Membaca Kembali Novel ‘Animal Farm’ di Tengah Negara yang Menuju Kehancuran
Buku fabel yang bukan untuk anak-anak
Membaca Kembali Novel ‘Animal Farm’ di Tengah Negara yang Menuju Kehancuran
Buku fabel yang bukan untuk anak-anak

Credit picture by : Author
“All animals are equal, but some animals are more equal than others.”
Aku masih ingat apa alasan dibalik aku membeli novel ini. Sebuah konten YouTube yang sangat vokal membahas isu politik diunggah di masa-masa riuhnya Pemilu. Istilah ‘babi’ selalu dibahas di sana yang akhirnya membuncah rasa penasaranku untuk segera memiliki buku ini.
Novel berjudul Animal Farm ini sekilas terlihat seperti buku untuk anak-anak dari judul bukunya yang kerap membuat banyak orang salah kaprah. Namun, novel ini bukan sekadar menceritakan kehidupan binatang. Ini adalah novel alegori politik yang diterbitkan tahun 1945, ditulis oleh George Orwell sebagai bentuk satire pada masa-masa Perang Dunia II.
Aku dibuat terkesima dengan bagaimana sang penulis menyampaikan kritik tajam dengan kemasan yang apik melalui penggambaran binatang. Novel ini memang tidak tebal dan bahasanya sederhana, namun isinya begitu mendalam dan mampu menyampaikan pesan yang kuat mengenai isu-isu politik yang masih relevan hingga saat ini. Aku rasa, jika buku ini ditulis oleh penulis Indonesia, buku ini akan jadi buku berbahaya yang ditakuti oleh para penguasa.
Cerita bermula di suatu malam di sebuah Peternakan Manor milik Pak Jones, saat seekor binatang babi tua yang bernama Major mengungkapkan sebuah gagasan revolusioner tentang pemberontakan para binatang dari tirani perbudakan manusia.
Major adalah seekor babi putih bijaksana yang sangat dihormati oleh kawanan binatang. Saking dihormatinya, para binatang lain rela berjam-jam tak tidur hanya demi mendengarkan celotehan petuahnya.
Sebagaimana kuatnya posisi Major dalam peternakan, kata-katanya pada tiga malam sebelum kematiannya itu mampu menyihir para binatang lainnya. Terlebih mereka sadar bahwa sang tuannya yang pemabuk berat kerap melampiaskan amarahnya kepada mereka.
Merasa selalu tertindas mereka pun mulai merencanakan gagasan pemberontakan itu. Menyingkirkan Pak Jones yang dianggap sebagai musuh utama mereka dan mengubah tatanan kehidupan di atas kekuasaan para binatang itu sendiri.
Setelah berhasil melengserkan Pak Jones sebagai tuan mereka dan meraih kemerdekaan yang mereka impikan. Mereka mengganti nama Peternakan Manor menjadi Peternakan Binatang. Para babi dipilih secara alamiah oleh para binatang lain sebagai kelompok eksklusif karena dianggap sebagai binatang yang paling cerdas dalam mengemukakan dan menjalankan gagasan revolusi. Dua babi paling unggul bernama Napoleon dan Snowball dipilih sebagai pemimpin mereka saat itu.
Pada awalnya semua berjalan dengan baik, para binatang hidup tentram dan sejahtera tanpa ada lagi perbudakan dari manusia. Mereka menjalankan semua aturan dan perintah di bawah kepemimpinan Napoleon dan Snowball.
Namun, bukan politik namanya jika tak ada unsur kelicikan dan propaganda. Napoleon dan Snowball sering kali bersitegang karena perbedaan pendapat. Napoleon yang mulai haus kekuasaan pun tak terima dengan ide-ide cemerlang Snowball hingga akhirnya mengkambing-hitamkan dia sampai diusir dari Peternakan.
Seiring berjalannya waktu, kemerdekaan yang semula menjanjikan kebebasan dan kesetaraan itu tak bertahan lama. “Idealisme revolusi” itu kian hari kian berubah arah dari tujuan awal. Napoleon yang dulu sangat memihak rakyatnya, kini mulai bersikap sangat otoriter dan manipulatif. Ia mengeksploitasi para binatang dengan iming-iming kesejahteraan bersama.
Namun, kenyataannya hanya kelompok babi lah yang merasakan kesejahteraan itu. Ia mengubah peraturan demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Tak hanya itu, ia juga mendidik para anjing yang ganas agar menjadi budak yang setia sebagai alat represif jika ada binatang yang berani menentang aturannya. Para binatang yang tak tak punya kekuatan apapun untuk melawan akhirnya memilih tunduk.
Setiap karakter hewan dalam novel ini begitu kompleks. Sebagaimana babi digambarkan sebagai hewan yang cerdas namun licik dan rakus. Para anjing yang digambarkan sebagai hewan paling setia. Keledai yang mengetahui betapa diktatornya Napoleon, namun memilih apatis demi tetap aman. Lalu para kuda yang pekerja keras namun terlalu tunduk dan patuh.
Selesai membaca novel ini membuat diriku tergelitik dan berpikir mendalam. Betapa sangat relevannya kejadian fiksi di novel tersebut dalam realita politik di Indonesia dan mungkin di beberapa negara lainnya. Bagaimana kita menyaksikan sendiri, para penguasa berdasi di sana kerap menebar janji-janji kesejahteraan demi meraih kepercayaan publik dibilik suara. Namun, kelak semua itu hanya menjadi kelakar omong kosong belaka. Betapa rakyat kita kian tergilas oleh nafsu serakah para penguasa yang beringas. Namun kita tak bisa banyak bertindak, sebab berani menentang akan dianggap sebuah perlawanan.
Pada akhirnya, kemerdekaan tidak pernah benar-benar absolut di mata sebagian rakyat. Akan selalu ada kelompok yang tak mengenal kata puas dan akan selalu ada kelompok yang terus tertindas. Karena kekuasaan itu begitu memabukkan, kekuasaan itu bagai racun yang memberikan rasa haus tak berujung, membuat seseorang yang berkuasa bertindak sewenang-wenang demi memenuhi hasrat keserakahannya.
Jika kamu mulai tertarik membaca novel klasik, Animal Farm bisa menjadi pilihan yang tepat sebagai awal pengenalan. Meskipun membahas isu politik, novel ini dikemas singkat dengan bahasa yang sederhana. Sekian ulasan dariku, semoga kalian berkenan dan tertarik membaca novel legendaris ini.
With love,
A.W. Poetri
Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!
[embed]Submission Guideline — Booknotations Panduan mengirim tulisan ke Booknotationsmedium.com
메타데이터
- post_id
- ce5fe3bb01be
- slug
- membaca-kembali-novel-animal-farm-di-tengah-negara-yang-menuju-kehancuran-ce5fe3bb01be
- url
- https://medium.com/booknotations/membaca-kembali-novel-animal-farm-di-tengah-negara-yang-menuju-kehancuran-ce5fe3bb01be
- canonical_url
- https://medium.com/booknotations/membaca-kembali-novel-animal-farm-di-tengah-negara-yang-menuju-kehancuran-ce5fe3bb01be
- author_url
- https://medium.com/@awpoetri
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 03:48:11