Yang “Aku–Kamu” ketika Mesra tetapi Berubah Jadi “Gue–Elo” saat Marahan Bukan Istri Saya Saja, Kan?
Membaca suasana hati dalam perubahan sapaan sehari-hari
FRAGMEN BAHASA
Yang “Aku–Kamu” ketika Mesra tetapi Berubah Jadi “Gue–Elo” saat Marahan Bukan Istri Saya Saja, Kan?
Membaca suasana hati dalam perubahan sapaan sehari-hari

Foto oleh Antonio Calissi di Unsplash.
Belum jadi anggota Medium? Klik di sini untuk lanjut membaca secara cuma-cuma. 🔑🔓
Istri saya punya darah Makassar dari mamanya dan punya darah Bugis dari papanya. Namun karena lahir dan besar di sekitaran Jakarta, dia terbiasa menggunakan sapaan “gue–elo” kepada teman-temannya, dulu juga termasuk kepada saya. Barulah ketika saya menemui kedua orang tuanya untuk meminta izin membangun hubungan yang lebih serius serta meminta waktu menabung dan mengumpulkan biaya pernikahan, dia mulai mengubah sapaannya kepada saya menjadi “aku–kamu”.
Sejak saat itu sampai sekarang, “aku–kamu” selalu jadi bentuk dasar (unmarked form) sapaannya untuk saya. Bentuk ini beralih menjadi “gue–elo” ketika dia sedang kesal kepada saya atau marahan dengan saya. Secara gramatikal, tak ada yang berubah. Orang yang dirujuk tetap sama: saya. Namun secara emosional, suasana percakapan jadi terasa berbeda.
Fenomena semacam ini menunjukkan bahwa bahasa bisa jadi sarana mengelola hubungan, mengungkapkan sikap, serta menandai jarak sosial. Di balik peralihan sapaan dari “aku–kamu” menjadi “gue–elo” yang tampak sederhana, saya mendapati lapisan-lapisan makna yang dengan memahaminya, saya makin sadar bahwa hubungan antarmanusia tak hanya hidup melalui tindakan-tindakan besar saja, tetapi juga melalui pilihan kata yang mungkin jarang disadari oleh para penuturnya sendiri.
Bahasa dan Relasi yang Ia Bawa
Variasi dalam **sosiolinguistika** menekankan bahwa bentuk bahasa tertentu selalu membawa informasi sosial tertentu pula. Variasi ini tak pernah sepenuhnya acak. Opsi-opsi bentuknya terkait erat dengan identitas, kelompok sosial, maupun situasi komunikasi. Pilihan antara “aku” atau “gue” dan “kamu” atau “elo” dalam kasus istri saya pun membawa nuansa hubungan yang berbeda.
Ketika istri saya menggunakan “aku–kamu”, dia tak hanya merujuk pada dua orang yang sedang berbicara. Dia juga sedang membangun suasana tertentu: suasana yang lebih personal, lebih akrab, dan lebih hangat. Sebaliknya, penggunaan “gue–elo” menandakan dia sedang memberi jarak dalam relasinya dengan saya. Dia juga sedang menegaskan bahwa karena sedang marahan, kami sedang dalam posisi “enggak sedekat itu”.
Fenomena ini juga bisa kita soroti melalui konsep **indeksikalitas**, di mana bentuk-bentuk bahasa berfungsi sebagai penunjuk terhadap makna sosial tertentu. Ketika istri saya mengalihkan bentuk sapaan dari “aku–kamu” menjadi “gue–elo”, perubahan yang terasa bukanlah perubahan referensi, melainkan perubahan suasana hubungan yang sedang diindeks oleh bahasa. Hasilnya, kata-kata yang sama-sama merujuk pada orang yang sama bisa menghasilkan kesan emosional yang begitu berbeda.
Pergeseran Gaya dan Identitas yang Berganda
Sadar atau tidak, tiap orang sesungguhnya punya lebih dari satu identitas linguistik. Kita berbicara secara berbeda ketika berdiskusi di kantor, bercakap dengan sahabat lama, berbicara kepada orang tua, dan ketika berbicara kepada pasangan. Dalam sosiolinguistika, fenomena ini terpaut kuat dengan konsep **pergeseran gaya**.
Seorang perempuan yang lahir dan bessr di sekitaran Jakarta seperti istri saya kemungkinan besar memang tumbuh dengan “gue–elo” sebagai bahasa sehari-harinya. Namun ketika menjalin hubungan romantis, dia mengembangkan pola komunikasi baru yang lebih intim dalam wujud penggunaan “aku–kamu”. Setelah menikah, pola ini jadi bagian dari identitas hubungan rumah tangga. Bahasa pun akhirnya bukan lagi sekadar milik individu, tetapi juga menjadi milik pasangannya.
Saat sedang marahan, istri saya kembali kepada gaya bahasa yang paling mendasar baginya, yakni gaya yang mengiringi tumbuh kembangnya sebagai penutur bahasa. Dalam keadaan emosi yang tertawan kekesalan, energi mental memang lebih banyak digunakan untuk mengelola perasaan daripada mengelola gaya ujaran. Akibatnya, laras yang biasanya dia gunakan dalam suasana romantis pun sementara tergeser oleh laras yang lebih spontan.
Dari sudut pandang ini, kita bisa mengarifi bahwa perubahan dari “aku–kamu” ke “gue–elo” tak serta-merta mengindikasikan berkurangnya cinta atau kasih sayang. Yang berubah hanyalah posisi identitas yang sedang ditampilkan. Pada saat itu, istri saya memang tak sedang berbicara dengan identitas sebagai mitra romansa saya, melainkan sebagai individu yang sedang kecewa, jengkel, kesal, atau marah kepada pasangannya.
Jarak yang Tercipta oleh Kata
Melalui konsep muka positif dan muka negatif dalam **teori kesantunan**, kita memahami bahwa kita punya kebutuhan untuk menjaga kedekatan hubungan, sekaligus menjaga otonomi diri. Dalam keseharian kita, kedua kebutuhan ini tak selalu berjalan beriringan. Ada kalanya kita ingin merasa dekat dengan orang lain, tetapi ada kalanya pula kita butuh ruang untuk diri kita sendiri.
Konflik sering kali jadi momen yang menguatkan kebutuhan akan ruang sendiri. Menariknya, bahasa menyediakan berbagai cara untuk menciptakan ruang ini. Tak perlu kita selalu tegas berkata “aku lagi pengen sendiri”. Kita bisa mengekspresikannya cukup melalui perubahan intonasi, pilihan kata, atau dalam kasus saya, bentuk sapaan.
Dalam kerangka ini, penggunaan “gue–elo” dalam pernikahan yang terbiasa menggunakan “aku–kamu” terpahami sebagai salah satu cara untuk menegosiasikan jarak emosional sementara. Jarak ini tentu bukan pemutusan hubungan. Ia lebih menyerupai gerak mundur beberapa langkah agar seseorang bisa dengan lebih dingin mengelola emosinya sebelum kembali hangat mendekat. Bahasa memungkinkan berlangsungnya proses itu tanpa perlu kentara kita mengungkapkannya.
Oleh karenanya, perubahan dari “aku–kamu” ke “gue–elo” bisa terasa lebih dari sekadar pergantian pronomina biasa. Ia mengangkut serta perubahan posisi emosional yang diwakili oleh pronomina tersebut. Oke, mungkin ini terdengar berlebihan. Akan tetapi, saya rasa menjalani hubungan yang telah berlangsung bertahun-tahun membuat saya menjadi sangat peka terhadap sinyal-sinyal kecil dari istri saya yang mungkin tak tertangkap oleh orang selain saya.
Tata Bahasa yang Dibangun Bersama-Sama
Bagi saya, salah satu aspek paling menarik dari pernikahan adalah bagaimana suami-istri melanggengkan terbentuknya sistem komunikasi bersama. Dalam sistem komunikasi ini, pasangan yang hidup berdampingan perlahan-lahan mengembangkan tata bahasa rumah tangga mereka sendiri. Tata bahasa ini tak tertulis dalam buku mana pun. Ia lahir dari ribuan percakapan, candaan, konflik, dan momen-momen keseharian lain yang dijalani bersama-sama.
Dalam tata bahasa rumah tangga ini, sebuah kata memperoleh makna yang jauh lebih kaya daripada makna kamusnya. Juga sepotong panggilan sayang sebelum memulai percakapan, sebuah emoji atau stiker favorit di WhatsApp, atau sebentuk peralihan pilihan kata tertentu. Maka tak mengherankan kalau seseorang bisa merasakan perubahan suasana hati pasangannya bahkan sebelum ada penjelasan apa-apa. Memang ada pola komunikasi yang bisa kita baca.
Dalam **sosiolinguistika interaksional**, makna suatu kata memang tak terletak pada kata itu sendiri, melainkan pada bagaimana kata tersebut digunakan dalam suatu konteks tertentu. Dalam lanskap percakapan di Jakarta dan sekitarnya, “gue–elo” tentu tak selalu berarti sedang marahan. Ada banyak juga pasangan suami-istri, lebih lagi dalam lingkungan keluarga Betawi, yang menggunakan pilihan kata ini dengan penuh kasih sayang sepanjang hidup mereka.
Namun ketika penggunaan “gue–elo” ini terjadi dalam konteks hubungan di mana “aku–kamu” telah lama menjadi norma kedekatan, maka hal tersebut merupakan sebentuk penyimpangan. Dalam situasi ini, muncul makna khusus yang bobotnya tak berada pada kata-katanya, tetapi pada perubahan pilihan katanya. Dan saya kira, yang “aku–kamu” ketika mesra tetapi berubah jadi “gue–elo” saat marahan bukan istri saya saja.
Bahasa Sebagai Penghias Kehidupan Rumah Tangga
Hidup kita, termasuk hidup berumah tangga, tersusun atas keputusan-keputusan yang kita ambil. Menggeser “aku–kamu” menjadi “gue–elo” merupakan salah satu keputusan itu. Dalam kasus saya, ia menampakkan diri sembari menandakan munculnya kekesalan, yang menggeser sementara mesra-mesraan demi memberi panggung kepada preferensi ingin marahan untuk menguasai arena percakapan.
Kasus yang barangkali serupa adalah ketika suasana hati Aisyah radhiyallahu anha sedang tak sebagus biasanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,Aisyah yang biasanya mengucapkan “demi Rabb Muhammad” memilih menggantinya menjadi “demi Rabb Ibrahim”. Riwayat ini menegaskan bahwa saat hati merasa kesal, jengkel, atau marah, menghindari penggunaan kata-kata yang biasa digunakan saat mesra-mesraan itu manusiawi. Tak mengapa dan tak ada dosa padanya.
Dari sini kita belajar bahwa alih-alih kita maknai sebagai hilangnya cinta, pergeseran penggunaan kata-kata tertentu dalam kehidupan rumah tangga justru bisa kita maknai bahwa hubungan itu masih hidup dengan sehat, masih aman untuk memunculkan emosi, dan masih nyaman untuk dijalani bersama-sama dan berlama-lama.
Kita juga bisa belajar betapa pentingnya bagi suami-istri untuk memiliki frekuensi komunikasi yang nyambung, meski latar belakang pendidikan, profesi, suku, bahasa, bahkan kekayaan keluarga bisa saja berlainan. Dalam banyak interaksi komunikasi berdua, ini juga bisa beririsan dengan tingkat julid yang sama, tingkat nyinyir yang sama, atau bahkan tingkat “mudah istighfar” yang sama setelah asyik bergosip bersama-sama.
Dan mungkin, nyambung-nya frekuensi komunikasi ini bisa jadi filter awal memilih pasangan, daripada nanti malah mengorbankan diri dan memaksa melakukan banyak pemakluman. Apalagi makin lama kita dan pasangan hidup bersama, akan makin sadarlah kita bahwa bahasa tak lagi sekadar jadi alat komunikasi, tetapi sudah berubah jadi rumah tempat hubungan romansa itu kita tinggali.
Terima kasih telah membaca sejauh ini. Jika menyukainya, mungkin kamu juga akan menyukai tulisan-tulisan saya tentang **buku, [film dan musik](https://ringgo.medium.com/list/music-0d42ebfd8fc4), [linguistika](https://ringgo.medium.com/list/linguistics-b96094909652), [refleksi diri](https://ringgo.medium.com/list/reflections-85ee21d6f0ec), dan yang [lainnya](https://ringgo.medium.com/list/others-cf2bebaa976a)**.

Foto oleh Yalda J di Unsplash.
메타데이터
- post_id
- cd5ecbe817f8
- slug
- yang-aku-kamu-ketika-mesra-tetapi-berubah-jadi-gue-elo-saat-marahan-bukan-istri-saya-saja-kan-cd5ecbe817f8
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/yang-aku-kamu-ketika-mesra-tetapi-berubah-jadi-gue-elo-saat-marahan-bukan-istri-saya-saja-kan-cd5ecbe817f8
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/yang-aku-kamu-ketika-mesra-tetapi-berubah-jadi-gue-elo-saat-marahan-bukan-istri-saya-saja-kan-cd5ecbe817f8
- author_url
- https://medium.com/@ringgo
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 13:13:48