← Back to list

TULISAN SEMAUNYA

Tulisan ini lahir dari semua keresahanku. Kali ini aku mau nulis ngasal, aku cuma mau keluarin semua yang aku pikirkan tanpa aku tutup…

Dwiendahlarasati · 2026-07-20 03:08 · 0 claps · 5.9 min read
#experience #emotional-resilience #survival #mental-toughness
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🚀 · Self Improvement

TULISAN SEMAUNYA

Tulisan ini lahir dari semua keresahanku. Kali ini aku mau nulis ngasal, aku cuma mau keluarin semua yang aku pikirkan tanpa aku tutup lagi. Mungkin ini bisa bantu aku juga untuk sembuh karena dari kesadaran lahir penerimaan. Bisa juga bantu aku untuk mengenali sebenarnya apa yang aku rasakan, kenapa semuanya jadi begini.

Aku gamau semua kekhawatiran ini jadi jalan untuk setan masuk ke dalam aliran darahku. Karena kata Ust. Faizar, segala kecemasan, kekhawatiran, kekecewaan, kegalauan adalah jalan masuknya setan. Mempermudah tugasnya untuk yuwaswis, menggoda manusia. Makanya ku kira inilah jalan satu-satunya untuk aku bisa masuk ke tahap penerimaan lalu lega.

AKU KENAPA?

Sejak lulus S1, 2016 I felt that i was not capable enough to be a teacher. Aku lulusan kimia tapi bahkan materi kimia beserta hitungannya tak bisa aku kuasai. Aku bisa ngikutin, tapi gak bisa dan gak siap untuk ngajarin ke orang lain. Aku gak siap kalau ada pertanyaan mendadak dari murid-murid. Lalu kekhawatiran ini berubah menjadi berlapis sejak aku tau bahwa menjadi guru, suatu saat juga harus siap menjadi pembina upacara. Untuk seorang introvert, ini tidak mudah. Tentu saja.

Perasaan “not capable enough” membuat aku bikin keputusan untuk S2 lagi karena aku mikir oh mungkin perasaan itu hadir sebab aku belum cukup ilmu untuk sharing ke orang lain. Mungkin nanti ketika aku udah S2, confidence yang aku punya nambah. I spent time 1 tahun lamanya, konsisten dan fokus untuk mempersiapkan segala persiapannya. Aku belajar TOEFL, TPA, dsb untuk benar-benar bisa masuk UI. Menurutku lulus dari kampus yang harum namanya ini bakalan bisa lah dengan gampang cari kerja. Makanya aku pilih UI bukan yang lain. Juga, karena UI persyaratannya lebih ringan tapi gak gampang karena tetap menghadapi SIMAK UI. Hanya saja gak ada rencana penelitian. Jadi untuk aku yang juga gak terlalu tertarik sama penelitian, yang tentu saja belum punya gambaran mau meneliti apa, ini kesempatan bagus.

Tapi ternyata, setelah aku lulus S2 pun, mengajar masih tetap menakutkan untukku. Darimana aku bisa tau itu menakutkan? Tentu saja gak adil aku bisa bilang gitu ketika aku belum pernah mencoba kan? Aku udah nyoba, walaupun aku penuh dengan keraguan. Aku nyoba ngajar, anak SMP. Tapi ternyata lingkungannya kurang bagus. Aku gak dikasih space untuk mengeksplor diri. Lingkungannya gak bisa untuk bertumbuh. Dari pengalamanku yang ini, muncul ketakutan baru, aku takut jadi pembina upacara. Seharusnya aku gak bisa takut tapi ya itu yang terjadi. Lalu apakah berhenti di situ? Enggak. Karena aku tetap aja melamar jadi guru. Hasilnya? Ditolak. It hurts me tentu saja. Lulusan S2 UI, mau jadi guru di seekolah internasional, ditolak. Makin keliatan gak capable nya kan?

Tiba-tiba, bapakku entah darimana ngobrol sama temannya yang anaknya lulusan kimia USU, yang udah ngajar dan pulang dari ketemuan itu, aku ditanya mau gak ngajar di Soetomo? Sekolah swasta yang isinya anak-anak pinter. Aku yang bisa mengukur diri ini, cukup sadar, di sekolah biasa aja aku harus fighting sama self confidence, ini sekolah sekelas soetomo? How’s the way I get there? Aku lulusan UI tapi seperti yang aku bilang, I’m not smart enough to be there. Aku tolak tawaran itu. Jahatnya otakku bilang “di sekolah internasional biasa yang prestasinya gak gimana-gimana banget (selain karena anak-anak orang kaya yang sekolah) aja aku gak lolos, gimana bisa aku punya kepercayaan diri untuk berdiri di depan anak-anak Soetomo?”

IMPOSTER SYNDROME

Belakangan aku baru mengerti bahwa ini bukan hanya tentang self confidence, ini tentang imposter syndrome. Perasaan tidak pernah cukup, dipuji selalu ketakutan dan menolak, cenderung melihat rendah diri sendiri adalah beberapa sign untuk orang-orang imposter syndrome.

Dalam kasusku, kondisi ini makin diperkeruh dengan komentar jahat orang lain. Aku beneran mengangguk setuju ketika membaca sebuah buku “Yes You Are Good EnoughEnd Imposter Syndrome, Overthinking, Perfectionism and Do What You Wanna Do” karya Trish Taylor. Taylor bilang:

“Waktu kita bangun pagi, ada suara-suara yang kita dengar meragukan kita, bilang kita gak bisa melakukan sesuatu. Kadang komen orang lain yang menyakitkan itu kita simpan di alam bawah sadar. Komen itu bisa merusak rasa percaya diri kita, menghilangkan peluang, dan bikin kita gak kemana-mana. Sampai akhirnya, cruel comment itu kita kasih kesempatan untuk jadi nyata.

Itu yang bikin kita juga menghindari kegagalan dengan cara yang sangat sederhana. Apa itu? Jangan pernah mencoba, supaya kamu gak ngerasain gagal

Pada akhirnya aku terkunci dalam ruangan gelap dipenuhi kalimat jangan pernah mencoba supaya gak gagal dan ngerasain kecewanya.

LUKA YANG HARUS AKU KELUARKAN

Ada luka yang semakin memperparah keadaan. Aku menerima kalimat-kalimat menyakitkan bahkan itu dari orang terdekatku sendiri. Tapi, bukankah orang yang paling memungkinkan menyakiti kita adalah orang yang paling dekat dengan kita? Gitu kan emang mekanismenya? Disitu kan letak ujiannya?

Bukannya percaya dan membantu (gausah melakukan banyak hal, cukup kasih support, tanya kenapa dan percaya bahwa aku bisa keluar dari krisis ini) aku malah dipertanyakan, diminta ngajar ngajar ngajar. Aku yang mungkin terlihat gak ngapa-ngapain ini (padahal tetap apply lamaran, memperbaiki linkedin, coba mencerna semua dan tenang serta legowo menerima) diminta segera kerja.

Aku, diam aja sambil menunggu kerjaan? Enggak. Aku bantu usaha ibu. Bantu mengembangkannya, jual lewat online platform, mulai belajar bikin konten, aplikasikan ilmu kimiaku untuk mengembangkan produk. Aku willing untuk belajar tentang bagaimana menetapkan HPP, aku banyak baca buku bisnis, dengerin podcast bisnis. Tapi, tetap itu bukan pekerjaan kantoran, itu bukan tentang mengajar. Itu Gak terhormat, seenggaknya menurut bapakku beserta teman-temannya. Aku menjadi anak yang payah dan gak bisa dibanggakan hanya karena cuma jualan.

Temannya pernah beli ke warung dan tanya ke aku selama beberapa kali

“Udah? Kerja dimana? Udah dapat kerjaan?” “Kapan kerjanya?”

Kadang bisa kumaklumi kenapa bapakku terlalu menuntut aku untuk mengajar. Itu karena teman-temannya yang gila jabatan. Teman-temannya yang kurang pengalaman mencari kerja karena hidupnya enak. Mereka dengan segala privilege orang dalam entah dari orang tuanya atau saudara-saudaranya. Parahnya, mereka yang punya insight demikian, termasuk orang yang gak segan mempertanyakan pekerjaan kepadaku- tanpa tau bagaimana usahaku itu- adalah laki-laki, sudah menjadi kepala keluarga statusnya tapi juga gak bekerja. Yang bertanya kepadaku itu, kondisinya gak bekerja di kantor, di rumah cuma jadi agen BRI link, menikah tapi belum punya anak. Yang satu lagi, buka warung kelontong. Kalau aku jahat, bisa saja aku balikkan kondisi. Ikutan menyentil egonya dengan mempertanyakan, “Gimana om? Si ibu udah isi? Kapan lagi?”. Untungnya, aku masih punya empati karena aku sendiri pun gak suka kalau ada orang yang mempertanyakan hal yang bikin aku ovt.

Logikanya, siapa sih orang yang gamau segera punya anak? Siapa sih orang yang gamau punya rezeki banyak? Siapa sih orang yang gamau punya jawabatan keren? Siapa? Masalahnya semua itu diatur-Nya, di luar kuasa kita sebagai manusia.

Ranahku mungkin cuma sampai ikhtiar sekolah bagus, hidup bener gak ganggu orang lain, gak bikin sakit hati orang lain, berusaha keras, gak suudzon sama rencana Allah. Cukup sampai di situ.

Kalau orang jahat sama kita, kita seenggaknya punya pilihan untuk tetap jadi orang baik demi diri kita sendiri. Kebaikan akan berbalik ke kita kok. Bukan ke orang lain.

Waktu aku persiapan masuk UI pun, orang tetap bertanya-tanya, mencibir, mencemooh di belakangku

“Udah kuliah, nganggur di rumah” “Udah kuliah, malah jualan sayur”

Aku gimana waktu itu? Aku bisa tenang dan konversi energi marahku ke hal lain. Kenapa bisa tenang? Karena 2 hal. Pertama, aku menerima bahwa memang aku sedang gak kerja. Mau marah sama omongan mereka pun buat apa? Faktanya memang aku gak kerja. Mereka cuma akan percaya dan ngomong sesuai dengan apa yang mereka lihat dari luar. Mereka gatau alasan di balik kenapa aku nganggur dan gak kerja. Kedua, aku gamau menjelaskan kepada orang-orang yang energinya gak sama dengan aku. Aku pernah baca satu kalimat bagus “diskusilah dengan orang yang sebanding denganmu.” Kita gak butuh menjelaskan banyak hal memang, karena orang yang suka dengan kita gak butuh itu. Yang tidak suka pun gak butuh penjelasan itu. Mau seberapa keras kita meyakinkan bahwa kita benar, kita akan tetap dicari kesalahannya jika mereka tidak menyukai kita. Gitu kan? Ini berlaku juga untuk orang yang suka kita.

Dari sana aja kita bisa tau bahwa validasi dari orang lain itu BIAS.

Setelah pola pikir ini terbentuk, energiku gak aku pakai untuk menjelaskan dan dianggap baik di depan orang lain. Aku gak mengikuti bagaimana pola pikir mereka. Aku mengikuti mimpiku. Aku tetap fokus dan konsisten, disiplin untuk prepare. Aku tutup telinga terhadap apapun yang menyakitiku. Sampai akhirnya aku lulus UI. Semua orang yang bertanya-tanya itu, diem. Pandangannya berbalik.

LALU SEBAIKNYA AKU BAGAIMANA?

Sebaiknya, stop dengerin omongan orang lain. Omongan yang bikin kita melepas mimpi kita lagi. Padahal sepanjang perjalanan ini, kita dikasih Allah cahaya untuk ngikutin yang bikin sparks setiap kita menjalaninya.

End, dengerin. Please bertahan. Kita terima ya semuanya, memang belum bekerja. Memang harus struggling sama imposter syndromenya dulu. Pelan-pelan belajar. Gapapa, pelan-pelan. Our time will come. Doing preparation. Orang gatau gimana takutnya kamu, gimana kamu takut ngajar tapi masih tetap apply. Gimana usahamu memperbaiki linkedin.

Follow your preference. Follow your way. Kata Tsana, kalau ada sesuatu yang itu menuhin kepala kamu terus-menerus, kamu pikirin, berarti memang mimpi itu minta dijemput. Jangan dilepasin ya End.

Walaupun gak masuk akal menurut orang-orang, yang jalanin kamu. Walaupun blunder banget karena kok kayanya gak nemu jalan keluar ya, gapapa. Bertahan ya. Pelan-pelan aja. Masih 32.

Cukup jadi arsitek aja mimpi yang dilepasin karena dengerin suara-suara orang lain. Kali ini jangan.

Selamat berproses menjadi pohon bambu :)

Percaya deh. Gak akan ada yang sia-sia. Peluk hangat, Endah ❤


메타데이터
post_id
cdcae7e7151c
slug
tulisan-semaunya-cdcae7e7151c
url
https://medium.com/@dwiendahlarasati14/tulisan-semaunya-cdcae7e7151c
canonical_url
https://medium.com/@dwiendahlarasati14/tulisan-semaunya-cdcae7e7151c
author_url
https://medium.com/@dwiendahlarasati14
status
ok
fetched_at
2026-07-26 07:18:22