Unproductive Heat or Winter Depression?
Bagaimana Suhu Memengaruhi Performa Sehari-hari
Unproductive Heat or Winter Depression?
Bagaimana Suhu Memengaruhi Performa Sehari-hari
Photo by Timon Studler on Unsplash
Mending kepanasan atau kedinginan?
Meski sama-sama gak enak, aku pribadi lebih memilih kedinginan haha. Kita coba telusuri landasan empirisnya (dan juga mencari alasan untuk menyalahkan suhu atas derita hidup!).
Selama tiga weekend terakhir, aku berkesempatan untuk pulang ke Bandung untuk beberapa keperluan. Kepergian bolak-balik Jakarta-Bandung ini membuatku semakin me-notice betapa kontras suhunya. Setiap kali keluar mobil travel dan memasuki udara Dipatiukur, aku seolah telah diteleportasi ke alam yang lebih segar — meski sekarang suka membuat bindeng di pagi hari.
Di satu sisi, mungkin saja bias karena aku selalu sampai di Bandung pada saat malam hari, tapi toh aku juga biasanya kembali ke Jakarta di malam hari — udara malam Jakarta tetap saja memiliki hawa yang panas, berat, dan menekan (gak kayak Bandung!). Dinginnya Bandung — walau sekarang kadang membuat bindeng — selalu akan kupilih ketimbang tak nyamannya Jakarta itu.
Oh pantes aja orang Jakarta demen amat ke Bandung hahaha
Hal ini — beserta prevalensi AC di mana-mana —membuatku semakin ngeh dengan suhu dan efek-efeknya terhadap performa kita sehari-hari. Ini malah membawaku dalam rabbit hole informasi dan observasi, dari tren AC di Singapura dan India, seasonal affective disorder di negara empat musim, dan efek makro luar biasa dari hal sesederhana suhu.
The Cost of Heat
Photo by George Chandrinos on Unsplash
Bayangkan masa-masa bekerja terlelah yang pernah kamu jalankan — entah nugas yang bebannya gak ngotak gara-gara kebut semalam, overtime di kantor yang jamnya mulai gak kondusif, atau pun ‘sekadar’ pekerjaan rumah yang tak habis-habis — capek kan?
Sekarang, bayangkan kamu harus mengulangi hal tersebut di bawah terik mentari. Sambil keringatmu mengucur dan seolah ngebul dari permukaan tubuh. Semakin sulit bekerja, bukan?
Kalau kita pikir-pikir, panas itu semacam invisible tax: pajak terhadap kinerja kita. Diam-diam, ia memangkas kemampuan kita untuk bekerja dan berpikir secara optimal. Ternyata, hal ini terbukti secara empiris dan kausal.
Dalam suatu *paper, bos sayah, Benjamin Olken, dan rekan-rekan menunjukkan bahwa di negara-negara panas, setiap kenaikan suhu tahunan membuat ekonomi ngeden* sedikit lebih keras. Spesifiknya, suhu yang panas mengakibatkan produksi pertanian turun, performa industri terganggu, dan stabilitas sosial-politik turut terpengaruh.
Di level yang lebih mikro, efeknya terasa juga. Sekolah-sekolah di Amerika Serikat menemukan bahwa hari-hari yang panas menurunkan pencapaian belajar sehari-hari: murid jadi lebih sulit berkonsentrasi dan performa tesnya melemah. Begitu ruang kelasnya dipasang AC, efek negatif ini hampir hilang. Sebagai pembelajar ergonomi di kuliah S1, aku ingat Pak Icel beberapa kali membahas anekdot dengan pola serupa untuk kasus pekerja pabrik, pekerja konstruksi, sampai pegawai kantoran. Ternyata, tubuh manusia lebih optimal ketika lebih dingin.

Hal inilah yang disadari oleh Lee Kuan Yew, sang pemimpin/diktator yang mentransformasi Singapura dari negara terbelakang menjadi negara maju. Salah satu faktor sukses Singapura baginya adalah AC. Bahkan dia sendiri yang ngomong:
Kalau begitu, seolah it’s settled — lebih baik dingin. I would say: not so fast.
Dingin Juga Ada Harganya
Photo by Aaron Burden on Unsplash
Ada alasan mengapa orang Barat berbondong-bondong ke negara tropis untuk berlibur di sekitar bulan Desember sampai Maret.
Ternyata, dingin juga ada konsekuensinya.
Di belahan dunia empat musim, musim dingin sering datang bersama fenomena seasonal affective disorder, disingkat dengan apik menjadi SAD (seperti perasaannya). SAD adalah gangguan emosional yang munculnya musiman. Gejalanya adalah perasaan yang hampa, energi dan motivasi yang tetiba turun, dan suasana sehari-hari yang seolah terasa lebih murung.
Orang-orang menyebutnya winter depression. Dahulu, sewaktu kecil, aku selalu meragukan eksistensi winter depression karena toh bahagia-bahagia aja. Namun, rupanya aku kurang mendewasa aja haha. Saat terakhir ber-winter di Amerika Serikat pada akhir 2022, aku ingat itu beberapa masa ter-galau dalam hidup (instead of blaming myself, mari kita salahkan suhunya hahaha). Ternyata ril, euy.
Para ilmuwan menduga bahwa penyebab utama dari winter depression atau SAD ini kemungkinan besar adalah kombinasi dari kurangnya cahaya matahari dan perubahan ritme biologis tubuh. Jadi, sebenarnya, bukan salah ‘dingin’ per se, tapi lumayan lah setidaknya kita tahu kalau musim dingin juga ada harganya wkwk.
Selain itu, ‘harga’ dari sebuah dingin adalah beban dari AC itu sendiri. Aku baru sadar akan hal ini ketika mengobrol dengan rekan satu acara training di India yang sedang meneliti tentang demand for cooling, tepatnya permintaan untuk AC di India. Di India, dengan iklim yang makin ekstrem dan kelas menengah yang tumbuh cepat, permintaan AC diprediksi melonjak beberapa kali lipat dalam dua dekade. AC, dalam banyak kasus, memang memberikan kenyamanan dan produktivitas.
Sayangnya, semua kenyamanan ini datang dengan “tagihan”: penggunaan listrik yang meningkat (kata temanku Adel yang mengurus HSE kompresor, butuh lebih energi untuk mendinginkan ketimbang memanaskan) dan penggunaan refrigeran yang berpotensi memperburuk pemanasan global.
Jatuhnya malah ada dilema lucu: semakin panas dunia, semakin kita membutuhkan AC; tapi semakin kita memakai AC, semakin besar potensinya bahwa dunia akan panas.
Titik Temu?

Di tahun ini, Singapura me-launching gerakan “Go 25”, sebuah upaya nasional untuk menekan penggunaan AC, setidaknya paling rendah suhu 25 °C. Gerakan ini diberlakukan baik untuk rumah maupun untuk kantor dan bangunan publik. Begitulah upayanya untuk menekan lingkaran setan AC, meski berpotensi costly secara kualitas tidur, pembelajaran, dan kesehatan mental (cek gambar yang kuning bagian sebelumnya).
Apa hasilnya? Sepertinya terlalu dini untuk menyimpulkan apa-apa — meski media sosial dipenuhi dengan orang-orang Singapura yang komplain tentang persoalan ini (toh negara sekecil itu se-ngaruh apa terhadap upaya lebih green kalau ada gerakan ini?, katanya). Aku sendiri mungkin akan turut merasakan, sebab sekarang juga sedang mengetik ocehan ini di bandara, menunggu penerbangan ke Singapura hahaha. (Ya, itu aja sih alasannya aku kepikiran menulis ini)
Kesimpulannya? Kini, aku sendiri yang bingung dan dilema moral dengan AC di kost maupun di kantor hahahaha. Apakah secara mikro dia berpengaruh? Apakah kenyamanan dan produktivitasku worth untuk didongkrak dengan suhu yang lebih dingin? Mengapa orang Bandung malas-malas dan slow living meski di sana lebih dingin?
Maybe we will never know. Terima kasih telah ikut memikirkan.
Tulisan penulis tidak mewakili instansi manapun.
메타데이터
- post_id
- cd4cdc28151a
- slug
- unproductive-heat-or-winter-depression-cd4cdc28151a
- url
- https://medium.com/@rakeanradya/unproductive-heat-or-winter-depression-cd4cdc28151a
- canonical_url
- https://medium.com/@rakeanradya/unproductive-heat-or-winter-depression-cd4cdc28151a
- author_url
- https://medium.com/@rakeanradya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 21:52:29