← Back to list

Perjalanan Lumbung Kaweruh : Baduy 2017

Namaskar, bagi kalian yang menyempatkan membaca catatan yang usang namun lekat dengan sebongkah pengalaman menarik bagiku karena…

Fioriza Syahdana Yulmi · 2021-09-29 15:17 · 5 claps · 6.3 min read
#baduy #baduy-dalam #kanekes #spiritual #perjalanan-spiritual
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧘 · Spirituality

Perjalanan Lumbung Kaweruh : Baduy 2017

Gambar dari gunung lain

Gambar dari gunung lain

Namaskar, bagi kalian yang menyempatkan membaca catatan usang namun lekat dengan sebongkah pengalaman menarik bagiku karena melibatkan keberanian. Upaya merayakan kemerdekaan dengan kegembiraan. Kalian akan aku bawa ke beberapa rentang waktu dan mengenalkan beberapa nama sehingga bisa turut serta merasakan sparks of joy-nya kenapa perjalanan spiritual menuju kaweruh ini merupakan salah satu keputusan terbaik, perjalanan kaweruh melintasi Baduy di tahun 2017. Namun perjalanan ini minim akan kemewahan foto karena dokumen yang tercecer.

Akar 2002

Saat itu aku masih kelas 2 SD, aturan fasis di keluargaku ketika kami SD adalah tidur siang sepulang sekolah, adzan magrib semua peranti elektronik dimatikan (TV dan radio), makan pagi dan malam bersama, sholat jamaah, jam 7 malam belajar selama 1 jam, jam 8 malam boleh nonton TV, dan jam 9 malam tidur. Aturan ini boleh dilanggar di hari Sabtu dan Minggu tapi ketika Senin hingga Jumat bisa dipastikan negosiasi akan absen berhasil, setara negosiasi level mahasiswa semester 3 dengan presiden. Lalu apa hubungannya dengan perjalanan kaweruh Baduy?

Selama nonton TV 1 jam bareng keluarga, Ayah membiasakan kami untuk menikmati tontonan yang bersifat nasionalis atau edukatif (?): potret kehidupan orang Baduy, Dayak, Asmat, Bali, beberapa suku dan daerah di luar dari jangkauan tempat kami tinggal. Lengkap dengan cerita gelap masing-masing dari suku tersebut. Saat itu di pikiranku terbesit,

“Kasihan ya, nggak punya akses dengan kebebasan. Minim pengetahuan”,

yang ke semuanya seakan-akan menjadi kenikmatan yang aku dambakan ketika dewasa: minim akses dengan dunia luar, fokus dengan sekitar, dan potensi inner-voice bisa didapatkan lebih jernih dan asli.

Dan hal ini juga berlaku ketika Ayah pergi keluar kota, dia akan membawakan beberapa buku lokal dari tempat yang ia singgahi. Dari sana, aku merasa pernah menjelajahi beberapa tempat meskipun semuanya imajiner. Yang akhirnya membentuk skema peta bahwa suatu saat aku ingin berinteraksi untuk waktu yang singkat ataupun lama hanya untuk melebur batas perbedaan atau sederhananya menyelami kehidupan yang kontras berbeda denganku. Gimana rasanya? Atau gimana awal mula keberagaman itu ada?

Bonus foto keluarga, cinta!

Bonus foto keluarga, cinta!

Gejolak 2013

Hidup mulai membosankan ya. Seakan-akan mencari kesulitan bisa menjadi kesenangan untuk membentuk sebuah pencapaian baru. Mulai sok tahu tentang hidup dan dengan penuh kepercayaan diri mendeklarasi ke orang tua dan teman terdekat, “Kayanya aku nanti kalau udah dewasa mau jadi DPA aja (Dewan Perwakilan Anak, saat itu ada sebuah organisasi di Malang yang memiliki peran untuk membantu anak-anak yang termarginalkan). Nanti bisa jalan-jalan”.

Kesenangan tersendiri kalau bisa ikut nyemplung di kecerdasan anak-anak khususnya bagi mereka yang tinggal di pedalaman yang pengetahuanya terbentuk secara organik. Aku merasa pengetahuan yang kudapatkan dari sekolah dan keluarga bukan karena aku ingin mencari tahu tapi memang aku dapetin begitu aja. Ditambah pendidikan di sekolah formal gaya orba yang menjemukan, hanya duduk mendengarkan guru tanpa ada interaksi dan keterlibatan. Hanya ada satu dua guru yang metode belajarnya kontektstual dan dua arah, meskipun begitu aku tetap memiliki momen yang menyenangkan selama sekolah.

“Ayah, beda ya sama mereka. Aku yakin sebetulnya mereka lebih paham permasalahan yang terjadi di tempat tinggal mereka sendiri”, obrolan triggering saat kami selesai nonton Kick Andy edisi Butet Manurung, seorang perempuan yang aku kagumi dan memiliki empati yang begitu besar untuk melibatkan diri pada pendidikan di Suku Anak Dalam, Jambi.

Titik Balik 2017

Buncahan keingingan untuk pergi ke beberapa daerah pedalaman terus meletup-letup tapi sayang belum mampu diaktulisasikan. Merasa kosong dan cuman hidup di dalam imajinasi sendiri. Sembari membaca ulang buku-buku wawasan nusantara hadiah dari Ayah.

Menemukan tontonan Ekspedisi Indonesia Biru dari Watchdoc di Januari 2017 atas rekomendasi Filda, kami sadar betul bahwa tontonan ini adalah cara kami untuk membahagiakan diri sendiri seolah-olah kami telah menjelajahi tempat yang jauh dan persis sesuai dengan visualisasi yang kami bentuk di kepala.

[embed]

Silakan ditonton beberapa seri Ekspedisi Indonesia Biru!

Bahagia dan berakhir dengan diskusi berjam-jam melihat dua wartawan gila yang menelusuri Indonesia hanya menggunakan motor. Dandhy sangat apik menawarkan kehidupan masyarakat suku yang jarang dibahas di ruang publik ataupun media mainstream. Kalaupun ada (seperti tontonan di TV saat aku SD) hanya membahas hal-hal yang ada di permukaan, bukan bagaimana mereka memiliki keputusan-keputusan ideologis untuk merawat kelompok dan keberlangsungan hidup.

Tontonan seperti ini hanya memberi jarak kepada kami yang dusun dan cetek ilmu untuk mempertebal perbedaan dan menciptakan dikotomi, masyarakat modern dan masyarakat primitif . Mungkin aku adalah salah satu anak yang dangkal dalam memproses informasi sehingga ketika SD yang kutangkap dari tontonan tersebut adalah masyarakat dengan wujud ketertinggalan.

Ke mana slogan Bhinneka Tunggal Ika yang didengungkan sejak kecil dan erat dengan pemaknaan cita-cita bangsa bahwa mencari kesamaan dan merangkul keberagaman. Seharusnya pemerintah hadir untuk membangun nilai-nilai ini. Memperkenalkan bagaimana masyarakat adat memiliki cara yang filosofis untuk menjawab beberapa permasalahan negara yang bisa diselesaikan bersama-sama. Kita semua bisa belajar untuk saling merawat tanah dan air yang sama.

Ekspedisi Indonesia Biru karya Dhandy Laksono meyakinkanku bahwa mereka adalah sebuah manifestasi warisan Indonesia yang menjaga setiap jengkal tanahnya dengan hembusan ketulusan.

Salah satu bentuknya adalah bagaimana mereka mengelola lahan pertanian di edisi Cipta Gelar dan Baduy. Cipta Gelar bisa memanen padi dengan persediaan yang cukup dalam satu tahun bagi warganya. See? Jauh dari kurang dan tak sampai perlu mengeluarkan kebijakan impor beras. Begitupun dengan Baduy, aku terkagum-kagum. Meskipun tidak mengenyam pendidikan formal yang selalu diagung-agungkan, tetapi prinsip hidup yang mereka miliki selaras dan menghormati alam. Sehingga hubungannya dua arah antara manusia dengan alamnya.

Alam memberikan keberlimpahan rahmat ketika manusia juga belajar untuk merasa cukup dan tidak eksploitatif. Mengabsenkan penggunaan pupuk pestisida dan segala zat kimia yang hanya menghancurkan tempat tinggal mereka adalah salah satu dari sekian tanda bahwa mereka tumbuh menjadi manusia yang penuh dengan welas asih. Karena kesadaran yang tercipta bahwa alam telah memberikan mereka kehidupan. Poin-poin ini yang jarang dimengerti oleh manusia urban sepertiku karena tingginya gedung-gedung pencetak uang yang menghalangi sinyal alam.

Hal ini merupakan momen yang menggelitik buatku. Mengapa kita yang tumbuh dengan begitu banyak informasi sampai bisa mengenal musisi dan seniman luar negeri tanpa harus bertemu misalnya bisa menjelajah waktu dengan mudah untuk bertemu Van Gogh dan Salvador Dali, tapi sayangnya buta akan hal-hal dasar untuk bertahan hidup. Jadi sebetulnya kita ini apa?

Mulai mempertanyakan kecakapan diri akan hal-hal yang sudah lekat sejak lahir tentang saling menghargai. Ada rasa sedih karena telat menyadari dan ironi untuk kemudahan akses yang kita bisa dapatkan di mana dan kapan saja tapi tetap saja membuat kami dungu.

Setelah menonton Ekspedisi Indonesia Biru semakin memperkuat keinginan untuk pergi dan sekaligus menemukan sebuah pertanyaan,

Sebenernya apa yang menghalangiku nggak segera berangkat ke Baduy atau Cipta Gelar? Kenapa opsinya hanya 2 tempat ini?

Jawabannya adalah:

  1. Kedua tempat ini adalah tempat yang sudah aku tonton di Ekspedisi Indonesia Biru
  2. Ingin memvalidasi tontonan
  3. Tempat yang mudah dijangkau karena masih dalam Pulau Jawa.

Meskipun sebetulnya ingin mengunjungi Mentawai terlebih dahulu, tapi perjalanan ke Mentawai kemudian diwakili Filda. Maklum, aku adalah contoh manusia urban yang hidupnya sekadar terbatas cuti dan izin atasan haha.

Mencoba menjawab pertanyaan atas diri sendiri apa yang sebetulnya menghambat keberangkatanku, “Apakah karena nggak punya uang atau nggak punya nyali?”

Untuk pertanyaan pertama bisa terpatahkan karena aku percaya uang bisa datang asal ada kemauan. Untuk pertanyaan kedua, yah skakmat! Persentasenya lebih menuju ke sana dan sekaligus kecewa sama diri sendiri ternyata nggak seberani itu.

Mencoba mengkritisi diri sendiri sebetulnya apa yang ditakutkan? Kayanya masih abstrak sekali. Barangkali ada beberapa hal yang bisa diselesaikan.

Ketemu! Awalnya kukira ketakutanku soal tersesat di perjalanan, dicopet, diganggu orang-orang di tengah perjalanan, atau cuaca. Yah, kerikil-kerikil khas pelancong yang biasanya aku baca di buku dan film. Tapi ternyata bukan. Aku lebih takut kalau dinikahi sama penduduk suku tersebut dengan kengerian kekuatan mistis yang mereka punya *korban tayangan TV waktu SD

Kocak dan kurang masuk akal! Hahaha

Sampai pada akhirnya aku menemukan sebuah postingan yang muncul entah aku lupa di mana, antara di grup line atau instagram, yang berisi ekspedisi ke Baduy bersama Kompas Khatulistiwa. Kumpulan teman-teman arkeologi UI dan beberapa di antaranya alumni Indonesia Mengajar. Informasi yang cukup valid untuk mereduksi ketakutanku akan tersesat di tengah hutan.

Aku tetap terus mencari-cari alasan untuk menutupi ketakutanku ditaksir penduduk suku tersebut *ngetik ini agak geli ya dan segala risiko kemistisan yang akan terjadi. Sebetulnya ini sangat paradoks sekali untuk takaranku yang kurang percaya dengan santet dan guna-guna. Ya namanya manusia, paradoks sudah menjadi teman akrab sejak lahir.

Alasan bimbingan menjadi kambing hitam untuk yang kesekian kalinya. Dan ternyata dosbingku sangat support sekali, membiarkan aku berangkat dengan tenang selama seminggu.

Tapi tidak semudah itu kawan! Karena keberangkatan cukup mepet, tiket pesawat mahal dan tiket kereta dari Surabaya-Jakarta juga habis. Mulai kebingungan dan datang ketakutan baru, takut naik kereta sendirian.

*Ting

Ada notifikasi line yang isi chat-nya terlihat dari pop-up. Sungguh tidak menyenangkan.

“Ah, cuman segini aja keberanian lo. Kemarin-kemarin aja sok-sok an jadi aktivis, naik kereta doang kaga berani”.

Dan tentu saja message ini lain tidak bukan, the one and only, dari Akbar. Ingin kukirim granat dari Surabaya ke Thailand (saat itu dia masih short-course yang essay-nya hasil joki becanda guy) buat membungihanguskan flat*-nya. Yang bikin ngilu dan kebakar adalah karena semua celotehannya benar.

Langsung aku daftar ke Kompas Khawulistiwa tanpa pikir panjang. Ada hal baik lain, aku mengenali bagian dari diriku yang lain:

Nggak papa punya rasa takut tapi diproses. Di semua fase hidup akan selalu ada bentuk adaptasi baru.

Wanna say thanks to Akbar & Filda in this case!

Sampai jumpa di bagian 2: Bagian Keberangkatan dan Pendakian Baduy 2017.


메타데이터
post_id
cdf66fa12f6a
slug
perjalanan-lumbung-kaweruh-baduy-2017-cdf66fa12f6a
url
https://medium.com/@fiorizasy/perjalanan-lumbung-kaweruh-baduy-2017-cdf66fa12f6a
canonical_url
https://medium.com/@fiorizasy/perjalanan-lumbung-kaweruh-baduy-2017-cdf66fa12f6a
author_url
https://medium.com/@fiorizasy
status
ok
fetched_at
2026-07-31 14:52:56