Jalan menuju Dia
Tulisan ini bukan analogi sok manis. Sebuah cerita tentang bagaimana usaha menemui Dia, kekasih yang kurindukan, di jam pulang kerja di…
Jalan menuju Dia
Tulisan ini bukan analogi sok manis. Sebuah cerita tentang bagaimana usaha menemui Dia, kekasih yang kurindukan, di jam pulang kerja di Jakarta.
Jarak antara kantorku ke kantor Dia adalah 10 Km. Jika digunakan keterangan waktu maka dibutuhkan antara 30 sampai 35 menit dalam keadaan normal (Bold and underline).
Namun kawan, ini adalah Jakarta. Sebuah kota dimana warganya bergerak bersama dalam suatu waktu karena satu perintah yang sama, pulang atau pergi kerja. Ketika berada dalam waktu tersebut maka dapat dipastikan jalanan akan penuh entah bus, mobil pribadi, sepeda motor, skuter listrik, sampai bu-ibu mendorong gerobak jualannya menuju lokasi berdagang. Sehingga dengan keadaan seperti itu maka dapatlah diduga betapa ramai dan padat dan macetnya jalanan. Dan itu berlaku di semua jalur.
Aku berkata jujur soal ini, karena walaupun tak sebanyak jalan ke Roma jalan ke kantor Dia bisa menggunakan 5 cara tergantung pilihan. Pilihannya berada di lampu merah di depan rumah sakit Tarakan. Dalam perjalanan menuju kesitu bisa lewat Tomang atau lewat Cideng tapi kesemuanya padat. Ketika sudah berada di Lampu Merah depan Rumah Sakit Tarakan, baiklah buka aplikasi maps dan lihat mana pilihan jalan yang lebih baik, seringnya lewat Kebon Sirih.
Jalan Kebon Sirih ini adalah sebuah jalan dengan 4 Lajur, masing-masing 2 untuk tiap arah. Pada hari weekend jalanan ini adalah pilihan menyenangkan karena dapat diduga akan sepi dan pasti di aplikasi maps akan berwarna biru. Tapi, kawan di hari kerja khususnya di jam pulang kantor jalan tersebut akan berwarna merah. Penyebabnya dikarenakan adanya kantor di sepanjang jalan itu sehingga ketika semua pegawai disana pulang maka mereka akan masuk dan menambah volume kendaran di jalan Kebon Sirih. Di jam pulang kantor, jalan yang kecil itu juga akan dilalui oleh bus-bus entahlah konvensional ataupun milik daerah. Begitulah kemudian bagaimana jalan tersebut menjadi rame dan macet. Jalan Kebon Sirih ini melewati lampu merah kemudian masuk jalan Kebon Sirih lagi.
Jalan Kebon Sirih setelah lampu merah ini adalah sebuah jalan satu arah yang besar yaitu 5 lajur. Di jalan ini banyak pekerja pejalan kaki yang akan menyeberang dari sisi satu ke sisi satunya kemungkinan tujuannya adalah ke stasiun KRL. Maka meskipun sebenarnya lancar di jam pulang kantor tapi haruslah berhati-hati dan waspada pada jalur penyeberangan, karena walaupun sudah ada Lampu Merah untuk kendaraan tapi kalau tidak waspada justru tidak bisa melihat dan dapat menyebabkan celaka. Dengan demikian akhirnya sampailah ke lampu merah terakhir jalan Kebon Sirih. Di depan ada Tugu Tani ambil bundaran kemudian ke arah kiri. Jalan Cikini.
Banyak sekali komplain tentang Jalan Cikini ini, sampai sampai dibahas dan menjadi statement salah satu cagub. Jalan nya satu arah besarnya agaknya mirip seperti jalan kebon sirih sebelum lampu merah yang berbeda adalah sebab kemacetannya.
Jalanan Cikini ini memuaskan untuk para pejalan kaki dikarenakan trotoar nya yang besar dan rapi. Aku menikmati kencan dengan berjalan kaki di trotoar di jalan ini. Sebagai seorang pendatang, aku kurang tahu apakah jalan cikini ini adalah sebuah jalan bersejarah, karena sepertinya iya. Taman Ismail Marzuki, Institut Kesenian Jakarta ada di jalan ini menambah menariknya jalan ini. Terkait dengan transportasi umum, di jalan ini bus transjakarta dan angkot gratis beroperasi karena memang disekitarannya banyak kantor-kantor dan pengguna transportasi umum. Jalan Cikini memang dikenal dengan TIM dan IKJ tapi di sisi jalan ini juga ada beberapa bar yang bakal bikin setiap malam rame dan banyak mobil parkir di sisi jalanan. Itulah yang sebenarnya masalah di jalanan Cikini, banyak mobil yang parkir di sisi jalan sehingga memakan badan jalan.
Setelah melewati perjalanan ini tibalah aku di kantor Dia. Sesuai ekspektasi membutuhkan waktu paling lama 40 menit dalam keadaan macet untuk sampai bertemu Dia, melihatnya berlari menghampiri dan tersenyum “ahh akan tetap aku tempuh demi Dia.”
메타데이터
- post_id
- cdc0aba6ea10
- slug
- jalan-menuju-dia-cdc0aba6ea10
- url
- https://medium.com/@sayafabry/jalan-menuju-dia-cdc0aba6ea10
- canonical_url
- https://medium.com/@sayafabry/jalan-menuju-dia-cdc0aba6ea10
- author_url
- https://medium.com/@sayafabry
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 20:06:42