Ketelanjangan Kosmik.
Ketelanjangan Kosmik.

Credit: https://pin.it/6XcIJ3iLN
Semakin aku hidup, semakin aku sadar bahwa segala bentuk simbol, filosofi, cinta, sosial, agama adalah ilusi fiksi yang dibuat oleh manusia. Sesuatu apapun selalu dituntut pada pemaknaan, boleh jadi ini dan boleh jadi itu. Sebuah pertanda bahwa kita mengimani “Makna”. Tetapi, jika terlalu memaksakan pemaknaan pada hal-hal yang hanya kebetulan akan mengarah pada kecemasan eksistensi dan konklusi yang keliru. Dalam realitas nyata, alam tidak mengenal moral. Baik dan buruk adalah setara, tiada memiliki kebenaran apapun kecuali hanya menyisakan ketiadaan. Karena yang benar-benar ada hanyalah “ketiadaan” itu sendiri.
Entah bagaimana mutasi genetik nukleotida serta tekanan lingkungannya mampu mengadakan revolusi kognitif sejauh itu, sampai dimana nalar dan nurani tecipta begitu saja. Anehnya, kita adalah satu-satunya hewan yang mampu berpikir dan berperasa melampaui semua jenis makhluk lainnya. Dan yang paling ironi adalah bahwa kita tercipta semata hanya karena kebetulan.
Kehidupan bukanlah hal yang spesial dan kematian bukanlah hal yang dahsyat. Kita hidup bahagia sebetulnya adalah ilusi yang dikemas melalui konsep “Aku”, “Cinta”, dan “Dunia”. Melalui narasi, mitos kebahagiaan terus terbudidaya dan mengatakan bahwa manusia memiliki arti dan tujuan dari Sang Pencipta. Sampai hari ini, mitos itu terus dipertuhankan menjadi “Hak Asasi Manusia” dan terkristalisasi pada keyakinan, “semuanya bermakna”. Jika konstruksi khayalan ini diruntuhkan, maka berakhirlah dunia pada titik kekosongan.
Sama halnya dengan kematian. Kita takut mati karena ketidakmampuan akal dalam menafsirkan ketidakpastian. Kesadaran memang tidak sanggup berhadapan dengan sesuatu yang tidak pasti. Maka, kematian tak lepas dari tuntutan manusia bahwa mati pun mempunyai makna tersendiri. Tapi, bagaimana mungkin kesadaran tetap eksis dalam ketiadaan? Terlepas ada atau tidak ada setelah mati, sesungguhnya kita kembali pada ketiadaan sama seperti sebelum kita lahir. Satu-satunya kesimpulan selain ketidakpastian adalah kehilangan akan ilusi tentang “Aku”, “Cinta” dan “Dunia”.
Pada dasarnya, kehidupan ataupun kematian adalah hal yang biasa dan terlampau diromantisasi untuk sesuatu hal yang alamiah.
Berkali-kali aku sadar, berulang-ulang aku terbangun dari mimpi.
Berkali-kali aku terbayang Kosmos, berulang-ulang aku terkagum pada Ketiadaan Absolut.
메타데이터
- post_id
- ce47ef459bee
- slug
- ketelanjangan-kosmik-ce47ef459bee
- url
- https://medium.com/@schlssl/ketelanjangan-kosmik-ce47ef459bee
- canonical_url
- https://medium.com/@schlssl/ketelanjangan-kosmik-ce47ef459bee
- author_url
- https://medium.com/@schlssl
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 03:40:04