← Back to list

Menulis adalah bekerja untuk keabadian

"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." — Imam Al-Ghazali

Muh Idham Tahir · 2026-05-22 13:56 · 23 claps · 2.2 min read
#menulis #buku #abadi #membaca
Open on Medium ↗

Menulis adalah bekerja untuk keabadian

"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." — Imam Al-Ghazali

Sumber Pinterest

Sumber Pinterest

Akhir-akhir ini saya lebih banyak menghabiskan waktu membaca tulisan di aplikasi medium, setelah beberapa bulan yang lalu diperkenalkan oleh seorang kawan yang sudah menyandang gelar sarjana tahun lalu, dan kini sekarang ia jadi seorang penganggur yang waktunya ia habiskan membaca buku-buku berat, bacaannya lebih menyeramkan dari saya.

Menyelami Medium dan tulisan di dalamnya membuat saya tersadar, bahwa di muka bumi ini semua hal bisa kita tulis, dari yang ringan tentang perjalanan hidup kita sendiri hingga pada pembahasan bagaimana Tuhan menciptakan manusia.

Jika mengingat kebelakang, medium sendiri bukan pelarian pertama saya dalam menulis. Pertama kali saya menulis sebuah tulisan panjang yang amat sangat panjang atau yang bisa dibilang biografi diri dan lika liku perjalanan, yakni pada kelas tiga Tsanawiyah.

Pada saat kelas tiga Tsanawiyah, tepatnya libur semester, lembar-lembar soal atau hasil ujian semester berserakan dalam kamar, saya bepikir dari pada kertas ini terbuang sia-sia baiknya bagian belakang saya tulisi, saya belum punya laptop saat itu, hendpon pun hanya mampu dipakai untuk kirim pesan, sebab memori penuh berisi file game PPSSPP sepakbola PS 3, itu wajib ada, penghiburan.

Hari itu pertama kalinya saya ingin menulis, tapi apa yang harus saya tulis ?

Hingga pada saat saya terbangun tengah malam seperti biasanya, saya kembali duduk diam dimeja TV yang sudah saya jadikan meja belajar, tetiba saya terkenang masa-masa pada saat saya mondok dulu dikalimantan.

Saya berpikiran bagaimana kalau saya menulis masa-masa saya pas mondok saja, toh layaknya buku Lima Menara karya Ahmad Fuadi, atau buku Qasidah Maribeth, buku yang bercerita tentang anak-anak pesantren, kalau tidak salah pengarangnya orang Luwu, Sulawesi Selatan.

Jadi malam itu saya kuras memori dalam ingatan saya tentang cerita saya di pondok dulu. Dari menulis tangan dan memakai kertas berkas ujiam semester, tulisan itu berhasil rampung jadi 12 Bab, tapi sialnya, semasa saya SMA, tulisan itu hilang, mungkin dibuang oleh kakak perempuan saya yang tiap harinya membersihkan rumah dan membuang apa-apa yang di matanya mengganggu.

Di SMA pun saya juga mulai memperdalam tulisan saya, bukan tulisan panjang, tapi belajar menulis puisi dan sajak yang dibina langsung oleh guru muda dan Alumni di SMA saya dulu.

Berbeda dengan anak-anak SMA lainnya yang asyik pacaran atau cinta-cintaan, saya memilih jalur berbeda, Sajak dan puisi jadi pelarian kala menyukai seseorang, menyimpannya dalam buku catatan atau melemparnya ke Wattpad untuk di baca banyak orang.

Di Wattpad saya banyak menulis tentang puisi kekaguman, rasa cinta dan penyesalan, lebih banyak menggambarkan keindahan sang yang di cinta. Sialnya seringkali seorang kawan meminta dibuatkan puisi atau surat cinta untuk ia kirimkan buat gebetan dan pacar.

Selain menulis puisi dan sajak di wattpad ada tiga cerita panjang yang saya tulis, tentang kisah cinta beda agama, Gombalan maut ala Remaja dan kisah masa-masa SMA saya sendiri, agak memalukan kalau diingat, tapi jika dibaca cukup membuat diri nostalgia.

Dan saat ini saya lebih ingin fokus dan menulis di Medius, laptop rusak, dan beberapa tulisan terbengkalai didalamnya.

“Bagi saya menulis adalah pelarian dari gilanya negara saat ini.” Muh Idham Tahir


메타데이터
post_id
cd36b6d35f69
slug
menulis-adalah-bekerja-untuk-keabadian-cd36b6d35f69
url
https://medium.com/@idhammuh908/menulis-adalah-bekerja-untuk-keabadian-cd36b6d35f69
canonical_url
https://medium.com/@idhammuh908/menulis-adalah-bekerja-untuk-keabadian-cd36b6d35f69
author_url
https://medium.com/@idhammuh908
status
ok
fetched_at
2026-06-24 11:06:28