Sekolah Tinggi, Mimpi Tinggi, Pengangguran Tetap Tinggi
Ketika jumlah lulusan terus bertambah, tetapi kesempatan kerja justru semakin sempit.
Sekolah Tinggi, Mimpi Tinggi, Pengangguran Tetap Tinggi

Cr : pinterest
Setiap tahun, Indonesia meluluskan jutaan siswa SMA, SMK, diploma, hingga sarjana. Harapan mereka sederhana: memperoleh pekerjaan yang layak dan meningkatkan taraf hidup. Namun, setelah ijazah berada di tangan, kenyataan yang dihadapi justru berbeda. Mencari pekerjaan kini menjadi tantangan yang tidak kalah sulit dibandingkan menyelesaikan pendidikan.
Persoalan ini tidak lagi dialami oleh lulusan dari jurusan tertentu saja. Hampir semua bidang pendidikan merasakan kesulitan yang sama. Di tengah pertumbuhan lapangan kerja yang belum mampu mengimbangi jumlah lulusan baru, persaingan kerja menjadi semakin ketat.
Kondisi Pengangguran
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2026 menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia mencapai 4,68% atau sekitar 7,24 juta orang. Berdasarkan jenjang pendidikan, lulusan SMK masih menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yaitu 7,74%, disusul lulusan SMA sebesar 6,23%. Data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya mampu menjamin seseorang memperoleh pekerjaan.
Di lapangan, satu lowongan pekerjaan dapat diperebutkan oleh ratusan hingga ribuan pelamar. Banyak lulusan baru mengaku telah mengirim puluhan lamaran, tetapi belum juga memperoleh panggilan wawancara. Bahkan, tidak sedikit lulusan magister maupun doktor yang turut mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan.
Kondisi tersebut semakin berat karena gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terjadi di berbagai sektor. Ketika banyak pekerja kehilangan pekerjaan, persaingan di pasar tenaga kerja menjadi semakin ketat. Akibatnya, lulusan baru harus bersaing tidak hanya dengan sesama lulusan, tetapi juga dengan tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman.
Faktor Penyebab
Tingginya angka pengangguran dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Pertama, pertumbuhan lapangan kerja belum mampu mengimbangi jumlah lulusan baru yang terus bertambah setiap tahun.
Kedua, gelombang PHK di berbagai sektor menambah jumlah pencari kerja sehingga persaingan menjadi semakin ketat.
Ketiga, banyak perusahaan menetapkan persyaratan yang sulit dipenuhi oleh lulusan baru, seperti pengalaman kerja beberapa tahun untuk posisi tingkat awal (entry-level).
Keempat, sebagian lowongan menawarkan sistem kerja kontrak yang tidak memberikan kepastian karier, bahkan dengan upah yang dinilai belum sebanding dengan beban pekerjaan.
Kelima, masih terdapat kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri sehingga tidak semua lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Kebijakan dan Janji Pemerintah
Dalam masa kampanye, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan target penciptaan 19 juta lapangan kerja. Target tersebut menjadi harapan bagi jutaan masyarakat, khususnya lulusan baru yang ingin segera memasuki dunia kerja.
Namun, hingga pertengahan tahun 2026, masyarakat masih menghadapi kenyataan bahwa kesempatan kerja belum bertambah secara signifikan. Bursa kerja masih dipadati pelamar, sementara keluhan mengenai sulitnya memperoleh pekerjaan terus bermunculan di berbagai media sosial maupun pemberitaan.
Masyarakat tentu memahami bahwa menciptakan jutaan lapangan kerja bukanlah pekerjaan yang mudah. Akan tetapi, target yang telah disampaikan kepada publik perlu diwujudkan melalui kebijakan yang terukur, transparan, dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penguatan sektor industri dan manufaktur agar mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja, peningkatan kualitas pendidikan vokasi agar selaras dengan kebutuhan industri, perlindungan terhadap pekerja melalui sistem ketenagakerjaan yang lebih adil, serta pengembangan sektor ekonomi digital, ekonomi hijau, dan industri kreatif sebagai sumber penciptaan lapangan kerja baru.
Penutup
Pengangguran bukan sekadar persoalan statistik, melainkan persoalan masa depan jutaan anak muda Indonesia. Ketika lulusan SMA, SMK, diploma, hingga sarjana sama-sama kesulitan memperoleh pekerjaan, sementara pekerja yang telah bekerja masih dibayangi ancaman PHK, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan di Indonesia masih membutuhkan perhatian yang serius.
Indonesia tidak kekurangan generasi muda yang memiliki semangat untuk bekerja dan berkembang. Yang masih kurang adalah kesempatan kerja yang mampu menampung potensi mereka. Oleh karena itu, masyarakat tidak hanya membutuhkan janji mengenai jutaan lapangan kerja, tetapi juga realisasi yang nyata agar pendidikan kembali menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik, bukan sekadar menghasilkan tumpukan ijazah tanpa kepastian.
메타데이터
- post_id
- cc22edafd8cf
- slug
- sekolah-tinggi-mimpi-tinggi-pengangguran-tetap-tinggi-cc22edafd8cf
- url
- https://medium.com/@anggunrayan2020/sekolah-tinggi-mimpi-tinggi-pengangguran-tetap-tinggi-cc22edafd8cf
- canonical_url
- https://medium.com/@anggunrayan2020/sekolah-tinggi-mimpi-tinggi-pengangguran-tetap-tinggi-cc22edafd8cf
- author_url
- https://medium.com/@anggunrayan2020
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-07 13:55:40