A4: Kisah Selembar Kertas
Sebuah reels di IG menayangkan seseorang dengan menggebu-gebu menjelaskan mengapa ukuran kertas A4 adalah 297 x 210. Ia, saya belum tahu…
A4: Kisah Selembar Kertas

Sebuah reels di IG menayangkan seseorang dengan menggebu-gebu menjelaskan mengapa ukuran kertas A4 adalah 297 x 210. Ia, saya belum tahu siapa namanya, menjelaskan bahwa rasio panjang (P) dibagi lebar (L) kertas A4 adalah 1.414285714285714 atau ≈ √2. Mengapa harus √2?
Karena hanya rasio ini yang tetap sama ketika kertas dilipat dua secara sejajar dengan sisi pendeknya. Artinya, jika kita melipat A4 menjadi dua, hasilnya A5 (210 x 148), dan bentuknya geometris identik, yakni tidak berubah proporsinya. Kebalikannya, bila A4 kita perbesar menjadi A0 maka luasnya setara dengan 1 meter persegi.
Secara matematis, jika panjang (P) dan lebar (L) maka rasio L/W ≈ √2. Jadi saat dilipat dua, luasnya menjadi setengah, tetapi rasionya tetap √2. Hal ini berarti sistem ini self-similar — sifat yang jarang terjadi dalam rasio bilangan rasional.
Sulit rasanya mengabaikan insight yang terpantik oleh reels tersebut. Ada sesuatu yang menenangkan dalam selembar kertas A4. Ia datar, putih, terukur. Tidak lebihan dan tidak kurang.
Namun, di balik kesederhanaan bentuknya, tersembunyi harmoni matematis yang nyaris puitis — warisan dari dua tokoh yang hidup di abad berbeda, namun berpikir satu gagasan yang sama: mencari keindahan dalam keteraturan.
Semua bermula pada tahun 1786, saat seorang fisikawan-filsuf Jerman bernama Georg Christoph Lichtenberg menulis surat kepada Johann Beckmann. Dalam surat itu, ia mengusulkan agar seluruh ukuran kertas distandardisasi berdasarkan satu prinsip tunggal: panjang dan lebar harus berbanding √2.
Alasannya sederhana, namun jenius: jika sebuah persegi panjang dengan rasio √2 dilipat dua, bentuknya tetap sama. Tidak ada distorsi. Proporsinya abadi.
Lichtenberg tak hanya berbicara tentang kertas; ia membahas rasio yang mengikuti hukum alam. Ia melihat kemungkinan bahwa manusia dapat hidup dalam dunia yang tertata oleh logika, di mana setiap bidang — sekecil selembar kertas surat — tunduk pada prinsip keindahan matematis yang universal.
Namun dunia abad ke-18 belum siap. Revolusi Industri baru menyala, dan gagasan Lichtenberg terabaikan sebagai formula yang terlalu indah untuk diterapkan, too good to be true.
Lebih dari seabad kemudian, seorang insinyur bernama Dr. Walter Porstmann menangkap jejak-jejak ide Lichtenberg. Pada tahun 1922, di tengah semangat modernisme yang melanda Eropa pasca-Perang Dunia I, ia memperkenalkan sistem ukuran kertas baru bernama DIN 476.
Dalam sistem tersebut, A0 ditetapkan memiliki luas tepat 1 meter persegi, dengan rasio panjang-lebar √2. Dari ukuran ini lahirlah turunan-turunannya: A1, A2, A3, A4, dan seterusnya — masing-masing setengah dari ukuran sebelumnya, namun tetap serupa dalam proporsi.
Porstmann, seperti Lichtenberg, tidak hanya memikirkan efisiensi. Ia menemukan keindahan dalam pengulangan. Ia menyebut sistem ini sebagai eine harmonische Ordnung der Flächen — “tatanan harmonis antar bidang.”
Dalam pandangannya, dunia modern harus efisien bukan karena dingin dan mekanis, melainkan karena rasionalitas itu sendiri adalah bentuk keindahan yang paling tinggi.
Kertas seri A ciptaannya adalah contoh sempurna dari gagasan itu. Lipat A4 menjadi dua, jadilah A5. Lipat lagi, A6. Rasio √2 tetap bertahan, seolah ada prinsip geometris yang menjaga identitasnya dari generasi ke generasi. Satu bentuk melahirkan bentuk lain tanpa kehilangan jati diri — seperti manusia yang mewarisi proporsi semesta.
Ketika Porstmann memperkenalkan sistemnya, dunia tengah mencari standar baru: satuan panjang, berat, waktu, hingga arsitektur administrasi modern. Dan kertas, entah bagaimana, menjadi simbol kecil dari revolusi itu.
Pada tahun 1975, sistem ini diadopsi secara global menjadi ISO 216, dan sejak itu A4 menjadi bahasa geometris yang sama di seluruh dunia — dari arsip kementerian di Berlin sampai surat cinta yang ditulis di Yogyakarta.
Namun, di balik fungsi administratifnya, tersimpan sesuatu yang lebih halus. Rasio √2 adalah bilangan irasional — tak bisa dinyatakan dengan pecahan, tak pernah berhenti dalam desimalnya. Artinya, di dalam keteraturan sistem ini, masih ada misteri.
Di tengah dunia yang ingin segalanya terukur, ada satu unsur yang menolak untuk disederhanakan. Barangkali, di sanalah letak keindahannya, seperti kata-kata Pearl S. Buck:
Order is the shape upon which beauty depends.
“Keteraturan adalah bentuk yang menjadi dasar bagi keindahan.”
A4 adalah wujud kecil dari itu: keteraturan yang menampung ketidakteraturan. Ia adalah keseimbangan antara geometri dan puisi, antara logika dan ruang putih tempat imajinasi menampakkan diri.
Di tangan manusia, selembar A4 bisa menjadi dokumen hukum, sketsa bangunan, lembar ujian, atau bahkan surat perpisahan — semuanya berawal dari bidang yang sama, berproporsi √2 : 1.
Lichtenberg mungkin tidak pernah membayangkan ide matematisnya akan hidup dua abad kemudian, dan Porstmann mungkin tak menyangka kertas rancangannya akan menyentuh hampir setiap tangan manusia di planet ini. Namun begitulah kekuatan sebuah gagasan yang lahir dari logika murni sering kali bertahan lebih lama daripada yang lahir dari sekadar trend kontemporer.
Maka, setiap kali kita menatap selembar A4, kita seharusnya melihat lebih dari sekadar media tulis. Kita sedang menyaksikan perjumpaan antara rasio dan harmoni, antara pikiran dan realitas.
Kertas adalah simbol kecil dari keyakinan manusia modern: bahwa segala sesuatu dapat diatur, diukur, dan disatukan — namun di dalamnya, tetap ada ruang bagi ketakterjelasan yang membuat hidup terasa manusiawi. Darinya, dari kumpulannya yang berisikan gagasan manusia, terciptalah buku yang dalam kata-kata Carl Sagan:
What an astonishing thing a book is. It’s a flat object made from a tree with flexible parts on which are imprinted lots of funny dark squiggles. But one glance at it and you’re inside the mind of another person, maybe somebody dead for thousands of years. Across the millennia, an author is speaking clearly and silently inside your head, directly to you. Writing is perhaps the greatest of human inventions, binding together people who never knew each other, citizens of distant epochs. Books break the shackles of time. A book is proof that humans are capable of working magic (Cosmos, Bab 11: The Persistence of Memory, 1980)
Saya berhutang insight kepada Instagram sebagaimana saya berhutang budi kepada Lichtenberg dan Porstmann, yang produk modernnya, berupa buku yang seindah ungkapan Sagan. (*)
메타데이터
- post_id
- cbe85c0eec3b
- slug
- a4-kisah-selembar-kertas-cbe85c0eec3b
- url
- https://medium.com/@dodikurniawan71/a4-kisah-selembar-kertas-cbe85c0eec3b
- canonical_url
- https://medium.com/@dodikurniawan71/a4-kisah-selembar-kertas-cbe85c0eec3b
- author_url
- https://medium.com/@dodikurniawan71
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 05:02:48