebih lama dan mampu bertahan di tengah paceklik yang mencekik setiap harinya. Selain itu, saya juga bisa melihat bahwa lirik tersebut diucapkan oleh orang tua untuk anaknya, oleh kakak untuk adiknya, oleh seorang teman, oleh orang asing yang kita temui di tengah jalan, oleh mereka yang lebih dulu berpulang.

Pada potongan terakhir, kalimat-kalimatnya sangat apik untuk dijadikan sebuah konklusi. Karena pada akhirnya, siklus ini akan terus berlanjut. Kita yang dulunya berperang setiap hari untuk bisa menyediakan nasi di meja makan, akan menua dan berpulang. Saat dewasa, mereka yang kita tinggali akan merasakan kesunyian yang sama. Disakiti dengan cara yang beragam, dikhianati dengan orang yang selalu kita pikirkan, atau susah menelan saat makan ketika rasa sakit di bawah dagu mulai mengunjungi sebab menahan air mata untuk tidak turun akan dicecapnya.

Awalnya saya berpikir, lagu ini terlalu sederhana. Namun, ketika setiap pulang kerja, di jalanan yang sepi, lagu ini menemani pemberhentian saya ketika lampu merah menyala. Membuat saya memahami, bahwa kesunyian itu terasa memabukkan sekaligus menyesakkan. Hal ini kemudian membuat saya merubah sudut pandang, kalau lagu ini.. terlalu dekat.

Saya berterima kasih dan sangat mengapresiasi .Feast karena telah berbagi kedalaman kasih sayang yang mereka rasakan kepada orang-orang yang mereka cintai melalui lagu yang penuh dengan harapan. Lagu ini menemani saya dalam sepi, membuat kesendirian itu tidak terlalu berisik.

Hampir setiap hari di bulan September, di perjalanan menuju tempat saya bekerja, bahkan saat perjalanan pulang di malam hari, lagu Nina menemani diri saya. Menjadi teman di jalanan yang riuh akan suara klakson mobil dan suara ambulans yang buru-buru untuk ke rumah sakit, bahkan di lampu merah, saat anak-anak yang di pagi hari saya lihat berjualan nanas masih berada di sana. Lagu Nina seakan hidup untuk menunjukkan bahwa saya dan mereka sama-sama sedang mengembara dan tumbuh — dengan harapan — lebih baik.

Mungkin catatan ini tidak akan sampai untuk dibaca langsung oleh anggota dari .Feast sendiri, tapi saya hanya ingin menuliskan, bahwa lagu Nina menyembuhkan sebagian luka dan sesal yang diri kecil saya miliki. Lagu Nina menemani diri kecil saya yang diintimidasi sebab tidak memiliki orang tua yang lengkap, membantu saya tetap berani untuk berbicara di depan umum walau tangan dan suara saya gemetar, merangkul tubuh kecil saya yang malu setelah mengucapkan nama panjang yang asing terdengar, menghibur saya karena orang-orang mengejek diri kecil saya yang berbeda dari yang lain.

Selain itu, saya juga menulis catatan ini setelah menonton postingan di **akun media sosial** yang memperlihatkan seorang ibu yang menaruh anaknya di bahu kemudian bernyanyi secara tulus dan apa adanya. Perasaan mentah dan mendalam itu terasa sangat lembut, membuat saya yakin, hidup yang terlalu banyak memberi luka, akan lunak apabila kita mau menyayangi dengan tanpa tetapi, dan tanpa mengapa. Teruntuk ibu dan calon ibu, kalian luar biasa.

Saya menulis catatan ini untuk mengapresiasi orang-orang yang telah menyayangi saya tanpa tetapi dan tanpa mengapa. Terima kasih karena telah membuat saya merasakan menjadi Nina yang direngkuh dengan lembut dan dicintai dengan pelan dan benar. Terakhir, untuk semua Nina di luar sana, saya berharap kamu bisa tumbuh dan cari panggilanmu. Kamu tidak hidup untuk orang lain, kamu hidup untuk dirimu sendiri. Jadi, silakan mengembara jauh dan rayakan setiap langkah kecilmu sebab kamu pantas untuk hidup di sisi dunia yang isinya terasa lunak dan ramah akan presensimu.


메타데이터
post_id
cb6c7572f0e2
slug
nina-teruntuk-yang-dicintai-sedalam-palung-tumbuhlah-cb6c7572f0e2
url
https://medium.com/@lilynorth/nina-teruntuk-yang-dicintai-sedalam-palung-tumbuhlah-cb6c7572f0e2
canonical_url
https://medium.com/@lilynorth/nina-teruntuk-yang-dicintai-sedalam-palung-tumbuhlah-cb6c7572f0e2
author_url
https://medium.com/@lilynorth
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01