Menjelajah Pulau Buton: Antara Alam Indah dan Sejarah yang Terlupakan
Ketika berubahnya pandangan saya dalam melakukan traveling.
Menjelajah Pulau Buton: Antara Alam Indah dan Sejarah yang Terlupakan
Ketika berubahnya pandangan saya dalam melakukan traveling.

Photo by author
Saya telah memasuki bulan ketiga di pulau Buton ini. Sudah cukup banyak tempat-tempat yang saya kunjungi. Karena biasanya, setelah sibuk mengajar, saya dan temanku akan berjalan-jalan ke tempat wisata. Mulai dari pantai, air terjun, pemandian, dan warung kopi yang letaknya strategis.
Wisata alam di pulau Buton memang pantas diancungi jempol. Dengan pantai-pantai yang memiliki pasir putih dan bersih, air terjun yang asri dan memanjakan mata, dan pemandian yang masih asri. Dan semua itu tidak puas jika hanya dikunjungi cuma sekali.
Mungkin kekurangan —menurut saya — dipulau Buton dalam hal wisata alam cuma satu: yaitu tidak ada gunung yang layak di daki. Mungkin ada beberapa gunung dipulau ini, tapi saya kurang yakin apakah bisa didaki dengan mudah dan aman. Sebab, yang saya khawatirkan, jalur pendakian belum tercipta dengan baik, sehingga rawan terjadi tersesat.
Tapi itu tidak jadi masalah bagi saya. Meskipun mendaki adalah salah satu hobi saya. Karena saya sudah cukup puas mendaki di Jawa. Sebab, gunung-gunung di Jawa lebih banyak dan terkenal ketimbang di Sulawesi. Dan saya sudah merasakan kerasan tinggal di pulau Buton ini. Hingga muncullah suatu perkataan dari seorang warga lokal yang membuat saya cukup terusik.

Photo by author

Photo by author

Photo by author
Pada suatu hari, ketika saya telah selesai berenang dipantai Nirwana, dikota Baubau (kota terbesar dipulau Buton). Saya istirahat disuatu warung.
Seperti biasa, saya sangat senang untuk mengobrol hal-hal kecil dengan penjaga warung itu. Dengan semangat saya kisahkan perjalanan saya di pulau ini selama 3bulan lamanya. Mulai dari perjalanan ke pantai Nirwana (yang baru saja dilakukan), air terjun, dan pemandian.
Tiba-tiba penjaga warung itu berkata, “Mas, kalau kamu selama 3 bulan ini belum ke keraton Kesultanan Buton, berarti keberadaanmu masih belum dianggap di pulau ini. “
Seketika aku terheran. Kok bisa tidak dianggap keberadaan saya disini jika belum mengunjungi wisata Keraton Kesultanan Buton. Emang ada apa disana, pikir saya. “Kok bisa Pak? Emang ada apa disana? “ Spontan saya bertanya.
Sejak pertama kali kaki saya menginjakkan di pulau ini, saya sudah mendengar ada wisata sejarah Keraton Kesultanan Buton. Tapi minat saya masih belum ingin kesana. Karena yang saya ketahui, di sana ada Benteng Kesultanan Buton dan situs-situs sejarah lainnya. Tapi mengenai wisata sejarah, minat saya masih kurang. Prioritas saya saat itu masih kepada wisata alam yang memiliki pemandangan yang menakjubkan. Maklum, kebutuhan postingan di medsos. Hehehe.
“Disana adalah wilayah Keraton Kesultanan Buton dengan bentengnya yang ikonik itu. Dan didalamnya terdapat batu yang bernama Wolio, yang konon, semua orang Buton yang ingin diakui sebagai rakyat Kesultanan Buton harus mengunjunginya dulu. “
“Kepercayaan itu masih melekat dimasyarakat Buton. Maka ketika orang Buton sudah merantau lama, ketika ia kembali, ia harus mengunjungi batu tersebut. Supaya diakui lagi sebagai penduduk pulau Buton. “ Tutur penjaga warung itu panjang lebar.
"Apakah ada situs bersejarah lain di sana selain benteng?" tanyaku, terdengar agak meremehkan.
"Kalau kamu cuma mencari tempat foto, mungkin itu bukan tempatnya. Tapi kalau kamu mencari sejarah dan budaya lokal, maka inilah tempatnya, nak!"
"Apakah kamu tahu sejarah Kesultanan Buton dan pulau ini selama tiga bulan terakhir?"
Tiba-tiba, penjaga warung itu mengajukan pertanyaan yang tajam, membuat saya terdiam.
Karena saya diam cukup lama, penjaga warung melanjutkan ceramahnya.
"Jadi, nak, pulau ini adalah salah satu daerah di nusantara yang tidak pernah dijajah oleh Belanda."
Pemilik warung itu memulai ceramahnya dengan fakta sejarah yang cukup mengejutkan.
Karena saat saya mempelajari sejarah nusantara, saya hanya tahu bahwa Aceh dan Bali adalah daerah yang tidak pernah dijajah oleh Belanda.
Saya tetap diam, lebih tepatnya, terdiam kagum. Saya ingin merespons dengan ekspresi kekaguman, tapi saya sudah merasa malu karena lebih mengutamakan atraksi alam dibandingkan yang bersejarah.
Pemilik warung melanjutkan ceramahnya.
"Dan alasan mengapa Belanda tidak bisa menaklukkan pulau ini adalah karena kekuatan bentengnya. Bahkan, Kesultanan Buton mampu mengalahkan armada Belanda dalam tiga pertempuran. Mengesankan, bukan? Itu adalah kebanggaan kami!"
Kali ini, saya tidak bisa menyembunyikan ekspresi kekagumanku di hadapan pria itu. Saya benar-benar terkejut dengan sejarah yang telah dibagikan oleh penjaga warung.
Kemudian, saya berulang kali mengucapkan terima kasih kepada pria itu karena telah mengubah cara pandang saya tentang aktivitas perjalanan saya.
Dengan rasa ingin tahu, saya mencari tahu benteng tersebut di Google untuk memeriksa rutenya.
Dan wow! Saya menemukan fakta mengejutkan lainnya tentang benteng itu. Menurut Kompas.com (media terpercaya di Indonesia), benteng Kesultanan Buton adalah benteng terpanjang di dunia! Luar biasa!

Photo by author

Photo by author

메타데이터
- post_id
- cc22d3d0c2fc
- slug
- menjelajah-pulau-buton-antara-alam-indah-dan-sejarah-yang-terlupakan-cc22d3d0c2fc
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/menjelajah-pulau-buton-antara-alam-indah-dan-sejarah-yang-terlupakan-cc22d3d0c2fc
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/menjelajah-pulau-buton-antara-alam-indah-dan-sejarah-yang-terlupakan-cc22d3d0c2fc
- author_url
- https://medium.com/@isamuhamad903
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 10:05:19