← Back to list

KeTunggalan TUHAN

Seremonia · 2023-10-03 13:22 · 0 claps · 3.8 min read
#tawhid #ketunggalan #wujud #ada #tiada
Open on Medium ↗

KeTunggalan TUHAN

Kita perlu memahami secara perlahan.

Tahap awal tentang kemendasaran lawan kata.

Sebenarnya lawan kata bisa dibagi jadi dua kemendasaran yg harus disadari

1⃣ Tak mustahil lawannya tak mustahil

  • 👉 Apa saja yg ada

Ini berarti, "tak mustahil" bisa apa saja = "baik", "buruk", "mendekat", "menjauh" bla bla bla

2⃣ Tak mustahil lawannya mustahil

  • 👉 Apa saja yg ada + mustahil

Mustahil - Konsisten Dalam Menalar

Mustahil berarti tak ada apapun yg bisa dianggap "ada", tak ada kemungkinan apapun untuk bisa disebut "ada" secara bagaimanapun

Artinya ketika kita mencari lawan katanya, dan lawan katanya masuk kategori mustahil maka tak boleh diubah jadi "tak mustahil", akan absurd jadinya.

Posisi ciptaan terhadap Wujud Pencipta

Sebagai contoh, ketika "Ada" lawannya "tiada", maka "tiada" masuk kategori mana? Mustahil ada atau mungkin ada?

Jika ditetapkan sebagai mustahil ada, maka begitulah seharusnya.

Sintesa Yang Salah

Jangan lalu "yg mustahil ada", diubah menjadi "tak mustahil (dimungkinkan)" dengan menegaskan bahwa "yg mustahil ada" itu adalah wujud yg mumkin (dimungkinkan adanya)

Ini sama saja membantah diri sendiri yg tadinya point 2, "lawan dari tak mustahil adalah mustahil" menjadi "lawan dari tak mustahil adalah tak mustahil lainnya. Ini tak konsisten

Artinya bahwa jika kita ingin melihat posisi kita "yang ada" terhadap Tuhan "Yang Wujud", tidak bisa dipahami seperti di atas (lalu menegaskan kita mustahil).

  • 👉 Berarti di sini tidak bisa ditegaskan bahwa jika lawan Wujud adalah tiada, lalu kita dianggap tiada ❌ Batas tipis seperti ini jika tak disadari akan membentuk pola penalaran tak konsisten lainnya karena ketaktelitian kita

Wujud Mutlak

Jadi kalau mau memposisikan kita terhadap Wujud Tuhan, ternyata tak bisa meniadakan kita, yg berarti harus melalui jalur lain, yaitu posisi kita terhadap Wujud bukan dalam konteks "Ada-tiada", melainkan dalam konteks "ADA YG ABSOLUT" lawannya adalah" ada yg tak absolut yg bergantung"

❇️ Jadi bukan "Ada & Tiada" yg meniadakan kita, melainkan "Ada-Absolut" yg menegaskan kebergantungan "adanya" kita terhadap "Ada-Absolut"

✅ Harus disadari posisi kita terhadap Wujud adalah posisi "adanya (kebergantungan) kita" terhadap Wujud Yang Absolut

Zat Tunggal Tanpa Sekutu

KeTunggalan Zat-Nya bisa dipahami bahwa wujud yg mungkin (ciptaan) tak memiliki zat-nya sendiri, kecuali hanya ada Zat-Nya.

Kebergantungan

Saya lebih memahaminya sebagai wujud mumkin (ciptaan) sebagai "ada yg bergantung kepada Yang Nyata - Tuhan"

  • Jika ditanyakan, apakah "adanya" itu punya eksistensi yg mandiri? Tidak, melainkan bergantung kepada-Nya.

Di titik ini terkesan tiadanya zat bagi dirinya sendiri, lalu tidak berarti dianggap "yg mustahil", melainkan "bergantung"

Berdiri Sendiri

Kalau mau dikatakan "yg tanpa Zat berarti tiada" karena tak memiliki zatnya sendiri untuk disebut punya eksistensi, ya ga masalah, namun "tiadanya kita yg tak memiliki zatnya sendiri bukan merupakan "kemustahilan", melainkan "ketiadaan kemandirian eksistensi"

Sebab Mutlak - KeTunggalan Zat

Maksudnya begini, bahwa "adanya kita" tak bisa dikeluarkan dari keberadaan sama sekali, sehingga "adanya kita" tak bisa ditiadakan secara bagaimanapun.

Bahwa mengakui "adanya kita" dikhawatirkan mengakibatkan "adanya dua zat yg dipahami sebagai meniadakan KeTunggalan Tuhan"

Maka sebenarnya yg terjadi bukanlah adanya dua zat, melainkan hanya Tuhan Sebagai Sebab Yang Mutlak yg menegaskan KeMutlakan Zat-Nya. Dan Kemutlakan Zat-Nya juga berarti menegaskan satu-satu-Nya Zat Yang Mutlak, yg berarti Zat-Nya adalah Mutlak Tunggal - KeTunggalan Zat

Yang Tak Mutlak

Lalu, bagaimana posisi kita sebagai yg tak mutlak? Tentu kita atau ciptaan-Nya tetap ada sebagai ada yg tak mutlak. Maksudnya❓Adanya kita bergantung kepada-Nya, dalam arti eksistensi kita tak berdiri sendiri.

Di titik ini banyak yg menegaskan sebagai "kita adalah sifat-Nya", atau "kita adalah tajallinya", "kita adalah bayangan-Nya" atau kita adalah apapun yg intinya menegaskan ketakmutlakan kita, menegaskan kebergantungan kita & menegaskan ketakmandirian adanya kita.

Konflik KeTunggalan

Jika kita bukan Yang Mutlak, kita bukan Zat-Nya, tetapi kita ada (tak mustahil ada), apakah berarti dipahami sebagai meniadakan KeTunggalan Tuhan❓Tidak❗️Mengapa❓

1⃣ Sebelumnya dipahami jika kita dianggap "ada" karena mustahil meniadakannya, namun menimbulkan keterbagian yg dipahami sebagai KeTakTunggalan

  • 👉 Jadi dari point 1 menganggap adanya kita sebagai bagian, berarti dianggap tiadanya KeTunggalan,

2⃣ Atau "adanya kita tak mustahil - mungkin", sehingga tak bisa dimustahilkan, tak bisa ditiadakan sama sekali, namun akan menimbulkan "adanya bagian", sehingga harus ditiadakan yg ga masuk akal.

  • 👉 Atau kalau kita dianggap bukan bagian dari Zat-Nya, berarti kita harus dianggap mustahil ada, yg ga masuk akal.

⛳️ Di sini polemiknya, yg satu dianggap tak menegaskan KeTunggalan, yg satu lagi harus dipilih meski tak masuk akal.

Keterpisahan & Keterbagian

Permasalahannya ada pada pemahaman keterpisahan & keterbagian.

KeTunggalan dianggap tak boleh ada bagian, agar tetap menegaskan KeTunggalan.

Padahal keterbagian tak menegaskan keterpisahan dan tetap menegaskan KeTunggalan. Mengapa❓

KESATUAN, Zat, Sifat & Perbuatan

Jika kesatuan, maka bagian-bagiannya bukanlah di luar kesatuannya

  • Jika kesatuan, maka sifat-sifatnya bukanlah di luar kesatuannya

Bagian-bagian dari kesatuan adalah sudut pandang terbatas kita memahami kesatuannya

  • Sudut pandang terbatas terhadap kesatuannya adalah sifat dari kesatuan

Sifat dari kesatuan hanya bisa dipahami, sedangkan perwujudan sifat dari kesatuanlah yang dapat dialami

Zat-Nya adalah KeTunggalan-Nya

  • Sifat-Nya mengungkapkan KeNyataan-Nya, mengungkapkan Hidup-Nya KeTunggalan, mengungkapkan Kuasa-Nya, mengungkapkan Kesatuan & Ke-Esa-an-Nya & mengungkapkan Kesempurnaan KeTunggalan-Nya

Apakah Zat-Nya abadi❓Ya

  • Apakah Sifat-Nya abadi❓Sifat-Nya tak ada kaitannya dengan keabadian, karena Sifat-Nya menegaskan keabadian KeTunggalan

Apakah Perbuatan-Nya abadi❓

  • Perbuatan-Nya tak ada kaitannya dengan keabadian, karena Perbuatan-Nya menegaskan kemutlakan kehendak KeTunggalan

JADI INTINYA DI SINI BAHWA ...

❇️ KeTunggalan Zat-Nya Menegaskan Ciptaan Sebagai Bagian Dari KeTunggalan-Nya Tanpa Memisahkan KeTunggalan-Nya

❇️ Bagian Tak Membagi, Dan Membagi Tak Memisahkan, Karena Bagian-Nya Bukanlah Sesuatu Di Luar KeTunggalan, Sehingga Tak Memisahkan KeTunggalan

❇️ Zat-Nya adalah Satu Yang Tiada Sekutu, dengan Sifat-Nya Yang Menegaskan Keabadian Zat-Nya Yang Mutlak Berkehendak Yang Dikenali Melalui Perbuatan-Nya

❇️ TUHAN ITU BUKAN MATERI & TUHAN ITU BUKAN NON MATERI, ZATNYA TAK DAPAT DIPERKIRAKAN SECARA BAGAIMANAPUN.


메타데이터
post_id
cd0df63ae481
slug
ketunggalan-tuhan-cd0df63ae481
url
https://medium.com/@seremonia/ketunggalan-tuhan-cd0df63ae481
canonical_url
https://medium.com/@seremonia/ketunggalan-tuhan-cd0df63ae481
author_url
https://medium.com/@seremonia
status
ok
fetched_at
2026-07-25 03:40:03