Pemanfaatan Limbah Ternak untuk Pertanian Berkelanjutan, Inisiatif Mahasiswa KKN UMY di Dusun…
Pernahkah terlintas dalam pikiran bahwa tumpukan kotoran kambing yang berbau menyengat di belakang rumah sebenarnya merupakan “tambang…
Pemanfaatan Limbah Ternak untuk Pertanian Berkelanjutan, Inisiatif Mahasiswa KKN UMY di Dusun Ngaliyan A, Ngargosari, Kulon Progo

Foto bersama peserta workshop pembuatan pupuk kompos bersama KKN Reguler 022 UMY.
Pernahkah terlintas dalam pikiran bahwa tumpukan kotoran kambing yang berbau menyengat di belakang rumah sebenarnya merupakan “tambang emas” yang selama ini terabaikan? Di Dusun Ngaliyan Gunung A, Samigaluh, Kulon Progo, tim KKN Reguler 022 UMY menjumpai pemandangan yang hampir serupa di berbagai sudut wilayah: kotoran ternak yang menumpuk dan menimbulkan bau tidak sedap. Di sisi lain, para petani juga menghadapi kesulitan akibat harga pupuk kimia yang terus meningkat dan semakin sulit dijangkau.
Ketergantungan terhadap pupuk kimia saat ini sudah berada pada tingkat yang cukup tinggi. Padahal, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus dalam jangka panjang dapat menyebabkan kondisi tanah menjadi semakin keras serta menurunkan tingkat kesuburannya.
Atas dasar itulah, kami dari KKN Reguler 022 UMY merasa perlu mengajak masyarakat untuk berdiskusi bersama. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk menyampaikan teori semata, tetapi juga mendorong partisipasi aktif warga melalui praktik langsung dalam pembuatan pupuk organik secara mandiri.
Bukan Sekadar Tumpukan Kotoran
Pada saat workshop, kami menjelaskan kepada warga bahwa proses pembuatan kompos tidak sekadar menumpuk kotoran ternak lalu membiarkannya begitu saja. Di balik proses tersebut terdapat mekanisme ilmiah yang menarik, terutama terkait aktivitas mikroorganisme yang berperan dalam proses penguraian bahan organik.
Pada tahap awal terdapat fase mesofil, yaitu ketika suhu mulai meningkat dan berada pada kisaran sekitar 30–40°C. Pada fase ini, mikroorganisme mulai aktif menguraikan bahan organik. Selanjutnya, proses akan memasuki fase termofilik, di mana suhu dapat meningkat secara signifikan hingga mencapai sekitar 70°C. Suhu tinggi pada tahap ini memiliki peran penting karena mampu membantu membunuh berbagai mikroorganisme patogen yang mungkin terdapat pada kotoran kambing.
Setelah itu, suhu kompos secara bertahap akan menurun kembali hingga berada di bawah 40°C. Pada tahap ini, bau menyengat yang sebelumnya muncul juga mulai berkurang dan berubah menjadi aroma tanah. Kondisi tersebut menandakan bahwa kompos telah mencapai tingkat kematangan dan siap untuk digunakan sebagai pupuk organik.
Resep “Emas Hitam” Ala Mahasiswa KKN
Pada sesi praktik, suasana kegiatan berlangsung dengan sangat antusias. Peralatan yang digunakan pun cukup sederhana, seperti cangkul, sekop, dan terpal. Bahan-bahan yang digunakan juga mudah ditemukan di sekitar dusun, antara lain feses kambing dengan kadar air sekitar 60%, sekam padi untuk memperbaiki tekstur campuran, sedikit kapur dolomit, serta larutan aktivator yang terdiri atas campuran air, molases, dan starter EM4 untuk mempercepat proses penguraian.

Mahasiswa KKN Reguler 022 UMY mendemonstrasikan proses pengolahan limbah ternak menjadi pupuk kompos.
Salah satu faktor kunci dalam proses pembuatan kompos adalah pengaturan tingkat kelembapan. Kondisi bahan tidak boleh terlalu basah hingga menjadi becek, namun juga tidak boleh terlalu kering. Setelah seluruh bahan tercampur secara merata, campuran tersebut kemudian ditutup rapat menggunakan terpal untuk menjaga kondisi fermentasi.
Melalui proses tersebut, bahan yang awalnya berupa kotoran ternak dengan bau menyengat secara bertahap mengalami perubahan menjadi butiran kompos berwarna gelap, bertekstur remah, dan kaya akan unsur hara yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.
Melawan Stigma “Ribet”
Tantangan terbesar yang kami hadapi sebagai mahasiswa bukan terletak pada aspek teknis pembuatan kompos, melainkan pada perubahan pola pikir. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa penggunaan pupuk kimia lebih praktis karena cukup ditaburkan dan dapat langsung digunakan. Hal tersebut memang benar dari sisi kemudahan, namun di sisi lain biaya produksinya relatif tinggi dan dapat membebani petani. Melalui workshop ini, kami berupaya menunjukkan bahwa dengan sedikit usaha tambahan, para petani dapat menjadi lebih mandiri sekaligus menekan biaya produksi pertanian.
Selain itu, dukungan dari aparat desa serta kelompok tani yang sangat kooperatif menjadi faktor penting dalam pelaksanaan kegiatan ini. Melihat potensi limbah ternak yang melimpah di wilayah Samigaluh, sangat disayangkan apabila sumber daya tersebut tidak dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, kami berharap program ini tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai. Harapannya, masyarakat dapat melanjutkan produksi pupuk organik secara kolektif, bahkan mengembangkannya menjadi produk yang dikemas dengan baik sehingga berpotensi memberikan nilai tambah dan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga.
Pada akhirnya, perubahan memang memerlukan waktu, sebagaimana proses fermentasi dalam pembuatan pupuk organik yang tidak terjadi secara instan. Namun demikian, kami meyakini bahwa langkah kecil yang dimulai dari pemanfaatan limbah ternak ini dapat menjadi awal menuju sistem pertanian yang lebih sehat, ekonomis, dan berkelanjutan.
메타데이터
- post_id
- ce34be75dba8
- slug
- pemanfaatan-limbah-ternak-untuk-pertanian-berkelanjutan-inisiatif-mahasiswa-kkn-umy-di-dusun-ce34be75dba8
- url
- https://medium.com/@kkn.reg022/pemanfaatan-limbah-ternak-untuk-pertanian-berkelanjutan-inisiatif-mahasiswa-kkn-umy-di-dusun-ce34be75dba8
- canonical_url
- https://medium.com/@kkn.reg022/pemanfaatan-limbah-ternak-untuk-pertanian-berkelanjutan-inisiatif-mahasiswa-kkn-umy-di-dusun-ce34be75dba8
- author_url
- https://medium.com/@kkn.reg022
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-12 00:22:36