Jam Tangan Nelayan
Setelah kabur sebentar dari realita, hari ini waktu kembali berjalan dengan kecepatan normal. Kadang ia berjalan lambat, namun ini jarang…
Jam Tangan Nelayan
Setelah kabur sebentar dari realita, hari ini waktu kembali berjalan dengan kecepatan normal. Kadang ia berjalan lambat, namun ini jarang terasa padaku. Kebanyakan, kami saling mengejar entah aku yang di depan atau ia yang di depan. Jam dinding tenang tenang saja menggelantung, sedangkan aku pelan pelan dimakan oleh setiap dentangnya.
Secara aturan universal, perhitungan waktu satu menit sama dengan enampuluh detik namun menurutku konsep waktu bisa berbeda bagi setiap orang di suatu tempatnya masing masing. Bagi orang yang sejak ia bangun pagi, ia sudah berada di tebing sungai bebatuan bersalju di Norwegia sana mungkin akan terkejut. Bagaimana tidak, setelah ia melamun menatap kosong pemandangan di depan matanya, menyiapkan makan dan kopi paginya, memberi makan monyet monyet dan ternaknya, jam tangannya masih menunjukkan jam delapan pagi. Matahari sedang hangat hangatnya. Namun, lain halnya konsep waktu bagi seorang anak muda yang pernah mencari jati diri tapi tak pernah jumpa hingga sibuk mencari hal yang menurutnya lebih krusial dan masuk akal baginya. Baginya kadang lima belas menit seperti selamanya atau dua minggu yang lalu baru terjadi kemarin.
Di suatu sore di musim panas, matahari sedang terbenam sempurna, bulat penuh seperti kuning telur ayam kampung. Hanya siluet kapal nelayan yang seperti memberi watermark pada lukisan karya Ratu Samudera. Ketika matahari baru seperempat terbenam tiba-tiba cahayanya semakin terang dan sangat menyilaukan kemudian menjadi padam sama sekali dan kembali menyilaukan kemudian padam lagi dan terus berulang ulang. Orang orang berteriak ketakutan, menutup mata mengepalkan tangan memanggil manggil nama Ibu, Leluhur maupun nama sang Pencipta. Sedangkan nelayan itu senang bukan kepalang, tak pernah ia melihat ini selama setengah abad ia melaut. Ia hanya pasrah, mengikuti waktu membawanya ikut bersama matahari yang akhirnya tenggelam.
Tak ada terjadi apa apa setelah itu, hanya sisa ketakutan orang orang akan berakhirnya waktu namun yang terjadi kemudian hanyalah sebuah perpindahan, dari matahari yang berkedip kedip menuju langit gelap yang di isi satu bulan yang sedang digigit oleh awan berbentuk beruang.
메타데이터
- post_id
- cdabd13a0441
- slug
- jam-tangan-nelayan-cdabd13a0441
- url
- https://medium.com/@sickicun/jam-tangan-nelayan-cdabd13a0441
- canonical_url
- https://medium.com/@sickicun/jam-tangan-nelayan-cdabd13a0441
- author_url
- https://medium.com/@sickicun
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-25 03:40:03