← Back to list

Renungan Senin

Bukan aku yang meminta, Tuhan menciptakannya.

Manohari Yuvakah · 2026-08-01 17:42 · 2 claps · 2.8 min read
#filosofi #puisi #prosa-liris
Open on Medium ↗

Bukan aku yang meminta, Tuhan menciptakannya.

Mata yang lengket dengan sisa mimpi tadi malam, dipaksa bangun untuk membangun mimpi hari ini. Tubuh yang diselimuti kejenuhan, dipaksa memenuhi lambung yang keroncongan. Jika berusaha bangun saja sudah sulit, kenapa harus tetap tidur?

Sial, senin lagi. Awal minggu yang paling kubenci tapi harus kulewati. Karena tak mungkin, satu minggu berakhir tanpa senin. Lagian, mengapa seseorang harus menamakan hari itu “senin”? Dan kenapa namaku juga harus senin? Berharap untuk selalu menjadi yang pertama, namun berakhir dibenci semua.

Pagiku berputar di tempat yang sama, kamar dengan ukuran 3x2 dikelilingi dua jendela, untuk melihat fajar dan senja, walau selalu terlewat. Berantakan, namun terlihat rapi. Untuk apa aku rapikan, jika hanya aku yang melihatnya?

Melangkah ke kamar mandi saja berat, padahal air tak perlu ditimba. Mengangkat gayung, membasuh lelah dan penat semalam untuk melumuri dengan lelah dan penat yang baru. Memakai sabun dan sampo yang wangi hanya untuk banjir keringat nanti. Jikalau dibasuh hanya untuk dikotori, untuk apa aku mandi?

Baju kemeja lengan panjang dan celana kain hitam yang sama. Baju yang sama ketika aku dipuja dan dihina ditempat kerja. Busana ini berusaha untuk menutupi semuanya, perasaan yang tak diperlukan, ego yang harus dipendam dan kesedihan yang membiru di badan. Busana adalah bagian dari kemunafikan, menutup-nutupi kenyataan.

Melewati jalan yang sama, berfikir tentang bagaimana perjalanan untuk 1 bulan ke depan. Pemandangan yang penuh dengan para musafir, dengan tujuan tempat kerja atau apapun itu. Mungkin apa yang mereka pikirkan bisa jadi sama denganku. Lagipula mengapa langit pagi ini begitu panas, menambah panas mesin kepalaku. Mesin usang yang terkadang cepat dan sesekali ingin melambat.

Pemandangan Gedung tinggi yang ingin menyentuh langit. Berlomba tentang siapa yang paling tinggi. Tinggi diibaratkan dengan kekuasaan, yaitu ketuhanan. Begitu juga dengan lantai tempatmu bekerja. Semakin tinggi semakin engkau memiliki kuasa dan yang paling tinggi adalah tuhan di gedungnya. Tak berlebihan ketika ku sebut tuhan, karena 1–2 bulan ke depan, nasib untuk menghidupi ada di tangannya. Mungkin, kau bisa mencari di tempat lain, namun apakah engkau ingin bergulat dengan aspal hitam, beradu mata dengan lampu merah dan berpayung mentari diatas kepala? Bukan berarti itu hina dan sengsara. Hanya aku, tak sekuat mereka.

Sampai di kursi yang begitu nyaman, empuknya memanjakan. Sampai tak ingin berdiri. Bisa jadi ambeien nanti. Nyaman adalah penyakit yang membuatmu berhenti. Cobalah berdiri dan meregangkan tubuhmu sesekali, siapa tau dirasuki ruh-ruh penuh kreasi dan inovasi. Aku tak ingin seperti siput dengan rumahnya, yang tak berani untuk keluar. Siapa tau ia bisa memiliki rumah di angkasa? Itulah mengapa aku ingin menjadi ulat yang berani keluar, dengan risiko dimakan atau diracun pestisida. Kalau aku berhasil, aku akan menjadi kupu-kupu. Kalau tidakpun, perutku sudah kenyang makan daun. Begitulah, coba aku berani berdiri dan berteriak tentang ide-ide brilian, mungkin aku bisa menggantikan tuhan.

Berteman kursi adalah meja. Lapangan bermain, dengan kebebasan untuk bekerja atau tidak. Diatasnya semua peralatan-peralatan untuk menyembah dan mengkayakan Tuhan. Bebas bagaimana aku ingin menggunakannya, apakah mengikuti peraturan tuhan atau bermain-main mencoba menipunya. Walau nanti ketahuan. Paling-paling diberi peringatan, lebih berat lagi kartu kuning. Kalau kartu merah, habislah sudah. Di lapangan itu aku selalu berandai-andai, kebebasan adalah pilihan, aku tak ingin memilih menjadi bahan bakar, untuk terus mengoperasikan ketuhanan. Aku memilih untuk menjadi air. Air dari manusia-manusia yang penuh emosi, air yang menyenangkan bagi mereka yang ingin melupakan, air dari kebahagiaan dan kesedihan, atau air hina dari kehidupan. Sejatinya kebebasan bukanlah sebuah kebebasan, tetapi permainan yang sudah direncanakan. Apabila melenceng dari peraturan “kebebasan”, maka menjadi suatu penyimpangan. Tapi bagaimana kalau kebebasan itu kita mainkan, untuk menjadi tuhan. Tuhan yang menghalalkan segala cara, agar terus bermain tuhan.

Lihat, pukul 18.00. Waktunya pulang. Mungkin aku bisa melihat para pekerja tuhan lagi di perjalanan. Mereka yang diperas habis. Karena biasanya mereka yang ambis belum pulang di waktu ini, mereka pulang ketika Tuhan melihat mereka dan mengatakan “Kau lah hambaku yang paling ku cinta”. Siapa tau, mungkin aku bisa melihat senja di perjalanan. Kalau tidak, akan kubuat sendiri, kan aku ingin menjadi Tuhan. Aku harus belajar tentang bagaimana menipu diri sendiri agar percaya, agar hambaku percaya. Aku semakin kaya.

Begitulah renungan senin, bukan karena aku menginginkannya, tetapi Tuhan menciptakannya.


메타데이터
post_id
ce8517cd7eb3
slug
renungan-senin-ce8517cd7eb3
url
https://medium.com/@tejamaulana5734/renungan-senin-ce8517cd7eb3
canonical_url
https://medium.com/@tejamaulana5734/renungan-senin-ce8517cd7eb3
author_url
https://medium.com/@tejamaulana5734
status
ok
fetched_at
2026-08-11 07:53:10