Cantik, Luka, dan Tubuh Perempuan yang Tak Pernah Merdeka
Di negeri yang kenyang dijajah, tubuh perempuan adalah medan perang yang paling langgeng dijarah. Perempuan sudah disuruh diam bahkan…
Cantik, Luka, dan Tubuh Perempuan yang Tak Pernah Merdeka

Pict by Pinterest/Kal El
Di negeri yang kenyang dijajah, tubuh perempuan adalah medan perang yang paling langgeng dijarah. Perempuan sudah disuruh diam bahkan sebelum ia belajar berbicara. Ketika sudah bisa berbicara, suara perempuan hanya dinikmati serupa desah-desahan manja atau nada-nada jelita dari mulut mungilnya.
Mungkin karena itu, Dewi Ayu memilih diam — atau lebih tepatnya, membiarkan tubuhnya yang berbicara.
Eka Kurniawan dalam Cantik Itu Luka menulis perempuan seperti menulis sejarah. Bukan sejarah para pahlawan, bukan pula sejarah gedung-gedung tinggi menjulang. Tapi sejarah tubuh yang mengangkang dan ditertawakan.
Tubuh yang terlalu cantik untuk dibiarkan hidup bebas tak unik.
Dewi Ayu, si pelacur, bukan sekadar tokoh. Ia adalah cermin. Ia memantulkan wajah bangsa yang dengan mulutnya memuja perempuan, tapi dengan tangannya gemar memperkosa. Ia diperkosa tentara, dibeli pejabat, dihina tetangga, tapi hidup memaksanya untuk tetap berjalan sekuat tenaga.
Dewi Ayu memilih untuk melawan. Ia melawan dengan cara yang tak biasa — dengan mengutuk kecantikan yang perawan.
Ia berkata, “Cantik itu luka.” Kalimat pendek itu seperti batu nisan. Di bawahnya terkubur segala harapan perempuan yang percaya bahwa cantik bisa menyelamatkan segalanya. Bahwa dengan menjadi cantik, dunia akan lebih ramah.
Tapi bagi Dewi Ayu, cantik justru mengundang malapetaka. Karena di mata lelaki, cantik adalah label barang dengan harga murahan, bukan keberadaan.
Kalau kita pakai kaca mata feminisme behavior — ilmu yang memandang manusia sebagai hasil bentukan lingkungannya — maka Dewi Ayu bukan perempuan pendosa, tapi perempuan yang dijebak petaka lingkungannya. Dijebak oleh sistem, oleh sejarah, oleh laki-laki patriarkis yang hanya mementingkan penis.
Dewi Ayu tak memilih jadi pelacur. Tapi ketika semua pintu ditutup, dan hanya satu jendela terbuka, siapa yang bisa menyalahkannya karena melompat ke sana?
Lingkungan menciptakan Dewi Ayu seperti peternak yang mencetak ternak. Ia dilatih untuk tunduk, dibentuk untuk melayani, dan saat rusak ia dibuang. Tapi Dewi Ayu tak mau dibuang. Ia hidup, meski caranya membuat banyak orang kelimpungan.
Alamanda, ternak — putrinya yang secantik permata. Gadis yang memanfaatkan laki-laki untuk membangun hidupnya yang runtuh. Apakah ia jahat? Tidak. Ia hanya belajar dari dunia yang kejam, bahwa menjadi baik hanya membuatmu diinjak. Alamanda bukan monster, ia hanya cermin yang memantulkan dosa-dosa orang lain.
Apa yang dilakukan para perempuan di novel ini bukan pilihan bebas, tapi reaksi atas dunia yang tak pernah memberi mereka ruang bernapas. Itulah inti dari behaviorisme: manusia belajar dari lingkungan. Perempuan-perempuan dalam Cantik Itu Luka dipaksa belajar bahwa tubuh mereka bukan milik mereka.
Saya jadi ingat kata Pramoedya Ananta Toer, “Perempuan adalah tiang negara. Kalau perempuan rusak, maka negara itu roboh.”
Novel ini tidak memberi jawaban dari segala kerisauan perihal peran perempuan sebagai tiang negara atau apa-apa saja pola kerusakan perempuan yang terendus bangsa. Perempuan hanya memberi cermin, dan di dalam cermin itu kita melihat wajah bangsa.
Wajah masyarakat yang memilih untuk mengikat perempuan dengan rantai anti-kebebasan daripada mendengarkan keluh kesah mereka sebagai sesama manusia. Wajah bangsa yang membiarkan luka menganga, menusuk perempuan tanpa mau membereskan segala darahnya.
Tapi jangan salah. Cantik Itu Luka bukan cerita muram. Ia juga tentang perlawanan. Tentang hidup yang dipertahankan walau tak ada lagi alasan. Tentang perempuan yang menangis, tapi tidak pernah benar-benar menyerah.
Dan mungkin, dari sanalah harapan itu tumbuh. Bukan dari kecantikan tetapi dari luka yang lelah untuk disembunyikan.
Jika sejarah negeri ini ditulis oleh rahim perempuan, mungkin kisahnya akan lebih jujur. Karena di sanalah semua dimulai — dan sayangnya, terlalu sering terkulai.
Referensi
Kurniawan, Eka. Cantik Itu Luka. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.
Skinner, B.F. Science and Human Behavior. New York: Free Press, 1953.
Tong, Rosemarie. Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction. Boulder: Westview Press, 2009.
Toer, Pramoedya Ananta. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Jakarta: Lentera Dipantara, 1995.
Beauvoir, Simone de. The Second Sex. New York: Vintage Books, 1989.
메타데이터
- post_id
- cddda3e10d3f
- slug
- cantik-luka-dan-tubuh-perempuan-yang-tak-pernah-merdeka-cddda3e10d3f
- url
- https://medium.com/@nonachi_/cantik-luka-dan-tubuh-perempuan-yang-tak-pernah-merdeka-cddda3e10d3f
- canonical_url
- https://medium.com/@nonachi_/cantik-luka-dan-tubuh-perempuan-yang-tak-pernah-merdeka-cddda3e10d3f
- author_url
- https://medium.com/@nonachi_
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 16:53:31