Ketika Tuhan Memilih yang Gagal
Bagaimana Tuhan memilih para pengikut-Nya bukan dari kekudusan tetapi dari kenajisan.
Ketika Tuhan Memilih yang Gagal
Dua ribu tahun yang lalu di Yudea, usaha-usaha Yahudi dalam menunggu kehadiran “Mesias — sang pembebas yang dijanjikan” agar membebaskan diri dari Romawi terus dilakukan. Kepercayaan untuk hidup kudus menjadi jalan dalam membedakan diri di antara yang najis dan bangsa yang terpilih agar Sang Mesias datang menyelamatkan. Rabi tidak hanya menjadi figur pengajar spiritual namun menjadi sosok pemimpin dalam menjaga kekudusan masyarakat kala tercengkram oleh bangsa lain. Para Rabi memilih pemuda-pemuda terbaik untuk meneruskan “Hukum Tuhan” dan banyak pemuda mencari kekudusan dengan menjadi sama seperti sang Rabi. Apakah intelektualitas para pemuda layak memikul kuk sang Rabi? Apakah hidup mereka kudus untuk menjadi penerus? Banyak yang terpanggil namun sedikit yang terpilih.
Namun, Bagaimana jika ada Rabi memilih pemuda yang gagal? atau bahkan, yang terburuk?

Sea of Galilee (pixabay.com)
Gelil Ha-Goyim (Wilayah bangsa-bangsa lain), itulah predikat yang diberikan oleh orang Yerusalem (pusat kota Yudea) kepada Galilea yang jauh di utara dan bercampur hidup dengan orang-orang najis (Non-Yahudi) dan bahkan disebutkan “tidak ada nabi — orang pintar berhikmat yang datang dari Galilea”. Di antara orang-orang Galilea, Sang Rabi memilih orang-orang yang tidak mengajukan diri kepada-Nya, orang-orang yang tau garis keturunannya tidak membawa apa-apa, orang-orang yang pekerjaannya hanya menumpuk ikan untuk mendapat segenggam roti.
Am Ha-Aretz (People of the Land) — Rakyat Negeri, sebuah label dari elit Yahudi kepada mereka yang buta agama, jauh dari hidup kudus, dan tidak mendedikasikan hidupnya kepada Perintah Allah. Bagaimana bisa seorang nelayan dapat meneruskan kekudusan Hukum Tuhan jika sehari-hari mengumpulkan bangkai ikan amis dan menyimpul jala kotor? Bodohnya, Sang Rabi bahkan memilih dua pasang saudara yang adalah nelayan untuk menjadi pengikut-Nya dan dua diantaranya dijuluki “anak-anak guntur”, anak-anak yang jauh dari sifat tenang dan kontemplatif layaknya murid seorang Rabi.

Ship of Fisherman (pixabay.com)
Selain menunjukkan kebodohan-Nya, Sang Rabi bahkan memperlihatkan kegilaan-Nya dengan memanggil pengkhianat bangsa untuk menjadi pengikut-Nya. Pengkhianat bangsa yang kenajisannya melebihi amisnya pekerjaan seorang nelayan. Kesaksiannya yang tidak dianggap dalam pengadilan Yahudi. Bahwa pintu Sinagog ditutup untuk mereka. Bahkan, bersentuhan kulit dengan para pemungut cukai dianggap suatu kenajisan. Orang Yahudi yang memeras keringat sesama orang Yahudi dan memberikan darah saudara mereka kepada Kaisar Romawi, tetapi Sang Rabi memilih satu diantaranya dalam memberitakan Hukum Allah. Para pemungut cukai tidak lain hanyalah seorang perampok. Pembunuh saudara sendiri.
Tidak tergambarkan betapa tidak waras-Nya Sang Rabi hingga Dia memilih juga seorang dari kalangan “Zealot” (kelompok terror) yang membawa belati di pinggangnya, yang lahir dan tumbuh menebar terror dalam masyarakat Yahudi. Kepercayaan para Zealot ketika membayar pajak kepada Kaisar merupakan suatu penghujatan bagi Allah karena memberikan kedudukan yang sama bagi persembahan Tuhan di Bait Allah. Kepercayaan yang melahirkan pikiran radikal mengakibatkan setiap hunusan belati di dada para pemungut cukai dan penjilat Kaisar dianggap sebagai panggilan “ilahi” untuk membersihkan kenajisan tanah perjanjian dan membawa kemerdekaan bangsa Yahudi.

City of Jerusalem (pixabay.com)
Di antara orang-orang pinggiran yang dianggap najis, para nelayan yang hidup hanya untuk bergelut dengan kenajisan, seorang pemungut cukai yang menjual keringat saudaranya sendiri, dan seorang teroris yang menghunus belati demi harapan semu, Sang Rabi memanggil seorang dari Kerioth (wilayah selatan Yudea) yang tampak seperti harapan. Ketika sebelas lainnya berasal dari wilayah terpinggirkan dan mengucap kata layaknya masyarakat kampung yang tidak tau adab dan etika, dia berbicara layaknya orang santun terpelajar khas elitis Yerusalem. Dia tidak berbau amis layaknya seorang yang menjala ikan, tangannya tidak membawa uang darah saudaranya sendiri seperti para pengkhianat, dia tidak membawa belati di pinggangnya untuk membunuh kaumnya sendiri, tidak heran Sang Rabi mempercayai dia membawa kantong perbendaharaan dalam perjalanan kudus Sang Rabi dan para pengikut-Nya. Mungkin, dia adalah penerus Sang Rabi.
Namun, ironi memilukan lahir dari sesuatu yang tidak disangka. Pengkhianatan paling mengecewakan datang bukan dari jala yang kotor, bukan dari meja cukai yang penuh tipu daya, dan bukan dari belati radikal yang berlumuran darah. Nyatanya, tikaman paling dalam datang dari tangan yang dianggap bersih dan kekecewaan paling menyakitkan lahir dari sebuah ciuman seorang Kerioth, atau biasa disebut Sang Iskariot.
Mungkin Sang Rabi tidak gila, mungkin kita saja yang terlalu munafik.
메타데이터
- post_id
- ccf594e27ffc
- slug
- ketika-tuhan-memilih-yang-gagal-ccf594e27ffc
- url
- https://medium.com/@elmomartinus/ketika-tuhan-memilih-yang-gagal-ccf594e27ffc
- canonical_url
- https://medium.com/@elmomartinus/ketika-tuhan-memilih-yang-gagal-ccf594e27ffc
- author_url
- https://medium.com/@elmomartinus
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 13:07:09