Pernikahan Usia Remaja
Cintanya siap, mentalnya siap, nggak?
Pernikahan Usia Remaja
Cintanya siap, mentalnya siap, nggak?
Populernya pernyataan ”Capek kerja, ah, mau nikah aja,” terutama di kalangan gadis menimbulkan banyak pro dan kontra. Kalimat tersebut seakan memberikan ilusi bahwa pernikahan adalah solusi bagi permasalahan finansial, dari rasa bosan, dari kesepian, dari rasa disambut, dan lainnya. Namun benarkah pernikahan merupakan solusi bagi permasalahan hidup? Menurut dr. Andreas Kurniawan, Sp. KJ, mungkin pada beberapa orang pernikahan berhasil menjadi solusi bagi permasalahan hidupnya. Namun ada istilah yang disebut survivorship bias, yaitu kecenderungan untuk hanya fokus pada orang atau hal yang berhasil lolos dari suatu proses seleksi dan mengabaikan mereka yang gagal, sehingga menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Survivorship bias lebih mudah dijelaskan melalui contoh, seperti pernyataan ”Ah, kakek saya merokok masih sehat aja sampai 78 tahun, masih panjang umur.” Pernyataan tersebut termasuk survivorship bias karena orang-orang yang meninggal di usia muda akibat merokok tidak dapat menyampaikan pandangannya. Kita cenderung mengabaikan fakta orang-orang yang gagal pada situasi tersebut dan hanya berfokus pada orang-orang yang berhasil bertahan. Maka, kita perlu berhati-hati terhadap pernyataan ”Tidak apa-apa menikah muda, mumpung sudah ada jodohnya, rejeki pasti menyusul,” karena informasi tersebut merupakan data yang belum utuh. Kita harus tetap mencari data orang-orang yang berhasil bertahan dan orang-orang yang gagal pada situasi tersebut.
Photo by Prince Onyedikachi Edeh on Unsplash
Pasal 7 Ayat (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai usia 19 tahun. Pemerintah menetapkan batas minimal usia perkawinan 19 tahun dengan harapan akan menurunkan resiko kematian ibu dan bayi, serta memberikan akses terhadap individu untuk memperoleh pendidikan setinggi mungkin sebelum membangun rumah tangga. Namun kenyataannya, masih banyak pasangan di bawah usia 19 tahun yang mengajukan permohonan dispensasi kawin ke pengadilan. Pengadilan dapat menyetujui permohonan dispensasi kawin tersebut dengan alasan sangat mendesak disertai bukti-bukti yang cukup bahwa tidak ada pilihan lain sehingga terpaksa harus dilangsungkan perkawinan.
Menurut dr. Andreas Kurniawan, Sp. KJ, jika dilihat dari aspek perkembangan otak, menikah di bawah usia 21 tahun cenderung beresiko. Karena pada manusia, bagian otak yang berkembang terlebih dahulu adalah otak emosional dibandingkan otak logika (prefrontal cortex). Makanya pada usia remaja, kita lebih mudah untuk merasa marah, merasa senang, dan merasa jatuh cinta. Di sisi lain, otak logika baru matang di sekitar usia 21–25 tahun. Perasaan cinta yang dirasakan oleh remaja ini tidak salah, namun menikah adalah keputusan yang memerlukan pertimbangan matang, sedangkan otak logika belum berkembang secepat otak emosinya. Khawatirnya, rasa penyesalan atas keputusan menikah muda akan timbul setelah menjalaninya bertahun-tahun.
Photo by Tim Mossholder on Unsplash
Teori Psikososial Erik Erikson membagi tugas perkembangan manusia ke dalam 8 tahap, yaitu trust vs mistrust (0–1,5 tahun), autonomy vs shame/doubt (1,5–3 tahun), initiative vs guilt (3–5 tahun), industry vs inferiority (5–13 tahun), identity vs role confusion (13–21 tahun), intimacy vs isolation (21–40 tahun), generativity vs stagnation (40–65 tahun), dan integrity vs despair (di atas 65 tahun). Berdasarkan teori tersebut, sesungguhnya tugas perkembangan remaja adalah mencari jati diri (identity vs role confusion), bukan mencari cinta (intimacy vs isolation). Oleh karena itu, seseorang yang memutuskan untuk menikah di usia remaja beresiko mengalami krisis identitas karena jati dirinya belum dieksplorasi secara maksimal.
Di budaya patriarki tradisional, anggapan bahwa kodrat perempuan hanya pada urusan sumur, dapur, dan kasur seringkali membuat pendidikan bagi anak perempuan dikesampingkan. Apabila pendidikan dikesampingkan, perkembangan kognitif akan berpotensi tidak optimal. Apalagi di era media sosial seperti sekarang, konten-konten pendek yang belum teruji kebenarannya membuat kemampuan berpikir kritis semakin berkurang. Padahal setiap anak perempuan adalah calon ibu yang akan mendidik generasi penerus bangsa. Sampai saat ini, sekolah masih menjadi sarana terbaik bagi seseorang untuk memperoleh pendidikan karena ilmu-ilmu yang dipelajari dapat dipertanggungjawabkan. Atas dasar tersebut, individu diharapkan dapat menyelesaikan wajib belajar 13 tahun terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menikah.
Photo by Ludmila Pashkevych on Unsplash
Biasanya terdapat segelintir orang yang mewajarkan pernikahan usia remaja karena dikaitkan dengan usia pernikahan istri Rasul. Untuk menjawab hal ini, kita harus memahami perbedaan antara chronological age (usia seseorang yang dihitung secara kronologis berdasarkan waktu sejak ia dilahirkan hingga saat ini), biological age (usia tubuh seseorang yang mencerminkan kondisi biologis dan fisiologisnya, bukan sekadar jumlah tahun sejak lahir), dan mental age (tingkat kematangan fungsi mental dan emosional seseorang yang mencakup cara berpikir, mengelola emosi, mengambil keputusan, dan merespons situasi, tidak selalu sejalan dengan usia biologis atau kronologis). Memang benar organ reproduksi pada remaja sudah mulai berfungsi sehingga biological age untuk menikah sudah terpenuhi. Namun istri Rasul merupakan manusia pilihan Tuhan yang pastinya memiliki mental age yang berbeda dengan remaja biasa seperti kita, meskipun dalam chronological age yang sama.
Jadi, bagi remaja yang memiliki keinginan untuk menikah muda, alangkah baiknya untuk menyadari dan merefleksikan diri terlebih dahulu terkait alasan ingin menikah. Setelah menyadari alasannya, penting untuk mengecek kesiapan diri dalam menikah. Kesiapan seseorang untuk menikah tidak hanya dinilai dari usia, tetapi juga dari kesiapan mental, finansial, serta kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi dengan pasangan. Kita juga bisa berlatih untuk fleksibel dalam rencana menikah karena ”Kalau tidak sekarang, memang kenapa?” Namun penting juga bagi masyarakat untuk tidak terburu-buru menghakimi ketika mengetahui ada seseorang yang akan menikah muda. Cobalah untuk berempati dengan mendengarkan alasan dari pihak terkait.
메타데이터
- post_id
- cbdcee45d75c
- slug
- pernikahan-usia-remaja-cbdcee45d75c
- url
- https://medium.com/@tiaraims/pernikahan-usia-remaja-cbdcee45d75c
- canonical_url
- https://medium.com/@tiaraims/pernikahan-usia-remaja-cbdcee45d75c
- author_url
- https://medium.com/@tiaraims
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-14 16:15:44