← Back to list

Swastamita diujung cakrawala meluapkan rona merah muda pada pangkal senyummu yang kian tenggelam…

Tiada rasa sukar yang lebih dalam daripada ketika sepasang hati harus merentangkan jarak pada satu pertemuan yang selalu didamba. Kita…

Wisala Gautama · 2025-11-21 15:06 · 10 claps · 4.3 min read
#catatan-perjalanan #masa-muda #cerita-lama #berani-bicara #tentang-rasa
Open on Medium ↗

Wisala Gautama, 4 Februari 2022

Wisala Gautama, 4 Februari 2022

Swastamita diujung cakrawala meluapkan rona merah muda pada pangkal senyummu yang kian tenggelam oleh temaramnya malam. Senyummu, yang biasanya kukenali seperti fajar yang lahir perlahan di ufuk timur, kini lebih mirip bayangan burung yang terbang menjauh, mengecil, dan hilang di balik kerimbunan senja. Pada sore itulah, pada lengkung cahaya terakhir yang menggantung di antara langit dan kota, aku menyadari bahwa waktu telah tiba untuk merelakanmu pergi — bahwa perpisahan akhirnya menemukan tanggalnya sendiri, tanpa perlu persetujuan dari dua hati yang masih saling menginginkan.

Tiada rasa sukar yang lebih dalam daripada ketika sepasang hati harus merentangkan jarak pada satu pertemuan yang selalu didamba. Kita telah menghabiskan hari demi hari menunggu sebuah temu yang sering kali tak lebih panjang dari sepertiga purnama. Namun justru dalam singkatnya waktu itulah kita membangun semesta kecil — semesta yang lahir dari tatapan malu, dari senyum yang enggan lepas, dari percakapan-percakapan sederhana yang seolah memerangkap rindu agar tak berlarian ke mana-mana. Dan kini, semesta itu harus kulepas, meski jiwaku menjerit menahan kepergianmu.

Seberapa lama pun menjelajahi waktu bersama orang yang didamba, waktu yang bergulir tak ubahnya kilau petir. Kita berupaya menggenggamnya, namun ia tetap menyelinap dari sela-sela jemari, meninggalkan hanya bekas cahaya yang melekat diingatan. Tetapi meski demikian, dari waktu yang singkat itu lahir pula beragam rasa; keriangan-keriangan baru yang tak pernah dijumpai ketika kita disibukkan oleh urusan duniawi — bekerja, menerima gaji, pulang, lalu terbaring di ranjang sambil berharap esok tak datang terlalu cepat. Rasa bahagia sederhana yang lahir dari tegur sapa, dari perjalanan kecil, dari tawa yang saling memantul satu sama lain hingga memenuhi ruang antara kita.

Sampai tiba saatnya kedua hati bertemu, menatap malu, saling melempar senyum, dan sekali lagi melahirkan kegembiraan yang bahkan dunia pun seakan ikut merayakan. Peradaban memang telah menyediakan banyak cara untuk menuntaskan rindu — telepon, pesan, video, atau layar apa pun yang memantulkan wajahmu. Namun tetap saja, rasa yang terbit di relung sukma tak pernah sama dengan ketika kita bersua. Hanya saat kau berdiri dihadapanku, dengan rambutmu diusap lembut angin kota, barulah aku merasa dunia berhenti sejenak, memberi tempat bagi dua hati yang jatuh cinta dengan cara paling manusiawi.

Lalu malam datang memunggungi sang mentari, memaksa bibirmu tenggelam dalam sunyi. Aku akhirnya mengerti bahwa alam pun seolah tahu: pertemuan kita tak bisa diperpanjang tanpa batas. Ada waktu yang harus dihormati, ada keadaan yang tak bisa dinegosiasikan, ada batas yang tak boleh dilewati oleh cinta yang lahir dalam senyap. Kau berdiri di sisiku dengan tatapan yang mengatakan banyak hal; namun semua yang tak terucap itu lebih menyayat daripada kata-kata perpisahan mana pun.

Sampai tiba diujung pertemuan, kita harus melepaskan genggaman. Kita menjadi sepasang sunyi yang — dengan tubuh terguncang oleh kerinduan yang belum sempat matang — tetap berupaya menari. Menari di antara batas yang ditetapkan keadaan. Menari dalam ruang kosong yang hanya sesekali disinari sayup suara kota. Menari meski tahu langkah terakhir akan memisahkan arah kita selamanya.

Aku berharap waktu dapat bermurah hati, memberi restu agar sepasang hati ini dapat bertemu lagi. Namun dunia tak pernah memberikan jaminan untuk sebuah harapan, terutama pada harapan yang tumbuh ditanah yang tak bisa kita miliki. Aku mencoba berbaik sangka kepada semesta, namun semesta justru menjawab dengan takdir yang tak pernah kuundang: bahwa kelak, satu-satunya pertemuan kita hanyalah untuk melihatmu tersenyum dalam hidup yang bukan lagi melibatkan namaku.

Kau akan mengenakan gaun yang memantulkan cahaya. Kau akan menunduk ketika cincin itu disematkan pada jari manismu. Di matamu mungkin ada haru, namun bukan untukku. Dan aku, aku hanya akan menjadi bayang-bayang samar yang dulu pernah berjalan bersamamu dibalik Tugu Muda — tempat di mana kita berbagi cerita, tawa, dan diam yang paling jujur. Aku akan menjadi penonton dari jauh, berdiri ditepian hidupmu yang baru, sambil menggenggam erat sisa-sisa keberanian yang kupunya agar aku bisa tersenyum walau dadaku sesak tak terkira.

Aku pernah membayangkan masa depan kita. Membayangkan rumah kecil tempat kita pulang bersama, kursi kayu yang kita beli dari pasar loak, aroma kopi yang kau sangrai sendiri pada pagi yang malas. Namun semua itu kini hanyalah pecahan mimpi — menjadi serpihan yang melayang diudara sebelum akhirnya jatuh perlahan ke tanah. Disanalah ia akan terkubur, menjadi kenangan yang tak akan kutinggalkan namun harus kupelajari untuk tidak kunjungi terlalu sering.

Meski begitu, cinta yang kupunya untukmu bukanlah cinta yang harus memiliki. Cinta yang lahir dari pertemuan-pertemuan singkat dan keheningan-keheningan panjang itu adalah cinta yang diajarkan untuk merelakan. Cinta yang memahami bahwa kebahagiaanmu lebih penting daripada keinginanku sendiri. Cinta yang tidak menuntut balasan. Cinta yang, meski hancur, tetap ingin melihatmu utuh.

Kita telah menjadi sepasang hati yang ditemukan oleh semesta hanya untuk kemudian dipisahkan oleh takdir. Bukan karena kita tak berjuang, tetapi karena kita tidak diberi ruang. Ada garis yang tak bisa kutembus; garis yang memisahkan antara keinginan dan kenyataan. Kau telah memilih jalanmu, jalan yang tidak menghadirkan namaku sebagai masa depanmu, tetapi sebagai seseorang yang pernah kau sayangi dengan cara paling lembut dan rahasia.

Dan aku… aku akan tetap melanjutkan hidup. Meskipun sering kali aku merasa hidup adalah perjalanan panjang dimana setiap langkahnya harus dilakukan sambil menyeret bayangmu yang tak kunjung pudar. Namun aku tahu, pada akhirnya, manusia memang harus terus berjalan meskipun hatinya tertinggal dipersimpangan waktu. Pada akhirnya, setiap dari kita harus belajar merelakan sesuatu yang tak bisa digenggam selamanya.

Tiada lagi sebuah jumpa yang penuh romansa dalam pertemuan kita nanti selain bahagiaku melihat buah hatimu tumbuh dengan cinta kasih dari jantung hati yang telah meminangmu. Kelak, jika suatu hari aku melihatmu menggandeng anakmu, mengenalkan dunia padanya, aku akan berdiri dikejauhan sambil mengikatkan senyum yang paling tulus. Aku akan menatapmu dengan hati yang telah berdamai — bukan karena tak lagi mencintaimu, tetapi karena cinta itu akhirnya menemukan bentuknya yang paling dewasa: mengikhlaskanmu.

Sebab mencintaimu adalah perjalanan, namun merelakanmu adalah tujuan yang harus kucapai. Dan meskipun perpisahan membuatku remuk, aku tahu, hidup harus terus berjalan. Kota akan tetap berdiri, lampu-lampu akan tetap menyala, dan waktu akan terus bergulir — bahkan tanpa kita berjalan berdampingan.

Di bawah Tugu Muda, di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah sepenuhnya tidur, aku mengucapkan perpisahan yang paling sunyi. Bukan karena aku ingin mengakhiri cinta ini, tetapi karena cinta ini ingin melihatmu bahagia, sekalipun aku bukan rumah tempat kau kembali.

Dan pada akhirnya, biarlah aku menjadi hujan yang meresap diam-diam ditanah hidupmu. Engkau tak perlu mengingatnya, tak perlu merasakannya setiap saat. Cukup tahu bahwa suatu ketika, pernah ada seseorang yang mencintaimu dengan seluruh dirinya — tanpa pernah meminta apa pun selain kesempatan untuk menyayangimu, meski hanya dari kejauhan.


메타데이터
post_id
cd78bc375b28
slug
swastamita-diujung-cakrawala-meluapkan-rona-merah-muda-pada-pangkal-senyummu-yang-kian-tenggelam-cd78bc375b28
url
https://medium.com/@wisalagautama/swastamita-diujung-cakrawala-meluapkan-rona-merah-muda-pada-pangkal-senyummu-yang-kian-tenggelam-cd78bc375b28
canonical_url
https://medium.com/@wisalagautama/swastamita-diujung-cakrawala-meluapkan-rona-merah-muda-pada-pangkal-senyummu-yang-kian-tenggelam-cd78bc375b28
author_url
https://medium.com/@wisalagautama
status
ok
fetched_at
2026-08-06 15:34:05