Tahu Kamu Bahagia Membuatku Bahagia
Diari 4
DIARI
Tahu Kamu Bahagia Membuatku Bahagia

Ilustrasi oleh Daniel Liévano untuk novel A Wild Sheep Case, Haruki Murakami
Aku duduk di dalam bioskop. Tanpa popcorn dan tanpa Coke (kupikir tidak baik membelinya terus-terusan — dua kali lipat dari harga tiket jelas tidak baik untuk dompetku). Tapi itu sebenarnya bukan masalah. Selama dua jam penuh, camilan itu bahkan tak terpikir sedikit pun. Satu-satunya hal yang kupedulikan hanyalah film di depanku. Aku larut. Aku merasakan Eternity. Kemudian aku menangis. Banyak. Entah kenapa film itu mengingatkanku padanya.
Dan itu memunculkan kembali pertanyaan lama, pertanyaan yang sama di Materialist: “Apa yang membuat mereka begitu cocok satu sama lain?” Aku tidak tahu, tapi seperti yang Celine Song utarakan, mungkin karena “latar ekonomi yang mirip? Sejalan secara politik? Sama-sama menarik? Pola asuh yang serupa?” Atau… mungkin sesuatu yang lain? Sesuatu seperti Larry dan Joan, yang bertahan bersama selama enam puluh tujuh tahun.
Ini selalu menjadi pertanyaan besar bagiku.
Sayangnya, keberadaan Larry dan Joan tidak lebih dari wujud sebuah film berjudul Eternity. Aku tidak bisa berlari menghampiri mereka, berlutut, lalu dengan lembut bertanya, “Apa bahan rahasianya?” Tidak, dunia tidak bekerja seperti itu. Dan kalaupun bisa — anggap saja bisa, misalnya — aku rasa jawabannya akan begini: Mengetahui kamu bahagia membuatku bahagia.
Percayalah, kalimat itu tidak sesederhana kedengarannya. Ia membutuhkan kerelaan yang tidak terukur. Kerelaan untuk melihat istrimu — yang kau tunggu selama enam puluh tujuh tahun, atau yang hidup bersamamu selama enam puluh lima tahun — menemukan kebahagiaannya di tempat lain. Bersama seseorang yang kamu tahu membuatnya bahagia. Itulah kenapa aku terisak ketika Luke dan Larry menunjukkan hal itu pada Joan.
Pada titik tertentu dalam hidup kita, setidaknya sekali, aku rasa hal ini terjadi pada kebanyakan orang: menginginkan orang yang kita cintai bahagia, meski itu berarti kita tidak lagi menjadi bagian dari kebahagiaan itu. Dan begitulah. Dia tidak duduk di kursi sebelahku di dalam bioskop.
Tapi, kamu tahu, itu tidak apa-apa. “Karena mengetahui kamu bahagia membuatku bahagia.”
메타데이터
- post_id
- cdb0ee3954a2
- slug
- tahu-kamu-bahagia-membuatku-bahagia-cdb0ee3954a2
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/tahu-kamu-bahagia-membuatku-bahagia-cdb0ee3954a2
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/tahu-kamu-bahagia-membuatku-bahagia-cdb0ee3954a2
- author_url
- https://medium.com/@justjeki
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 17:05:31