← Back to list

Berbincang

Ada satu kalimat dari buku yang aku baca yang judulnya “catatan dunia yang gelisah” begini, kita hidup di dunia yang serba hp, bangun tidur…

Ini Intan · 2026-06-13 16:23 · 1 claps · 1.8 min read
#menjadi-lebih-baik #topics #obrolan
Open on Medium ↗

Berbincang

Ada satu kalimat dari buku yang aku baca yang judulnya “catatan dunia yang gelisah” begini, kita hidup di dunia yang serba hp, bangun tidur hp hingga tertidur lagi. Pertemanan dunia maya sangat mudah dijangkau, tanpa perlu berdandan rapi, menyetrika kemeja dengan licin atau menyemprotkan parfum yang sangat wangi.

Waktu mengobrol ketika mengenal hp menjadi sangat terbatas, di dunia nyata ada banyak orang yang dekat yang seharusnya bisa kita ajak buat mengobrol, tapi yang kita pilih adalah dunia maya.

Kesepian dalam keramaian, ini biasa di alami teman-teman yang mempunya riwayat penyakit mental. Benar, di dunia yang semakin serba cepat, bahkan kita jadi bermental lemah, otak, dan semua tubuh kita dipenuhi cahaya layar hp, jaringan internet, dari seluruh dunia.

Aku mulai mengerti, dimana banyak orang kota pengen ke desa. Di desa kita disibukkan dengan kegiatan masing-masing, ke sawah, ke pasar, masak, mengobrol, makan, ibadah, tidur, jalan-jalan kalau pengen. Semua di lalui tanpa saling mengomentari baju, make up, atau duit. Meski tetap ada gosip dalam desa. Tapi aku tumbuh dalam keluarga yang untungnya ibu tidak terlalu memperhatikan gosip.

Lagi-lagi tentang orang tua, aku jadi kagum dengan didikan orang tua ku sendiri, yang selalu sabar dengan anak-anaknya, mendoakan anaknya, mensuport anaknya sebisanya, dengan membuat anaknya harus menerima, dimana usaha kita boleh sangat keras, tapi minta ke tuhan itu perlu. Hidup siapa yang membuat kita hidup, kok sampai lupa sama yang buat hidup.

Sabarnya lagi, aku minta suapin terus dan ibuku gak pernah nolak begitu juga alm. Bapak, ini sangat berbeda dengan ponakanku, dia masak sendiri, makan sendiri, dan kalau minta suap ibunya, ibunya ga mau nyuapin karena udah gede. Jadi bisa dibilang aku tetep jadi anak manja, tapi bedanya, aku tau prioritas aku dari kecil dididik keras dengan kakakku, kalau minta apa-apa harus kerja keras dulu, yang aku inget aku bisa di beliin boneka kalau aku juara 1, kalau aku engga juara ga di beliin.

Itu awal dimana aku terus mengejar untuk memberi tahu ke kakak-kakakku, adekmu bisa kak. Hingga sekarang, dan aku ga merasa aku harus di suruh masak, cuma hanya ya sebisanya aja, dan kalau soal cuci baju, aku sadar sendiri, denger cerita temenku yang nyuci waktu SD, aku jadi nyoba aja belajar nyuci waktu dulu, dan kemudian aku di pondok, jadi selayaknya ngurusin diri sendiri.

Aku dan mindset ku, aku bisanya belajar, dan berbau dengan buku, kakaku jualan, dan yang laki-laki sopir. Kami punya ciri khas masing-masing, dan aku mengamati bahwa orang yang berpendidikan memang enak hidupnya. Kakakku keren, karena mendukung pendidikan ku, selalu mengusahakan untuk aku bisa dan punya akses seperti yang didapat orang-orang di kota. Aku juga merasa bisa sadar diri, aku tidak mengecewakan mereka.

Huhh, soal mengecewakan, hanya tuhan yang tahu. Semoga aku tidak mengecewakan mimpiku sendiri. Aku mau tumbuh lebih baik dari sebelumnya, diriku yang sekarang harus lebih baik dari kemarin.


메타데이터
post_id
cd293bbc4450
slug
berbincang-cd293bbc4450
url
https://medium.com/@inintan/berbincang-cd293bbc4450
canonical_url
https://medium.com/@inintan/berbincang-cd293bbc4450
author_url
https://medium.com/@inintan
status
ok
fetched_at
2026-06-17 08:20:12