Recharge
Recharge

[embed]
Biar dapat feelnya, dengerin lagu ini aja yaaa…
PS: Cerita 18+ ahead. Harap membaca dengan bijak. Ini cuman fiksi dan tidak merepresentasikan kehidupan nyata siapa pun. Tetap hormati mereka as manusia utuh, dengan privasi, perasaan, dan kehidupan mereka di luar cerita ini. Love You….
Kellan benar-benar terlihat kelelahan hari itu. Foto terakhir yang dikirimkannya ke ponsel Nico memperlihatkan dirinya dengan kaus cokelat, rambut acak-acakan dan gurat lelah yang terpampang jelas di wajahnya.
Bagaimana tidak? Setelah berjam-jam berdiri memimpin operasi di rumah sakit, dia malah lanjut bermain basket bersama teman-temannya.
Namun, rasa lelah Kellan seolah menguap setiap kali ia mengingat Nico. Terutama saat mengingat bagaimana Nico mengomelinya habis-habisan lewat pesan singkat perkara kejadian tadi pagi.
Pagi itu, Kellan dengan sengaja mencuri kecupan kecil dan mencoba mengelus pinggang Nico di lorong. Sialnya, aksi itu dipergoki oleh Melani dan Jerry — dua manusia titisan bekantan yang merupakan orang paling berbahaya, karena Nico yakin hal ini akan dijadikan bahan ledekan sampai kiamat sekalipun.
Belum cukup sampai di situ, Nico dibuat kepalang kaget dan malu setengah mati saat berjalan menuju ruang ganti operasi. Kellan tiba-tiba memeluknya dari belakang, berniat bercanda sambil mengecup pipinya.
Naas, Melani dan Jerry kembali masuk di waktu yang salah. Alhasil, wajah Nico langsung memerah padam seperti kepiting rebus.
Pesan dari Melani dan Jerry tidak bisa dihindari, sampai di grup dokter umum pun, mereka menggoda Nico. Nico hanya bisa pasrah dan melempar semua kejengkelannya pada Kellan.
Omelan panjang Nico di chat sama sekali tidak membuat Kellan jera. Kellan justru tidak kuasa menahan gemas karena ia bisa membayangkan dengan jelas bagaimana bibir merah Nico maju beberapa senti karena jengkel — bibir yang sudah menjadi panganan favorit Kellan setiap hari.
Membayangkannya saja membuat Kellan ingin secepat mungkin sampai ke kosan Nico untuk menagih jatah ciumannya hari ini.
Begitu sampai di depan kos Nico, Kellan hanya mengetuk pintu satu kali.
Detik berikutnya, pintu langsung terbuka sedikit dan kepala Nico menyembul dari balik celah, menyuruhnya masuk dengan wajah yang masih ditekuk.
Namun, begitu Kellan melangkah masuk, ia tidak memberi kesempatan bagi Nico untuk mengeluarkan sepatah kata pun.
Kellan langsung menarik kepala Nico dan meraup ranum merah itu ke dalam sebuah ciuman yang dalam dan menuntut.
“Mphh — !”
Nico yang terkejut hanya bisa menepuk-nepuk bahu lebar Kellan karena pasokan udaranya mendadak menipis.
Kellan sempat melepaskan tautan bibir mereka sejenak, menyisakan liur yang mengilat di bibir basah Nico.
Kellan tersenyum tipis, tatapannya menggelap penuh damba, sebelum akhirnya kembali melahap habis bibir Nico tanpa ampun.
Nico yang sudah pasrah hanya bisa bersandar lemas pada dinding kamar, mencengkeram baju Kellan sebagai satu-satunya tumpuan. Udara di antara mereka semakin memanas saat tangan kekar Kellan mulai menyelinap masuk ke dalam baju Nico, mengusap kulit hangatnya. Sentuhan itu spontan membuat Nico mendesah tanpa sadar.
“Nggghh… mashh.”
Celah kecil itu langsung dimanfaatkan Kellan untuk memasukkan lidahnya, mengabsen dan menyusuri setiap sudut rongga mulut Nico dengan lihai.
Nico benar-benar dibuat tak berdaya dan bertekuk lutut.
Setiap kali berciuman, Kellan selalu sukses membuatnya kehilangan akal sehat.
Lelaki ini sungguh terlalu lihai.
Kembali kehabisan napas, Nico memukul dada Kellan agak keras. “Mas… t-tahan dulu,” cecar Nico dengan napas terengah-engah.
Ranum merahnya kini sudah tampak bengkak dan basah, sementara rambutnya berantakan akibat ulah jemari Kellan. “Katanya mau nginep di apartemen kamu, kan? Aku… aku mau siap-siap dulu.”
Kellan hanya terkekeh pelan melihat penampilan berantakan Nico yang justru terlihat seribu kali lebih menggoda.
Ia mengecup bibir bengkak itu beberapa kali, lalu duduk di ujung tampat tidur sambil menunggu Nico bersiap untuk menghabiskan malam panjang di apartemennya.
Begitu tiba di apartemen, Kellan benar-benar tidak ingin membuang waktu lagi.
Begitu pintu depan tertutup dan dikunci, ia langsung menyudutkan Nico dan menariknya ke dalam ciuman panjang yang jauh lebih menuntut dari sebelumnya.
“Nggghhhh, m-mas sebenhtah…” Nico melenguh, mencoba meminta jeda.
Namun, Kellan sudah tidak mendengar atau memedulikan apa pun lagi. Hasratnya sudah di ubun-ubun.
Tangan Kellan kembali menyusup ke dalam kaus Nico yang sedikit kebesaran, meraba dan mengelus, menggerayangi pinggang rampingnya dan dada Nico dengan posesif. Nico memejamkan mata erat, merasa tubuhnya seperti dilempar dan melayang hingga ke langit ke tujuh.
Kellan terus meraup bibir Nico, sebelum akhirnya menurunkan kecupannya ke arah rahang, lalu turun ke leher putih kekasihnya. Di sana, Kellan menghisap dan menggigit kulit sensitif Nico dengan intens, memberikan beberapa tanda cinta kemerahan yang kontras — layaknya sebuah cap kepemilikan yang tegas agar besok semua orang di rumah sakit tahu bahwa Nico sudah ada yang punya.
Setelah ciuman panas yang menguras energi itu berakhir, Kellan memapah Nico yang sudah lemas ke sofa. Mengingat kalau mereka berdua butuh energi, Kellan beranjak ke dapur untuk membuat makan malam.
Malam itu mereka habiskan dengan makan bersama di sofa, saling bertukar cerita tentang lelahnya hari ini, diselingi tawa kecil sambil menonton film yang berputar di layar televisi.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sampai film usai. Saat malam semakin larut dan mereka memutuskan untuk pindah ke tempat tidur, Kellan tidak menyia-nyiakan waktu sedikit pun.
Begitu tubuh mereka menyentuh ranjang, Kellan langsung “menerkam” Nico dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Kellan menciumi, menyentuh, dan menjelajahi setiap jengkal tubuh kekasihnya tanpa ampun. Nico dibuat kewalahan setengah mati, tubuhnya meliuk sensitif di bawah kungkungan Kellan.
Sepanjang malam, kamar itu dipenuhi oleh suara desahan Nico yang lolos tanpa henti, hingga suaranya hampir serak, karena Kellan benar-benar tahu persis di mana letak titik-titik sensitif yang bisa membuatnya bertekuk lutut pasrah di bawah kuasanya.
— Kratinggdaengsupper
메타데이터
- post_id
- cd8e6cd70643
- slug
- recharge-cd8e6cd70643
- url
- https://medium.com/@kratinggdaengsupper/recharge-cd8e6cd70643
- canonical_url
- https://medium.com/@kratinggdaengsupper/recharge-cd8e6cd70643
- author_url
- https://medium.com/@kratinggdaengsupper
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30