Perjalanan Sebuah Laknat: Antara Langit dan Bumi
Jangan mudah memaki dan melaknat.
Perjalanan Sebuah Laknat: Antara Langit dan Bumi
Photo by Resource Database on Unsplash
Jangan mudah memaki dan melaknat.
عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا، صَعِدَتْ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّمَاءِ، فَتُغْلَقُ أَبْوَابَ السَّمَاءِ دُوْنَهَا، ثُمَّ تَهْبِطُ إِلَى الأَرْضِ، فَتُغْلَقُ أَبْوَابُهَا دُوْنَهَا، ثُم تَأْخُذُ يَمِيْنًا وَشِمَالًا، فَإِذَا لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى الَّذِيْ لُعِنَ، فَإِنْ كَانَ أَهْلًا لِذَلِكَ، وَإِلَّا رَجَعَتْ إِلَى قَائِلِهَا”
Artinya:
Dari Abu Darda’ r.a., beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba, apabila dia melaknat sesuatu, laknat itu akan ke langit mencari sasaran namun mendapati pintu langit terkunci untuknya. Laknat itu kembali ke bumi namun mendapati pintunya juga terkunci untuk laknat tersebut.
Laknat itu mencari ke kanan dan kiri untuk dikenakan kepada sasaran yang layak untuk laknat tersebut. Bila laknat itu tidak menemui sasaran yang selayaknya, ia kembali kepada pelaknat asal yang mengucapkan laknat itu.”
[HR Abu Dawud, dipetik daripada Riyād al-Sālihīn oleh al-Imām al-Nawawī : 1556]
Dalam hadits ini, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda,إنَّ العبْدَ إذا لعَنَ شيئًا صَعِدَتِ اللَّعْنةُ إلى السَّماءِ”Jika seorang hamba melaknat sesuatu, laknat itu naik ke langit.” Mengutuk/ melaknat adalah perbuatan memohon kutukan/ laknat yang merupakan pengusiran dari rahmat Allah. Jadi, jika seorang hamba memohon kutukan atas sesuatu, permohonan ini naik ke langit.
“فتُغلَقُ أبوابُ السَّماءِ دونَها” Maka pintu-pintu langit akan tertutup baginya, artinya: pintu-pintu langit akan tertutup di hadapan permohonan ini, dan permohonan itu akan dicegah untuk sampai kepada Allah Yang Mahakuasa dan tidak akan diangkat.
“ثمَّ تَهبطُ إلى الأرضِ فتُغْلَقُ أبوابُها دونَها” lalu permohonan itu akan turun ke bumi dan pintu-pintunya akan tertutup baginya. Jika pintu langit tertutup bagi permohonan ini, maka permohonan itu turun kembali ke bumi, dan ketika kembali ke bumi, ia mendapati pintu langit pun tertutup baginya.
“ثمَّ تأخُذُ يمينًا وشِمالًا” Lalu dia berbelok ke kanan dan ke kiri,” artinya: mungkin dia akan menemukan jalan keluar atau pintu untuk merespons, tetapi dia tidak akan menemukannya.
“فإذا لم تجِدْ مَساغًا رجعتْ إلى الَّذي لَعَن” Jika tidak menemukan jalan keluar, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat, artinya: jika permohonan yang disertai laknat tidak menemukan jalan keluar, maka permohonan dan kutukan ini akan berbalik kepada orang yang dilaknat.
“فإنْ كان لذلك أهْلًا” Jika dia layak menerimanya; jika orang yang didoakan itu layak menerima doa ini dan pantas menerima kutukan itu, maka doa itu akan menimpanya dan kutukan itu akan menimpanya.
“وإلَّا رجَعتْ إلى قائلِها” Jika tidak, laknat itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya, yaitu orang yang mengutuk. Dan jika orang yang dikutuk itu tidak pantas dikutuk, kutukan itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya dan akan menimpanya serta mengejarnya, sehingga ia akan menjadi pengutuk bagi dirinya sendiri.”
Hadis Nabi yang lain, yang layak menjadi perhatian tentang bahayanya laknat atau kutukan bahwa orang yang memberikan laknat akan mendapatkan ancaman tidak masuk ke dalam golongan Syuhada dant tidak akan mendapatkan jaminan Syafaat.
وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ — صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “إنَّ اللَّعَّانِينَ لَا يَكُونُونَ شُفَعَاءَ، وَلَا شُهَدَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.
Artinya:
Diriwayatkan dari Abu Darda’ Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang suka melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak akan menjadi ahli syafaat pada hari kiamat. “ (HR. Muslim)
[shahih, Muslim (2598)]
Makna, “ Tidak menjadi saksi “ artinya tidak akan menjadi saksi atas para rasul yang telah menyampaikan risalah kepada umat-umat mereka. Ada yang mengatakan: tidak diterima persaksiannya semasa di dunia karena kefasikannya. Sebab banyak melaknat membuktikan bahwa ia menganggap remeh urusan agama.
Ada juga yang berpendapat: mereka tidak mendapatkan anugerah pahala mati syahid, padahal ia tewas di medan jihad fi sabilillah. Menurut sebagian ulama, Lafazh hari kiamat dikaitkan dengan izin memberikan syafaat saja.
Mungkin juga berkaitan dengan syafaat dan syahadah. Maksudnya persaksiannya tidak diterima semasa di dunia dan di akhirat kelak ia tidak tertulis sebagai orang yang mendapatkan pahala atas persaksian benar yang ia berikan. Demikian juga ia tidak mendapatkan pahala mati syahid.
Subulussalam, Syarh Bulughul Maram
Sebagian orang wal’iyadzubillah ada yang terbiasa melaknat. Kata-kata laknat mengalir di lisannya. Padahal Islam mengajarkan agar lisan seseorang itu basah dengan ucapan salam di atas.
Jagalah lisan daripada perbuatan mudah memaki laknat. Ia tidak terungkap kecuali akan menimpa sasaran yang benar di sisi Allah.
Kita semua hamba-Nya, yang bertarung dengan pelbagai kelemahan diri sebelum menemui akhir perjalanan yang mudah-mudahan baik, selamat dan sejahtera.
Originally published at https://ahmadbinhanbal.com on March 22, 2026.
메타데이터
- post_id
- cceb98a32007
- slug
- perjalanan-sebuah-laknat-antara-langit-dan-bumi-cceb98a32007
- url
- https://medium.com/@blogjumal/perjalanan-sebuah-laknat-antara-langit-dan-bumi-cceb98a32007
- canonical_url
- https://medium.com/@blogjumal/perjalanan-sebuah-laknat-antara-langit-dan-bumi-cceb98a32007
- author_url
- https://medium.com/@blogjumal
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 19:50:18