← Back to list

Bagian satu

Ruang hampa.

dkprili · 2022-03-05 04:09 · 0 claps · 1.3 min read
#prasa #diksi #indonesian-poetry
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✍️ · Writing & Creative

Bagian satu

Ruang hampa.

Kalau semua orang memilih berlibur dengan pergi bersama teman dan sebagainya. Maka Braga hanya perlu pergi membaca buku di perpustakaan kota.

Sismita cukup tau tentang hal itu, Braga baginya seperti matahari pagi hari ini tidak begitu terik membuatnya nyaman apalagi dengan senyuman laki-laki itu. Sismita tidak percaya bahwa orang-orang menganggap Braga itu seperti hujan yang turun, dingin.

Contohnya sekarang, bagaimana Sismita menanggap Braga dingin kalau sedari tadi Braga tersenyum setelah Sismita bolak-balik ketahuan melirik laki-laki itu.

Braga pun tau Sismita tidak pantas ia abaikan dengan tatapan teduh dan senyum sendunya itu.

“Sampai kapan?” Braga bersuara.

Sismita menatapnya, “Apa?”

“Kamu liatin saya terus gitu?”

Sismita terdiam, melanjutkan membaca buku di depannya, cukup malu untuk sekedar membalas pertanyaan lelaki itu.

Nyatanya Braga memang suka sedikit berbicara karena baginya keheningan lebih baik agar bising tau caranya mendengarkan. Alih-alih memilih nongkrong atau main, Braga lebih memilih membaca buku karena baginya ketidaktahuan akan menyiksanya. Karena dunia cukup luas untuk bisa dimengerti dengan singkat.

Braga menutup bukunya, memperhatikan perempuan yang sedang sibuk didepannya. Bagi Braga Sismita itu segalanya, Braga selalu berusaha memberi harsa meski dengan sederhana tanpa nestapa yang berani membawa lara.

“Ayo pergi sama saya ke Yogyakarta.” Ujar Braga.

Sismita sontak mendongak, menutup bukunya. “Kamu tau jawaban aku"

“Sampai kapan kamu kabur terus begini?” Braga melipat tangannya diatas meja.

Sismita memicingkan matanya, “Aku gak kabur, tapi aku ngga bisa Braga.”

Sismita bukan kabur, hanya saja Yogyakarta terlalu membawa kenangan kelabu dari masa lalu. Kalau ia menuruti kembali maka semua usaha Sismita akan sia-sia, usaha untuk melupakan dan mengiklaskan segalanya dan kabur disurabaya ini akan berakhir sia-sia.

Braga mesejajarkan tubuh disebelah Sismita, “Kenapa ngga bisa?”

“Kamu tau, Braga. Semenjak Ayah tiada, Yogjakarta tidak lagi istimewa.”

[dkprili]


메타데이터
post_id
cd0286fa2f69
slug
bagian-satu-cd0286fa2f69
url
https://medium.com/@astarpw0e/bagian-satu-cd0286fa2f69
canonical_url
https://medium.com/@astarpw0e/bagian-satu-cd0286fa2f69
author_url
https://medium.com/@astarpw0e
status
ok
fetched_at
2026-07-27 10:45:18