← Back to list

夢中になればなるほどに 形は崩れ落ちて溶けていって 消えてしまうけど

The more I become obsessed, the shape crumbles, falls apart, and disappears.

Ashkara Eral · 2026-03-17 08:16 · 20 claps · 3.4 min read
#leowon #sangleo
Open on Medium ↗

夢中になればなるほどに 形は崩れ落ちて溶けていって 消えてしまうけど

The more I become obsessed, the shape crumbles, falls apart, and disappears.

[embed]

Desember 2019

Rintik hujan yang menyapa malam itu mungkin menimbulkan gema yang terus berulang di tengah keheningan. Setiap tetesnya jatuh perlahan tampaknya ingin memecah sunyi yang menggantung di udara. Bulan memancarkan cahaya redup di tengah gelapnya langit malam, seakan menyimpan cerita yang tak pernah berani diucapkan dengan lantang.

Angin dingin berhembus pelan, menyusup dari sela-sela jendela hingga membuatku bergidik. Tubuhku tak kuasa menahan udara malam yang perlahan membekukan lapisan kulitku. Di antara suara rintik yang tak pernah berhenti, ada sesuatu yang ikut bergema — sebuah perasaan yang diam-diam tumbuh, namun tak pernah berani keluar mencari jawaban.

Aku merapatkan jaketku, membiarkan ritsletingnya bertaut hingga pangkal leher. Dingin masih terasa menusuk meski jendela kamar sudah kututup tanpa meninggalkan celah.

Ketika aku melirik, pintu kamar mandi terbuka pelan sebelum kaki jenjang itu terlihat di atas keset kamar mandi. Dengan rambut yang berantakan, Arion melangkah santai sambil mengeringkan beberapa bagian tubuhnya dengan handuk.

Ia berhenti sejenak, bersandar pada dinding ruangan dan menatap ke arahku dengan ekspresi yang sulit ditebak. Kedua tangannya terangkat perlahan di depan dada. Jemarinya bergerak lincah membentuk sebuah isyarat yang bisa kupahami. Wajahnya datar, tapi mulutnya juga bergerak seolah ikut mengucapkan kata. “Apa seorang Gema Nijika telah mendapatkan ide untuk karya barunya?”

Aku beranjak, menghampiri nakas dan membuka lacinya perlahan. Sebuah kotak P3K kukeluarkan dari dalamnya.

Jari telunjuk dan tengah ku arahkan ke bawah mata dan membentuk sebuah huruf v membawakan pandanganku ke luar jendela. Arion memperhatikannya dengan serius. “Cuma lihat-lihat air hujan.”

Tanpa aba-aba, ia mendekat dan duduk di pinggir kasurku tak jauh dari posisiku. Laki-laki yang lebih tua dariku itu terlihat menghela napas dan mendecak kesal dari gerakan mulutnya. Wajahnya mendongak dengan mata yang terpejam. Aku dapat melihat wajahnya dari samping yang penuh dengan bekas kemerahan — memar biru di kening dan sisi telinganya tampak terlihat jelas.

Dengan perlahan aku duduk di sampingnya dan membuka kotak P3K tanpa menimbulkan suara hingga hening menyelimuti kami. Aku menarik tangannya dan membersihkan sisa luka yang terdapat di sana dengan kapas. Tidak ada darah yang keluar, tapi saat aku mengoleskan salep pada luka yang tertinggal, ia tampak meringis pelan.

Aku menepuk pundaknya dengan satu jariku agar ia menoleh. “Dada Kakak masih sesak?”

Arion perlahan menurunkan jari tanganku dari pundaknya. Ia menggeleng. “Nggak,” gumamnya dengan bibir yang bergerak perlahan. “Udah mendingan pas pake inhaler tadi.”

Tangan kiriku berhenti sejenak di atas lukanya. Aku menatap wajahnya dari samping, memperhatikan tarikan napasnya yang kini tampak lebih teratur dibandingkan beberapa jam lalu.

Satu tangan kubawa ke depan wajahnya dan melambai pelan tepat di hadapan matanya — mencoba membuatnya menoleh ke arahku.

“Harusnya Kakak gak usah ladenin mereka!”

Aku tak mengerti kenapa kedua tanganku bergerak lebih cepat, ia tampak bingung ketika melihatnya.

“Sebentar, Gem.” Ia langsung menarik tangannya yang berada di bawahku.

Arion memegang kedua pergelangan tanganku, menuntun agar aku dapat mengulang gerakanku. “Gue gak bisa baca kalo lu cepet-cepet begitu.”

Aku menatap wajahnya yang tampak fokus terpaku pada tanganku, membantuku menggerakkan tangan perlahan.

Harusnya … Kakak … gak usah … ladenin … mereka.

Arion mengangguk pelan setelah akhirnya memahami maksudku sebelumnya. Ia masih menahan genggaman tangan kami sedikit lebih lama.

“Mereka yang mulai duluan.” Kemudian ia menurunkan dan melepaskan genggaman tangan kami.

“Padahal Kakak sendiri sadar kalo mereka cuma mancing emosi Kakak.”

Kini gerakannya tak kubuat terburu-buru. Ujung jari kubuat menekan pelipis lebih lama, seolah ingin memastikan bahwa ia benar-benar memahami maksudku.

Napasku menderu, entah ada hal apa, mendadak dadaku terasa sesak. Mungkin karena aku tau walaupun ia mengerti, ia tak akan pernah menuruti keinginanku. Keinginan agar ia tidak membalas. Tidak ikut terseret.

Mereka hanya menghinaku dengan perkataan yang bahkan tak bisa kudengar. Meskipun aku dapat mengerti sebagian karena mereka dengan sengaja memperlambat gerakan bibirnya. Tapi jika Arion ikut masuk di dalamnya, mereka akan melukai fisiknya.

“Aku bahkan gak tau mereka ngomong apa! Kenapa Kakak yang marah?”

Arion tidak langsung membalas.

Tatapannya turun, mengikuti gerakan tanganku yang perlahan menjauh dari jangkauannya. Tangannya sempat bergerak, berniat membalasku. Ragu sesaat, kemudian ia mengurungkan niatnya.

Ujung jariku kembali bergerak pelan di atas lukanya, sesekali aku membersihkan air yang masih tersisa di permukaan kulitnya dengan handuk bulu halus. Bahkan dengan tangan yang penuh dengan luka, Arion masih nekat untuk membersihkan dirinya dengan air. Ia pasti berteriak karena kulitnya terasa perih dari balik pintu kamar mandi itu.

Arion menatapku dengan tatapan yang begitu serius. Tangannya bergerak pelan, namun tampak tak ragu. Mulutnya ikut bergerak. “Mau pancingan atau bukan, mereka tetap menghina lu di depan gue, Gem.” Ia menundukkan kepalanya.

Gerak bibirnya dapat kupahami dengan baik.

Ia berhenti sejenak, lalu telunjuknya ia arahkan ke dirinya sendiri. Gerakan terakhirnya lebih singkat, tapi berat.

“Gue gak terima.”

Aku terdiam.

Entah sudah kali keberapa, Arion memulai pertengkarannya karena membelaku.

Ketika kami bersama, aku akan berusaha menahan amarahnya. Namun jika kami tak bersama seperti tadi, Arion akan kelepasan. Tak ada seorang pun yang bisa menahan amarahnya. Bahkan teman dekat kami — Gelvano — tak mampu memisahkan mereka.

Dan ini sudah berulang kali terjadi.

Selama bertahun-tahun.


메타데이터
post_id
ce2b6dd51fe1
slug
夢中になればなるほどに-形は崩れ落ちて溶けていって-消えてしまうけど-ce2b6dd51fe1
url
https://medium.com/@AshkaraEral/%E5%A4%A2%E4%B8%AD%E3%81%AB%E3%81%AA%E3%82%8C%E3%81%B0%E3%81%AA%E3%82%8B%E3%81%BB%E3%81%A9%E3%81%AB-%E5%BD%A2%E3%81%AF%E5%B4%A9%E3%82%8C%E8%90%BD%E3%81%A1%E3%81%A6%E6%BA%B6%E3%81%91%E3%81%A6%E3%81%84%E3%81%A3%E3%81%A6-%E6%B6%88%E3%81%88%E3%81%A6%E3%81%97%E3%81%BE%E3%81%86%E3%81%91%E3%81%A9-ce2b6dd51fe1
canonical_url
https://medium.com/@AshkaraEral/%E5%A4%A2%E4%B8%AD%E3%81%AB%E3%81%AA%E3%82%8C%E3%81%B0%E3%81%AA%E3%82%8B%E3%81%BB%E3%81%A9%E3%81%AB-%E5%BD%A2%E3%81%AF%E5%B4%A9%E3%82%8C%E8%90%BD%E3%81%A1%E3%81%A6%E6%BA%B6%E3%81%91%E3%81%A6%E3%81%84%E3%81%A3%E3%81%A6-%E6%B6%88%E3%81%88%E3%81%A6%E3%81%97%E3%81%BE%E3%81%86%E3%81%91%E3%81%A9-ce2b6dd51fe1
author_url
https://medium.com/@AshkaraEral
status
ok
fetched_at
2026-07-14 18:53:39