Merasa Unik Karena Ada Kesamaan Dengan Filosof Besar, Sampai Dijadikan Tugas Akhir: Sebuah Refleksi
Berjalan separuh dari perjuangan perang untuk mendapatkan gelar sarjana di salah satu kampus ternama di Yogyakarta, Universitas Islam…
Merasa Unik Karena Ada Kesamaan Dengan Filosof Besar, Sampai Dijadikan Tugas Akhir: Sebuah Refleksi
Berjalan separuh dari perjuangan perang untuk mendapatkan gelar sarjana di salah satu kampus ternama di Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dikenal sebagai kampus inklusif serta terkenal dengan jargonnya ‘Integrasi-Interkoneksi’ yang digagas oleh Prof. Amin Abdullah. Sebagai mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam disingkat AFI yang sekarang berada di semester ke-4, merasakan banyak priori atau pengalaman yang didapat dari berbagai aspek, mulai dari prosos belajar, sistem belajar, sampai lingkungan belajar yang bisa dikatakan ‘lumayan’ dengan tolok ukur pendidikan di Indonesia.
Proses belajar di Yogyakarta secara umum, di kampus secara khusus, serta di lingkungan AFI secara detail begitu mengesankan, sebab melihat dalam hidup saya, baru di usia dewasa ini merasakan belajar yang benar-benar belajar dengan berbagai perspektif yang plural. Di sana diajari untuk tidak sektarian, tidak fanatik, serta tidak buta akan sebuah dogma. Dibenturkan dengan fenomena sosial, bahkan sosial terdekat saya, yaitu rekan-rekan dalam belajar yang menyadarkan akan pluralitas atau keberagaman, apalagi dalam konteks suku, budaya, sampai pada kepercayaan.
Saya selalu mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa selama menjadi penimbah materi filsafat dengan sikap pluralisme tersebut, acapkali bertemu dengan rekan yang kerap kali mempertanyakan Tuhan, bahkan skeptis terhadap agama “Allah neng ndi? Yesus kepiye? Biksu Buddha kok botak plontos ya?” pertanyaan yang sering dilontarkan sebagian rekan saya di lingkungan filsafat. Tetapi karena merujuk pada konsep pluralisme, apalagi saya sebagai mahasiswa filsafat yang cinta akan kebijaksanaan, pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak membuat pribadi saya kesal atau murka terhadap rekan saya, justru dengan itu saya diajak memeras otak untuk sama-sama mencari jawaban yang logis dan sistematis.
Kampus inklusif dengan gagasan melarutkan dan saling menyambungkan kajian Eropa-Amerika yang disebut bagian Barat dengan Asia-Afrika yang disebut bagian Timur serta dengan kajian Keislaman, yang mana gagasan ini disebutkan seperti di atas ‘Integrasi-Interkoneksi’ keilmuan, digagas oleh Prof. Dr. M. Amin Abdullah, seorang rektor dua periode pada tahun 2000–2010, karena gagasannya sistem belajar di UIN SUKA Yogyakarta tersistematis dan mampu menjembatani dinamika keilmuan antara fakultas bagian barat dengan fakultas bagian timur — sebutan untuk membedakan antara kampus yang dipisah oleh jalan Mukti Ali, yang kerap dibedakan dengan konotasi “kebarat-baratan” untuk kampus bagian barat, dan “ketimur-timuran” untuk kampus sebelah timur. Padahal sekadar letak lokasi saja. Toh prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) ada di kampus barat.
Inklusivitas kampus, tidak hanya direpresentasikan oleh mahasiswanya yang mampu berbaur dengan penyandang disabilitas dan membangun chemistry, para pengajar atau dosennya pun demikian. Seperti halnya dosen di AFI, ternyata ada dosen yang tidak berlatar belakang filsafat tetapi mengampuh mata kuliah yang pendekatannya filsafat, aneh tapi nyata. Setelah dirasakan metode pengajaran dosen tersebut, kerapkali mengelak pertanyaan-pertanyaan mahasiswanya, ada yang mengelak diimingi traktiran makan, ada yang mengangkat wibawahnya layaknya kyai di pesantren yang antikrtik, ada pula yang mengancam dengan nilai, ada yang jualan produknya, sampai ada dosen yang seksis secara penyampaian di kelas. Sungguh sangat inklusif sampai pada rekrutmen dosen, bukan?
Di lingkungan AFI tidak kalah menarik untuk direfleksikan dalam tulisan ini, sebab karena prodi inilah tulisan ini dibuat, yang ditugaskan oleh pengampuh mata kuliah Filsafat Barat Modern, Dr. Alim Roswantoro M.Ag. dikenal sebagai dosen humoris, edukatif, inspiratif, sampai cara penyampaiannya yang unik, yakni metode monolog layaknya tausyiah kyai di pengajian, saking uniknya namanya — Alim — bukan serapan dari bahasa Arab, tetapi karena ia adalah anak ke-5 (lima), yang mana ketika dibaca berulang — lima — menjadi namanya ‘Alim’. Mungkin tulisan refleksi ini akan panjang lebar dalam pembahasan lingkungan AFI, detailnya lingkaran mata kuliah Filsafat Barat Modern, entah itu kritik, saran, kesan, maupun pesan yang akan saya curahkan dalam tulisan ini.
Dalam beberapa pertemuan, dosen pengampuh mata kuliah Filsafat Barat Modern kerapkali menjeleskan tentang imperialisme, mulai dari imperialisme pengetahuan, politik, budaya, ekonomi maupun militer, dan beliau mengekspresikan kecaman terhadap tindakan imprialisme. Suatu ketika saya bertanya kepadanya “Mengapa kita masih menggunakan istilah Barat dan Timur dalam menyebutkan peta peradaban pak? Bukankah asumsi itu — Barat terhadap Timur — menimbulkan stigma, seolah peradaban Timur terdiskreditkan. Apalagi kita dianggap golongan dari peradaban Timur? Mengapa tidak menggunakan istilah geografi saja dalam pemetaan kajian filsafat, kita sebut filsafat Eropa-Amerika untuk geografi bagian barat — kan yang dibahas filosof-filosof dari sana, dan filsafat India-China untuk geografi bagian timur, misal?” Dari pertanyaan tersebut, saya sedikit ingat jawaban beliau “Sejarah sudah dihegemoni oleh peradaban Barat, dari hegemoni itu timbul dikotomi bahwa Barat cenderung ilmiah dan rasional, sedangkan di Timur cenderung intuitif. Jadi kita mengikuti saja, masak iya kita mau bikin istilah filsafat secara geografi sedangkan dinamika tidak sekadar berkutat di geografi.” Kata Dr. Alim Roswantoro.
Ketidakpuasan akan jawaban tersebut membawakan saya pada perenungan. “Berarti dosenku tidak benar-benar mengecam akan imperialisme, sebab segala bentuk hegemoni menurut saya adalah bagian dari imperialisme.” Sampai pada pertanyaan lebih lanjut “Mengapa tidak memulai dari perlawanan kecil — mengganti istilah Barat dan Timur dalam konteks kajian. Jika alasannya tidak bisa hanya sekadar mengada-ada, ya orang Eropa dulu juga berawal dari mengada-ada untuk mendikotomikan antara Barat dan Timur?” Sampai saat ini pun saya merasakan kejanggalan jika kita terdiskreditkan oleh istilah pendikotomian itu, mungkin karena bacaan dan pengetahuan saya tidak seluas gurun maupun samudera, jadi jawaban itu masih saya cari di forum lain.
Mengingat keunikan Dr. Alim Roswantoro, dalam penelitian tugas akhirnya mengambil Immanuel Kant, alasanya simpel, karena ia memiliki kesamaan dengan filosof tersebut, sama-sama mempunyai penyakit asma atau sesak nafas. Dari keunikan itu membuat saya sedikit nyeletuk terhadap mata kuliah yang diampuh. Filsafat Barat Modern menggunakan metode kajian tokoh, dan setiap presenter diajukan satu tokoh filosof dari Eropa-Amerika. Karena pengampuhnya unik dengan rekam jejak penelitiannya, maka celetukan saya adalah “seandainya tokoh yang dibahas ada Denis Diderot, pasti saya ambil pembahasan tokoh tersebut.” Bisa dibayangkan presenter mengambil tokoh karena namanya sama, pasti timbul keunikan tersendiri, bukan?
Siapa Denis Diderot?
Sedikit tentang Denis Diderot, ia adalah seorang penulis dan filsuf asal Prancis pada abad 18 M. Dianggap sebagai salah satu pemimpin pencerahan di Prancis, dijuluki “Bapak Ensiklopedi” di Prancis. Sumbangan pemikiran-pemikirannya di bidang sosial, politik, filsafat, dan industri. Dikenal juga sebagai penulis cerpen yang berdaya cipta tinggi dan novelis. Lahir pada 5 Oktober 1713 dari seorang ayah pengrajin dan pedagang alat potong, meninggal pada usia 70 tahun tepatnya pada 31 Juli 1784. Dia sekolah di Kolase Jesuit dan merupakan siswa cerdas, kehidupannya jauh dari kata mapan. Pada awalnya ia menjadi editor bahasa Inggris dan pada tahun 1747 dia bertemu dengan banyak pemikir dan menjadi editor ensiklopedi. Reputasinya naik sejak saat menggeluti ensiklopedi dan keberaniannya secara orisinil.
Diderot pada awalnya pembela teisme. Namun kemudian, dia berubah aliran kepada panteisme, hal ini disebabkan karena pengalamannya dalam menganalisa atom-atom dan bahkan benda-benda non organik yang sangat serat dengan perasaan. Bagi dia teologi dapat dan harus berdialektika dengan sains serta harus mampu memberikan jalan untuk mendeskripsikan sains.
Diderot juga membicarakan moral, ia bertanya ‘dari mana datangnya moral?’ Dia merefleksikan pertanyaan itu sampai pada satu jawaban. Bahwa kata Diderot, dimulai dari diri sendiri, dari setiap individu. Seseorang yang merefleksikan dirinya sendiri adalah sebuah proses alamiah untuk menyetujui sikap-sikap tertentu, konsekuensi atasnya namun tidak melihat kualitas dari sisi alasan dan perasaan lain dari dirinya. Dan itu yang disebut insting, tidak berhubungan dengan organ tubuh, tetapi ranah kejiwaan itu sendiri.
Mungkin demikian essai refleksi dari saya, tawaran ini tidak hanya diperuntukkan kepada pengampuh mata kuliah Filsafat Barat Modern, tetapi bagi siapapun yang membacanya. Diharap pemikiran Diderot dapat dijadikan bahan diskusi di perkopian, walaupun hasil pemikrannya tidak sebesar tokoh yang Dr. Alim Roswantoro teliti, yaitu Immanuel Kant dengan deontologinya. Sangat singkat saya menjelaskan tentang Diderot, dan akan saya panjang-panjangkan di essai selanjutnya dalam mengugurkan kewajiban Ujian Akhir Semester, masih dengan mata kuliah yang sama.
메타데이터
- post_id
- cd7feceab306
- slug
- merasa-unik-karena-ada-kesamaan-dengan-filosof-besar-sampai-dijadikan-tugas-akhir-sebuah-refleksi-cd7feceab306
- url
- https://medium.com/@mahmouddennish/merasa-unik-karena-ada-kesamaan-dengan-filosof-besar-sampai-dijadikan-tugas-akhir-sebuah-refleksi-cd7feceab306
- canonical_url
- https://medium.com/@mahmouddennish/merasa-unik-karena-ada-kesamaan-dengan-filosof-besar-sampai-dijadikan-tugas-akhir-sebuah-refleksi-cd7feceab306
- author_url
- https://medium.com/@mahmouddennish
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30