← Back to list

Selamat Hari Pahlawan, Pahlawanku

Berbincang mengenai hari pahlawan, tak elok jika luput untuk membahas pengangkatan Soeharto. Baru saja kemarin kamis, ketika aku diminta…

AnkerHaven · 2025-11-12 06:13 · 1 claps · 3.9 min read
#pahlawan #hari-pahlawan
Open on Medium ↗
Wiki topics: AI · AI · General ⚖️ · Law & Justice

Selamat Hari Pahlawan, Pahlawanku

https://pin.it/69NQZ4UEs

https://pin.it/69NQZ4UEs

Berbincang mengenai hari pahlawan, tak elok jika luput untuk membahas pengangkatan Soeharto. Baru saja kemarin kamis, ketika aku diminta menjadi narasumber oleh mas Yaya — reporter BBC, ia bertanya kepadaku. “Kar, bentar lagi Soeharto mau diangkat jadi pahlawan, gimana menurutmu?” aku berpikir tidak keras. Dengan cepat aku menjawab “Nggak mau lah mas,”.

Tak sampai disitu, mas Yaya kemudian menanyaiku lagi. “Emang kenapa kar?” aku terdiam, kali ini berpikir lumayan keras. Tapi sebelum aku menemukan jawaban atas pertanyaan mas Yaya, ia menimpali perkataannya sendiri. “Kan Soeharto baik kar,” begitu kata mas Yaya, lantas kujawab “Ah mas Yaya, bisa aja becandanya,”.

Tapi pertanyaan itu tak cuma mandek di atas meja kopi Secangkir Madura (kalo kata si patriarki). Pertanyaan mas Yaya atas kesediaanku terhadap pengagkatan Soeharto mengikuti hari-hari ku selanjutnya. Tiap kali akan naik motor, masak nasi, selepas ibadah, bahkan disaat beribadah — aku tak akan munafik, aku masih memikirkannya.

Memang aku bukan para om-om dan tante-tante arena yang tau cum paham betol sejarah masa lalu negara ini, terlebih ketika rezim Soeharto terjadi. Bahkan beberapa dari mereka menjadi relawan kegitan rutinan mantan Tapol (Tahanan Politik). Mungkin bilamana pertanyaan mas Yaya dilontarkan kepada mereka, akan mudah bagi mereka untuk menjawab pertanyaan mas Yaya. Singkat, padat, jelas, dan tepat.

Naasnya pertanyaan itu, justru datang kepadaku, yang kurang akrab dengan dosa-dosa Soeharto. Aku mengenalnya melalui serpihan-serpihan cerita, bacaan, berita, juga celetukan para om dan tante. Aku juga tak tau secara pasti, apa hal yang menjadikan aku tidak setuju atas pengangkatan itu. Kurasa bukan karena ikut-ikutan atau takut dikira tidak kritis. Apapun kata mereka, aku tetap tak setuju dengan diangkatnya Soeharto menjadi pahlawan. Pun saat aku bertanya kepada mbah Google, kakek GPT, Om perplexity, dan Budhe Consensus — yang Bersatu dalam trah AI, mengenai manfaat diangkatnya Soeharto menjadi pahlawan, aku tetap tak setuju.

Hingga aku menemukan jawaban versi diriku sendiri. Aku tak akan menjelaskan ketidaklayakan Soeharto menjadi pahlawan berdasarkan sejarah, pun aku tak akan menjelaskan dengan merinci dosa-dosanya. Selayaknya berita-berita di media massa. Bagiku, ketimbang Soeharto yang kusasar dalam mengheningkan cipta, aku lebih suka menujukannya kepada beberapa guruku yang sudah Sedo. Beriut beberapa guruku yang sudah sedo:

Bu Farhatin, perempuan super sabar dalam membersamai ku ketika SD. Ia mengajar Ngudi Susilo saat aku duduk dikelas satu hingga kelas dua. Kemudian menjadi guru IPA di kelas tiga hingga kelas lima, sebelum akhirnya Sedo. Aku yang tergolong membenci IPA sejak lahir, menjadikanku ogah-ogahan untuk masuk jam kelasnya. Bahakan jika dipikir kembali, aku tak pernah mengerjakan PR dengan benar, juga selalu bertanya kepada Arum, Bagas, dan Rama saat ujian — trio peringkat kelas. Yang membuatku bersemangat hanyut dalam kelasnya ialah, ia selalu memberikan tips and trick untuk menjalani hidup sebagai seorang murid. Aku ingat betul perkataannya, agar jangan menghambur-hamburkan kertas. Melanjutkan lembar kosong dalam satu buku, meski semester tak lagi sama. Hingga kini, mengenai penggunaan kertas (buku) aku benar-benar menggunakannya hingga pojok halaman terakhir. See? Setidaknya ia berjasa bagi pohon-pohon yang ada, tidak cepat ditebangi. Sesedikitnya melalui penghematanku.

Pak Wafa, seseorang yang mengajariku bertahan menjalani Sa’i di tengah teriknya panas matahari siang. Entah apakah cukup menceritakan ia dalam paragraf ini. Karena kehadirannya sangat berarti bagiku dan sepertinya bagi kawan SD ku lainnya. Ia yang pertama kali memanggil ‘Jangkar’ disaat orang lain memanggilku qila — nama yang membosankan. Juga ia, yang memperkenalkanku kepada syair-syair Syekh Zarnuji yang tertulis dalam kitab Ta’limul Mutta’alim, yang hingga kini masih menjadi patokanku untuk menjamah keilmuan. Bait-bait yang ia bacakan, masih terngiang dalam telingaku. Nadanya, intonasinya, bahkan mimik wajahnya masih terekam jelas di kepalaku. Hingga saat aku duduk dikelas satu SMP, mengunjungi gedung SD beserta manusianya, untuk mengambil ijazah, dan bertemu dengannya, ia masih memanggil namaku dengan jelas ‘Jangkar’. Setelahnya musim korona menyerang, dan kala itu aku mendapatkan kabar ia sudah dimakamkan.

Pak Slamet, guru sekaligus wakil direktur semasa SMP ku. Aku tak banyak bersinggungan denganya. Kecuali saat aku menduduki kelas satu. Oiya dan tiga tahun hari-hariku di asrama SMP — karena ia selalu menjadi imam shubuh di mushola. Ia mengajar pelajaran ibadah amaliyah saat aku SMP. Hal-hal spiritual yang menjadi konsumsi sehari-hari umat islam, diajarkannya dalam kelas saat aku duduk di bangku SMP. Suaranya begitu lembut hingga membuatku tertidur pulas tiap kali ia mendektekan doa baru. Namun ia hanya menegurku degan erangan yang bernada “Khm, Khmm, Khmmm,” — memakai ‘K’ karena suaranya serak-serak basah gitu. Oiya kadang kala ia juga menambahkan kalimat “Ayo Bangun-bangun,” sambil mengetuk meja dengan telunjuk jari. Tapi aku tetaplah aku. Aku masih tertidur pulas dan menikmati pagi hari dengan menutup mata tak sadarkan diri. Juga suara lembut itu menjadi pengiring lelap ku dikala shubuh, bahkan sebelum shubuh.

Last but not least, pahlawan belum Sedo. Ia masih Sugeng dan doakan semoga akan tetap Sugeng di umurnya yang menginjak kepala tujuh, mungkin. Aku juga tak tau secara pasti kepala berapa tepatnya.

Mbah Sukemi, sosok kyai yang tak mau dipanggil kyai. Ditengah banyak orang cedera kepercayaan akan kata itu, ‘Kyai’, dengan lantang aku mengatakan tidak. Karena aku telah melihat sosok kyai yang benar-benar menjadi teladanku. Jika biasanya orang mencari kyai di kediamannya, kau bisa menemukan mbah suke di dapur asrama. Membantu Ibuk Suke — begitu panggilanku untuk istrinya, memasak makanan tiga kali sehari untuk anak-anak asrama. Kesabarannya, perkataannya, juga doa-doanya, yang kerapkali kulihat saat bermain ke dapur asrama. Mulai dari para tabung gas melon asrama yang dicuri, kehilangan bahan masakan, hingga ritual paginya untuk mengelilingi asrama — putra dan putri, untuk mendoakan seluruh anak-anaknya. Satu dari banyak perkataannya yang selalu kuingat dan kuterapkan; senanglah untuk berdoa baik kepada semua orang.

Entahlah apalah jadinya diriku tanpa kehadiran mereka, juga deretan guruku yang tak bisa ku absen satu per satu. Bagiku, merekalah yang layak diberi gelar pahlawan, di ingat saat mengheningkan cipta, juga dibuatkan poster saat 10 november. Mereka yang membentuk penerus bangsa, tanpa mengambil cum merenggut kebahagiaan dan nyawa.


메타데이터
post_id
ce633d5b3f92
slug
selamat-hari-pahlawan-pahlawanku-ce633d5b3f92
url
https://medium.com/@aqeelajk_/selamat-hari-pahlawan-pahlawanku-ce633d5b3f92
canonical_url
https://medium.com/@aqeelajk_/selamat-hari-pahlawan-pahlawanku-ce633d5b3f92
author_url
https://medium.com/@aqeelajk_
status
ok
fetched_at
2026-07-23 07:11:40