Sebuah Fakta
Ayesha dan Sephia berjalan beriringan untuk menuju dapur yang terletak di gedung seberang bersamaan dengan ruang makan Villa tersebut…
Sebuah Fakta
Ayesha dan Sephia berjalan beriringan untuk menuju dapur yang terletak di gedung seberang bersamaan dengan ruang makan Villa tersebut. Mereka saling berpegangan tangan satu sama lain. Selain karena rasa takut, udara dingin yang menyeruak ke tubuh mereka sangat mengganggu.
Meskipun keadaan Villa tidak terlalu sunyi karena ditemani suara Jangkrik yang saling bersahutan satu sama lain. Membuat mereka berdua tetap melanjutkan langkah kakinya untuk menuju dapur. Ayesha merupakan tipikal seseorang yang tidak akan bisa tidur dengan perut kosong. Maka dari itu, Sephia rela menemani sahabatnya dibandingkan Ayesha harus tersiksa hingga pagi.
Saat langkah kaki mereka berjalan menyelusuri taman, samar-samar mereka mendengar suara keributan.
"Cha!"
"Phi!"
Mereka berdua saling menengok. Kemudian pandangannya beralih ke satu satu tempat. Di mana mereka yakini suara itu berasal.
"Jangan macam-macam lo!" ancam Ayesha kepada Sephia. Ayesha tahu pasti Sephia akan menghampiri suara tersebut.
"Shut!" kode Sephia agar Ayesha diam dan mengikuti arahannya untuk berjalan menuju sumber suara tersebut.
Tidak ada pilihan lain selain Ayesha mengikuti Sephia. Daripada dia harus duduk sendirian di sini yang akan terjadi banyak kemungkinan.
Pertama, diomelin panitia karena keluar malam-malam di saat semua orang sedang istirahat. Kedua, ditemani penghuni villa yang tidak kasat mata. Konon katanya suka sama perempuan sedang menstruasi. Kebetulan hari ini Ayesha sedang mengalami masa itu.
"Phi, saran gue mending kita langsung ke dapur aja yuk," ucap Ayesha sedikit merajuk. Dengan harapan Sephia akan luluh dibuatnya.
"Nanti dulu, Cha. Kita harus lihat ada apaan di sana?” ucap Sephia dengan rasa penasarannya yang tinggi.
"Kalau gak ada apa-apaan gimana?" tanya Ayesha.
"Ya bagus dong. Kita gak perlu lapor ke panitia kalau ada yang berantem."
"Kalau ternyata yang ribut bukan manusia gimana?"
"Ya kita lerai pakai doa aja."
"Emang lo tau Hantu itu agamanya apa? Kalau doa yang kita baca gak mempan gimana?”
"Iya juga, ya? Tanya dulu kali nanti. Dia agamanya apa?”
"Kalau...."
"Cha diam!"
Ayesha akhirnya terdiam sesaat mereka tiba di sumber suara. Mereka terkejut bukan karena melihat hantu. Melainkan karena kedua orang yang ia kenal hampir saja melakukan adegan baku hantam.
"KENAPA LO BARU BILANG SEKARANG BANGSAT!" ucap Arash sembari mendorong Shaka hingga laki-laki itu tersungkur ke tanah.
"Gue minta maaf, Rash. Gue juga baru tau dua bulan kemarin. Gue gak tau cara bilangnya gimana?"
"Siapa yang tau selain gue?" tanya Arash dengan tatapan tajam miliknya.
"Baru Rey yang gue kasih tau," ucap Shaka yang berusaha untuk bangkit.
Dari atas, Ayesha dan Sephia tidak menyangka kalau laki-laki seperti Arash bisa memiliki emosi seperti itu. Bahkan bisa tidak sopan dengan kakak kelasnya.
"Satria?" Shaka menggeleng lemah. Dia tidak berani untuk sekedar memberitahu informasi itu kepada Satria.
"Gue gak berani bilang ke dia. Atas segala kesalahan yang pernah gue lakuin ke dia. Gue rasa ini karma yang bisa gue dapatin."
"Tolol!" ucap Arash sembari melayangkan tonjokannya ke tembok. Alibi untuk meredamkan emosinya yang sedang meledak.
"Gue cuma butuh maaf dari dia aja. Bahkan gue siap ngelakuin apapun demi dapatin maaf dari dia. Termasuk ngedekatin sepupunya."
“Maksud lo? Lo deketin Sephia cuma untuk bisa dapatin maaf dari Satria?” tanya Arash memastikan bahwa apa yang diucapkan oleh Shaka salah.
“Gue gak ada pilihan lain, Rash. Cuma Sephia yang bisa luluhin kerasnya hati Satria. Makanya gue berusaha manfaatin Sephia agar Satria bisa maafin gue.”
Deg!
Ayesha yang mendengar itu langsung melirik Sephia di sampingnya. Gadis itu hanya terdiam. Menatap lurus ke depan mereka.
"Phi?"
Tidak ada respon dari Sephia. Gadis itu segera membalikan tubuhnya. Kemudian berlari menjauh dari mereka bertiga.
"Sephia!"
Teriakan Ayesha membuat dua laki-laki itu menoleh bersamaan. Di sana, Ayesha dapat melihat raut wajah panik milik Shaka. Begitu juga dengan wajah Arash yang penuh amarah.
Sekarang Ayesha mengerti mengapa Satria sebegitu bencinya dengan Shaka. Bahkan menyuruhnya untuk selalu melindungi Sephia agar tidak berhubungan dengan laki-laki bernama Arshaka Dwi Putra.
"Maaf, kami tidak sengaja mendengar obrolan kalian. Terima kasih sudah menghancurkan hati Sephia untuk kesekian kalinya." Ayesha menundukkan tubuhnya tanda maaf sekaligus permisi kepada kedua orang tersebut.
Setelah kepergian Ayesha dan Sephia. Arash memandang lagi kepada Shaka. "Kali ini lo harus ngalah dari Satria, Shak. Biarin Satria bahagia dengan cewek yang dia suka." Arash menepuk bahu Shaka kemudian ikut pergi dari hadapan laki-laki itu.
Saat semuanya sudah pergi meninggalkan Shaka. Laki-laki itu mengerang sekuat tenaga. Menjambak rambutnya dengan keras. Meredamkan segala emosi yang memuncak di kepalanya.
"Maaf, Sephia. Lebih mudah untuk terlupakan karena rasa benci. Dibandingkan melupakan untuk kenangan manis."
메타데이터
- post_id
- cc7d73441dd1
- slug
- sebuah-fakta-cc7d73441dd1
- url
- https://medium.com/@satelitnyabumi/sebuah-fakta-cc7d73441dd1
- canonical_url
- https://medium.com/@satelitnyabumi/sebuah-fakta-cc7d73441dd1
- author_url
- https://medium.com/@satelitnyabumi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 21:04:19