Petuah dari Empat Khalifah
#4: Diadaptasikan dari Ngaji Rutin Ahad Wage Ke-4
Petuah dari Empat Khalifah
#4: Diadaptasikan dari Ngaji Rutin Ahad Wage Ke-4
Majelis Ngaji Rutin tiap Ahad Wage Temu Muka ke-4 ini membahas kutipan-kutipan bijak dari khulafaurasyidin: (1) Abu Bakar Siddiq, (2) Umar bin Khattab, (3) Usman bin Affan, dan (4) Ali bin Abi Talib. Secara berurutan, inilah tiap ungkapan (atau lazim disebut āṡār) dari keempat sahabat kinasih Nabi saw. itu.

Ilustrasi: BINSAM/Pinterest
وَعَنْ أبِيْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: “مَنْ دَخَلَ الْقَبْرَ بِلَا زَادٍ فَكَأَنَّما رَكِبَ الْبَحْرَ بِلَا سَفِيْنَةٍ.”
Barang siapa yang memasuki (alam) kubur tanpa membawa “bekal” diibaratkan dengan orang yang berjalan menyeberangi lautan tanpa safinah.
وَعَنْ عُمَرَ رَضِيَ الله عَنْهُ: “عِزُّ الدُّنْيَا بِالْمَالِ وَعِزُّ الْآخِرَةِ بِصَالِحِ الْأَعمَالِ.”
Kemewahan hidup di dunia (dapat dicapai) dengan mal, sementara kemuliaan di akhirat (bisa digapai) dengan bagusnya amal.
وَعَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: “هَمُّ الدُّنْيَا ظُلْمَةٌ فِي الْقَلْبِ، وَهَمُّ الْآخِرَةِ نُوْرٌ فِي الْقَلْبِ.”
Kemurungan akibat memikirkan urusan duniawi bisa menjadi zulmat di dalam hati, sedangkan kemasygulan sebab hal-hal ukhrawi (justru) menjadi nur Ilahi di dalam hati nurani.
وَعَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: “مَنْ كَانَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَتْ الْجَنَّةُ فِيْ طَلَبِهِ، وَمَنْ كَانَ فِيْ طَلَبِ الْمَعْصِيَةِ كَانَتِ النَّارُ فِيْ طَلَبِهِ.”
Barang siapa yang menyibukkan diri untuk bertalabulilmi hakikatnya sedang memburu surga. Sementara itu, siapa saja yang disibukkan mencari (jalan gelap) untuk bermaksiat berarti sama saja dengan menjerumuskan diri ke neraka.
Mari, kita ikuti ulasannya di bawah ini.
Dalam kutipan Sayidina Abu Bakar, kita diajari bagaimana cara memanajemen aktivitas di dunia. Di dunia, kita seyogianya menyiapkan segala hal dalam menyambut dimensi alam kubur. Sebab, meninggal tanpa membawa bekal ibarat orang berlayar tanpa sampan. Dari sini kita akan sadar betapa urgennya kesiapan bekal yang bersifat ukhrawi.
Berikutnya, kita disuguhi penjelasan mengenai kriteria kemuliaan dalam sudut pandang duniawi dan ukhrawi. Ketika kita ingin mulia di dunia, gampang saja caranya: tinggal cari uang sebanyak-banyaknya, menimbun aset yang bertahan lama. Namun, karena kita sudah sadar betapa perlunya bekal ukhrawi, perlulah juga memperhatikan kemuliaan ukhrawi, yakni dengan kontinu melaksanakan amal-amal saleh. Ini menjadi poin utama yang perlu menjadi perhatian. Sebab, hal ini sering kali diabaikan hanya karena dampaknya tak langsung dirasakan dalam hidup.
Padahal, kutipan ketiga menjelaskan bagaimana ciri orang yang sudah siap bekal ukhrawi secara mental. Keresahan akan urusan duniawi akan membuat hati tak tenang, rasanya ingin selalu emosi, dan kesejahteraan serasa hilang seketika walau sudah memiliki semua. Namun, jika kita sibuk meresahkan dan memikirkan urusan ukhrawi sebagai prioritas, akan terasalah dampaknya dalam hati yang makin hari makin adem ayem walau hidup dalam kekurangan. Ini menjadi dampak utama yang bisa kita rasakan secara langsung. Orang yang berorientasi akhirat kemampuan manajemen emosionalnya akan lebih bijak ketimbang yang orientasi urusannya duniawi.
Lalu, bagaimana gambaran orang yang orientasinya ukhrawi? Pertanyaan ini dijawab oleh kutipan keempat, yakni dengan merawat tradisi belajar. Melestarikan budaya berpikir dengan lurus merupakan amal yang saleh yang orientasinya kepada akhirat. Sebab, setiap kali melakukan aktivitas belajar, kita akan menemukan satu ujung sebagai titik temu, yakni Tuhan YME. Kita akan memiliki edukasi dan pengetahuan betapa hebatnya kuasa Tuhan dan betapa pentingnya kesadaran terhadap kehidupan akhirat. Tidak percaya? Coba saja. Belajar juga perintah Nabi, maka ketika kita menurutinya, mengalirlah kebaikan kita karena melakukan amal yang saleh.
Walhasil, sebagai manusia, tak ada alasan lagi untuk menghindar dari perintah mempersiapkan bekal ukhrawi. Tidak bisa sedekah karena miskin, tidak bisa bersikap sopan karena emosian, dan tidak bisa puasa karena sakit agaknya tidak bisa diterima. Sebab, ada solusi konkret yang bisa digunakan segala kalangan, yakni belajar. Tentu, belajar tak perlu menunggu kita duduk di bangku kelas ataupun dengan mata menghadap ke buku. Tak ada alasan untuk tidak beramal saleh. Jangan remehkan kebaikan sekecil apa pun itu.
Semoga kita semua terus diberi tambahan hidayah oleh Allah Swt. Wallahualam bissawab.
Pemroduksi tulisan: M. Kholil AlMuhajjaly
메타데이터
- post_id
- cd91be8ac80b
- slug
- petuah-dari-empat-khalifah-cd91be8ac80b
- url
- https://medium.com/@alikhlasmedia313/petuah-dari-empat-khalifah-cd91be8ac80b
- canonical_url
- https://medium.com/@alikhlasmedia313/petuah-dari-empat-khalifah-cd91be8ac80b
- author_url
- https://medium.com/@alikhlasmedia313
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-01 09:13:42