← Back to list

03:00 am

https://pin.it/1krjLSLMA

Sel 𝜗ৎ · 2026-05-03 13:41 · 0 claps · 2.2 min read
#thoughts #3amthoughts #feelings
Open on Medium ↗

03:00 am

https://pin.it/1krjLSLMA

https://pin.it/1krjLSLMA

Belakangan ini, jam tiga pagiku terasa kosong.

Dulu, waktu di jam yang sama selalu terasa terlalu cepat. Seolah-olah malam sengaja memendek hanya agar percakapan kita tidak perlu berakhir terlalu lama.

Minggu kemarin kita membahas bagaimana jika Milea tetap menahan Dilan malam itu. Kamu bilang ceritanya mungkin akan selesai lebih cepat aku bilang justru akan lebih rumit. Dan harusnya minggu ini kita mengkritik Spiderman, memperdebatkan keputusan Peter Parker yang menurutmu bodoh dan menurutku manusiawi. Lalu lusa, seperti biasa, kita akan berdebat hal yang tidak penting: matcha atau seasalt coffee.

Hal-hal kecil yang, entah bagaimana, terasa seperti sesuatu yang harus selalu ada.

Dimulai dari pembahasan konyol, diikuti tawamu yang menggantikan sunyi malam, diselingi pertanyaan retorismu yang kadang menyebalkan, lalu ditutup dengan ucapan selamat tidur. Semuanya perlahan masuk, tanpa permisi, menjadi rutinitas dalam empat bulan tiga hari terakhir hidupku.

Sejak saat itu, aku mulai ragu membedakan kebiasaan dan kebutuhan.

Awalnya terasa sederhana. Hanya percakapan. Hanya waktu yang kebetulan sama. Hanya dua orang yang sama-sama belum ingin tidur. Tapi lama-lama, aku mulai menyadari bahwa tidak semua hal yang diulang akan tetap menjadi biasa. Beberapa di antaranya berubah menjadi sesuatu yang diam-diam kita butuhkan, tanpa pernah kita akui.

Dan mungkin, aku terlambat menyadari itu.

Pikiranku melayang jauh, mencoba mengingat kembali jam tiga pagi sebelum ada kamu. Aku mencoba mengingat apa yang biasanya kulakukan, apa yang biasanya kupikirkan, atau siapa yang biasanya ada. Namun, yang kutemukan hanyalah keganjilan yang sunyi — seperti membuka kembali halaman lama yang tulisannya sudah tidak lagi bisa kubaca.

Sial, kebiasaan-kebiasaan lamaku kini terasa seperti bahasa yang tak lagi kupahami.

Aku merasa asing dengan diriku yang dulu, seolah ia adalah seorang pengelana yang bahkan tak pernah kukenali namanya. Ia pernah hidup dalam waktu yang sama, di jam yang sama, tapi dengan cara yang sepenuhnya berbeda. Dan sekarang, aku tidak yakin apakah aku bisa kembali menjadi dia.

Atau apakah aku masih ingin.

Aku pikir, aku telah benar-benar kehilangan rutinitas itu sejak kehadiranmu — menjadimu satu-satunya ritme yang kupahami.

Lucunya, yang berubah bukan hanya ketika kamu pergi, tapi juga cara aku merasakan waktu setelahnya. Jam tiga pagi tidak lagi terasa seperti tempat yang harus kutuju, melainkan ruang yang harus kulewati.

Beberapa kebiasaan pergi lebih lambat dari pemiliknya.

Tanganku masih sering bergerak, seolah ada sesuatu yang harus dimulai. Pikiranku masih menyiapkan hal-hal acak untuk dibicarakan. Bahkan, di beberapa malam, aku hampir lupa bahwa tidak ada lagi yang perlu kutunggu.

Refleks itu masih ada, meski tujuannya sudah tidak.

Mungkin sekarang, pemilik tahi lalat di bawah mata kiri itu sedang mengumpat kebodohan Peter Parker, atau si kacamata eyecat masih menentang matcha pahitmu dengan cara yang sama seperti dulu. Dengan tawa yang sama, di waktu yang sama.

Aku tidak tahu pasti.

Yang kutahu, kini hanya ada aku dan kesunyian malam yang terasa berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi sunyi yang netral, tapi sunyi yang menyimpan sisa-sisa sesuatu yang pernah ada.

Aku mencoba mengisinya. Dengan musik, dengan tulisan, dengan hal-hal yang seharusnya cukup untuk mengalihkan. Tapi selalu ada bagian yang terasa tidak tergantikan

seperti ruang yang tetap kosong, meski sudah diisi oleh hal lain.

Dan mungkin, memang tidak semua ruang diciptakan untuk diganti.

Beberapa hanya dibiarkan kosong, agar kita ingat bahwa pernah ada sesuatu di sana.


메타데이터
post_id
cbbd9b296c2b
slug
03-00-am-cbbd9b296c2b
url
https://medium.com/@sel./03-00-am-cbbd9b296c2b
canonical_url
https://medium.com/@sel./03-00-am-cbbd9b296c2b
author_url
https://medium.com/@sel.
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30