← Back to list

Tentang Kehadiran yang Tak Pernah Kusepakati: Anak Bukan Dalih!

Aku tak pernah memohon untuk dihadirkan. Maka, ketika keberadaanku diputuskan tanpa persetujuanku, bukankah yang seyogianya kuterima ialah…

Jeyy. · 2026-07-20 16:49 · 0 claps · 1.3 min read
#broken-home #sastra-indonesia #childhood-trauma #keluarga #rapuh
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧠 · Mental Wellness

Tentang Kehadiran yang Tak Pernah Kusepakati: Anak Bukan Dalih!

Sering kali setiap luka yang dibawa seorang anak dipulangkan pada satu dalih yang nyaris terdengar sakral.

"Mereka pun tak pernah memilih."

Benar.

Mereka memang tak pernah diberi kuasa memilih pangkal keberadaannya; dari rahim mana mereka bermula, dari dukalara siapa mereka mewarisi retak, dan di bawah langit seperti apa masa kecil mereka dijinakkan oleh kehidupan.

Namun, sejak kapan ketakberdayaan memilih asal-usul menjelma dalih untuk abai memilih cara mengasihi keturunannya?

Aku tak pernah memohon kepada semesta agar dihadirkan.

Tak pernah pula kusisipkan namaku dalam daftar jiwa yang hendak dilahirkan. Keberadaanku merupakan ikhtiar orang lain, bukan kehendakku sendiri. Maka, sejak napas pertama dititipkan ke paru-paruku, yang sewajarnya kuterima bukan sekadar kehidupan, melainkan pengasuhan yang memanusiakan.

Mereka memang tak berwenang memilih anak seperti apa yang akan mereka dapati. Namun mereka senantiasa berdaulat menentukan tangan seperti apa yang hendak mereka ulurkan. Apakah tangan yang mengafeksi, atau yang menyisakan lebam tak kasatmata.

Apakah lisan yang meneguhkan, atau yang saban hari merontokkan harga diri. Apakah rumah yang merengkuh, atau bangunan yang hanya piawai memelihara kegaduhan.

Seorang anak bukan tercipta dengan tabiat yang selesai. Ia adalah palimpsest; lembar yang terus ditulisi oleh setiap tatapan, intonasi, pelukan, penolakan, dan diam yang diwariskan kepadanya. Maka jangan tergesa menjadikan kalimat, "mereka pun tak pernah memilih," sebagai tameng bagi segala kelalaian. Sebab yang sedang digugat bukan ketidakmampuan mereka memilih takdir. Melainkan kegagalan mereka memilih kasih ketika kesempatan itu senantiasa tersedia.

Aku tak meminta untuk dilahirkan.

Tetapi ketika keberadaanku telah diputuskan tanpa persetujuanku, tidakkah sudah semestinya mereka memikul amanah itu dengan kesadaran penuh—bahwa: membesarkan seorang anak bukan sekadar memastikan ia hidup, melainkan memastikan ia tidak tumbuh sebagai reruntuhan yang harus membereskan puing-puing yang bukan ia ciptakan.


메타데이터
post_id
cc286c944cf3
slug
tentang-kehadiran-yang-tak-pernah-kusepakati-anak-bukan-dalih-cc286c944cf3
url
https://medium.com/@eyejshadow/tentang-kehadiran-yang-tak-pernah-kusepakati-anak-bukan-dalih-cc286c944cf3
canonical_url
https://medium.com/@eyejshadow/tentang-kehadiran-yang-tak-pernah-kusepakati-anak-bukan-dalih-cc286c944cf3
author_url
https://medium.com/@eyejshadow
status
ok
fetched_at
2026-07-21 05:35:08