← Back to list

Antara Cinta, Pengorbanan, dan Untung Rugi

Pikiran-pikiran itu selalu saja menghantui setiap kali aku patah hati atau menyukai seseorang. Bahwa ketika aku mencintai seorang…

Fermionisme · 2026-07-14 08:47 · 0 claps · 1.4 min read
#cinta #kapitalisme #kepemilikan
Open on Medium ↗
Wiki topics: AIM · AI in Marketing

Antara Cinta, Pengorbanan, dan Untung Rugi

Pikiran-pikiran itu selalu saja menghantui setiap kali aku patah hati atau menyukai seseorang. Bahwa ketika aku mencintai seorang perempuan, aku harus menjadikannya pasanganku. Aku harus memilikinya. Ada keharusan yang memaksa di sini. Jika tidak bisa menjadikannya sebagai pasangan, aku akan sakit hati, kecewa, bahkan mungkin marah.

Saat aku sudah mengeluarkan banyak hal untuk membuat dia tertarik padaku. Mengeluarkan harta benda bahkan mengorbankan waktu paling berharga untuknya, tetapi ternyata dia sama sekali tidak tertarik untuk menjadi pasanganku. Aku akan merasa rugi. Seolah, perasaan ini adalah komoditas yang bisa dihitung untung-ruginya.

Aku pikir memang hampir setiap orang memiliki pemikiran yang sama denganku soal ini. Rupanya, komodifikasi kapitalisme tidak hanya berada di ruang produksi. Ia telah merambah masuk ke dalam hubungan manusia yang paling intim, hubungan asmara.

Dari Tolstoy aku belajar, bahwa orang yang dengan menyatakan cintanya dia sedang menipu dirinya sendiri. Bahkan lebih buruk lagi, dia menipu orang lain. Mungkin, karena kita tidak pernah benar-benar belajar mencintai. Kita sejak kecil sudah diajari untuk memiliki.

Kalimat “aku mencintaimu” sering berarti — “aku butuh kamu ada” atau “aku takut kalau kamu pergi”. Atau yang paling jujur dan paling jarang diakui — “aku ingin kamu menjadi milikku.” Kata “cinta” di sini diminta menanggung hasrat, ketakutan, kesepian, dan kebutuhan akan pengakuan sekaligus.

Kapitalisme mengajari kita bahwa segala sesuatu punya nilai guna. Tanpa sadar kita bawa logika itu sudah merambah ke ranjang. Pasangan jadi sumber daya. Ia harus terus memproduksi rasa aman, perhatian, kehadiran. Ketika ia berhenti memproduksi, kita bilang cinta kita “mati”. Padahal yang mati mungkin bukan cintanya. Tapi ilusi yang kita ciptakan sendiri.

Cinta yang tidak butuh memiliki itu ada. Tapi ia sunyi dan tidak fotogenik. Ia tidak datang dengan rasa memuncak. Ia datang dengan kesediaan membiarkan orang lain tetap menjadi orang lain. Kebanyakan dari kita tidak mau itu. Kita mau seseorang yang menjadi “milik kita”. Seseorang yang kehadirannya bisa kita andalkan seperti utilitas.

Kita mau cinta yang bisa diverifikasi, yang bisa dibuktikan, yang tidak pergi kalau tidak diizinkan. Jadi ketika seseorang berkata “aku cinta padamu” dengan mata berkaca-kaca dan suara yang gemetar — mungkin ia memang jujur. Tapi jujur tentang apa, itu pertanyaan lain. Tentang cintanya. Atau tentang rasa takut kehilangan sesuatu yang ia anggap sudah menjadi miliknya. Keduanya terasa sama dari dalam. Itu yang membuatnya berbahaya.


메타데이터
post_id
cbb13c019eeb
slug
antara-cinta-pengorbanan-dan-untung-rugi-cbb13c019eeb
url
https://medium.com/@fermionisme/antara-cinta-pengorbanan-dan-untung-rugi-cbb13c019eeb
canonical_url
https://medium.com/@fermionisme/antara-cinta-pengorbanan-dan-untung-rugi-cbb13c019eeb
author_url
https://medium.com/@fermionisme
status
ok
fetched_at
2026-07-26 01:38:54