Saat Ide Hanya Dihargai “Nol” Rupiah
Dalam proses kegiatan kreatif -khusunya menulis- ide menjadi pondasi awal terciptanya sebuah karya. Tanpa ide mungkin sesuatu tidak akan…
Saat Ide Hanya Dihargai “Nol” Rupiah
Photo by Nick Fewings on Unsplash
Dalam proses kegiatan kreatif -khusunya menulis- ide menjadi pondasi awal terciptanya sebuah karya. Tanpa ide mungkin sesuatu tidak akan pernah lahir dan benar-benar ada.
Para ahli mendefinisikan ide sebagai hasil pengalaman dan proses berpikir manusia. Seperti halnya yang disampaikan oleh John Locke bahwa ide adalah segala sesuatu yang menjadi objek pemikiran manusia. Ide berasal dari pengalaman, baik melalui indera (sensasi) maupun refleksi.
Di sisi lain, Plato seorang filsuf besar dari Yunani Kuno memandang ide sebagai sesuatu yang abadi dan sempurna yang berada di dunia pemikiran (ide), bukan dunia nyata. Menurutnya, apa yang biasa kita lihat di dunia hanyalah bayangan dari ide yang sejati.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ide adalah hasil pemikiran manusia yang memiliki dua sisi. Satu sisi ide berasal dari pengalaman dan apa yang kita pikirkan sehari-hari. Di sisi lain, ide juga dipahami sebagai suatu yang abstrak dan sempurna, yang menjadi dasar dari apa yang kita lihat di dunia nyata.
Jika dilihat pada definisi ide dapat dikatakan sesuatu yang bernilai tinggi karena untuk bisa melahirkan sebuah ide perlu ada pengalaman, proses berpikir, dan pergulatan batin seseorang. Sehingga saat ide diambil tanpa penghargaan, yang diabaikan bukan sekadar gagasan, tetapi juga pengalaman yang melahirkannya. Seperti yang terjadi pada kasus Amsal Sitepu.
Amsal Christy Sitepu atau Amsal Sitepu merupakan seorang videografer asal Kabupaten Karo. Ia terjerat kasus dugaan korupsi pembuatan video profil desa yang dituntut dua tahun penjara. Ada hal yang saya soroti dari kasus yang ramai diperbincangkan pada Maret 2026 itu, yaitu terkait pembiayaan yang terdapat dalam proposal yang diajukan dianggap sebagai mark up anggaran.
Dilansir dari metrotvnews.com, dalam keterangannya Amsal bercerita, dalam proposal tersebut termuat rincian biaya ide senilai Rp2 juta dan biaya lain seperti cutting dan editing senilai masing-masing Rp1 juta. Namun, oleh auditor dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) menilai poin-poin itu seharusnya nol rupiah.
Sewaktu saya melihat rincian tersebut, terutama ide yan dihargai nol rupiah -menurut auditor dan Jaksa JPU- saya merasa marah. Karena saya juga termasuk orang yang memerlukan ide sebagai pondasi utama untuk bisa menciptakan sebuah karya, terutamanya dalam proses menulis.
Menurut saya, untuk harga sebuah ide itu tidak terukur karena berbeda dengan harga sebuah barang yang memang sudah ada harga pasarnya sendiri. Bisa jadi ide justru seharusnya ide dihargai lebih tinggi karena prosesnya yang tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu hal yang mudah. Harus disadari bahwa ide itu mahal.
Begitu pula dengan halnya, Widhi NRS seorang pelukis lokal asal Cianjur menyebutkan bahwa ide yang dihargai nol rupiah itu merupakan sebuah kejahatan.
”Dihargai no rupiah itu bukan penghargaan tapi kejahatan, lain hal ketika memang tidak dirupiahkan karena itu berangkat dari kreatornya sendiri,” tuturnya saat saya tanyai pada Kamis (2/4) lalu.
Widhi terbiasa mencari ide dan menungkan ide pada kanvas sehingga menjadi sebuah karya seni rupa. Ia melihat kasus yang terjadi pada Amsal Sitepu menjadi sebuah pelajaran dalam menentukan sebuah angka biaya produksi.
”Kalau ada kesepakatan yang sifatnya project itu tidak bisa meski biaya produksinya sangat kecil karena harga karya seni itu tidak ada standarnya,” tambahnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dalam dunia kreatif, nilai tidak selalu dapat diukur dengan parameter yang kaku. Ide, sebagai inti dari karya, justru menjadi bagian yang paling esensial sekaligus paling sulit dihitung secara nominal.
Seringnya, yang dilihat hanya hasil akhir dari sebuah proses berkarya, seperti video yang rapi, tulisan yang utuh, atau lukisan yang indah. Namun, pada prosesnya yang melibatkan pencarian ide justru luput dari perhatian. Padahal, tanpa ide, tidak akan ada proses lanjutan yang bisa dilakukan.
Ketika ide dianggap tidak memiliki nilai ekonomi, maka yang terjadi bukan hanya pengabaian terhadap individu kreator, tetapi juga pengerdilan terhadap dunia kreatif itu sendiri. Hal ini berpotensi mematikan semangat berkarya, terutama bagi mereka yang masih berjuang untuk diakui.
Ide bukan sekadar titik awal dari sebuah karya, melainkan inti yang menghidupkan seluruh proses kreatif. Ide lahir dari pengalaman, pemikiran, dan pergulatan batin yang tidak sederhana. Oleh karena itu, menghargai ide “nol rupiah” bukan hanya keliru, tetapi juga menghilangkan makna kerja kreatif itu sendiri.
Kasus yang terjadi pada Amsal Sitepu menjadi cerminan bahwa masih ada cara pandang yang belum sepenuhnya menghargai proses kreatif secara utuh. Jika ide terus dipandang sebagai sesuatu yang tidak bernilai, maka bukan tidak mungkin dunia kreatif akan kehilangan daya hidupnya.
Sudah seharusnya kita mulai menyadari bahwa menghargai karya berarti juga menghargai ide di dalamnya. Karena dari ide-lah, awal dari segala sesuatu tercipta.
메타데이터
- post_id
- cd7863f8bf09
- slug
- saat-ide-hanya-dihargai-nol-rupiah-cd7863f8bf09
- url
- https://medium.com/@aksaradiberandaa/saat-ide-hanya-dihargai-nol-rupiah-cd7863f8bf09
- canonical_url
- https://medium.com/@aksaradiberandaa/saat-ide-hanya-dihargai-nol-rupiah-cd7863f8bf09
- author_url
- https://medium.com/@aksaradiberandaa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 13:29:15