← Back to list

Malam yang Tidak Pernah Usai

🥃×🕯, yume ship, angst, married.

bing🦉🎧 · 2026-05-26 07:10 · 1 claps · 8.5 min read
#yumeship #married #angst #kampus #hatetolove
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Malam yang Tidak Pernah Usai

note: judul telah diganti 2/6/26

note: judul telah diganti 2/6/26

🥃×🕯, yume ship, angst, married.

Disclaimer: OOC. I apologize for any typos or incorrect spelling. Thank u, and enjoy reading! :)

Memasuki akhir bulan mei adalah waktu dimana ujian akhir semester telah selesai. Mahasiswa dari semester awal hingga fosil kampus mulai kembali ke kampung halaman masing-masing atau pergi berlibur.

Naia Niskala, yg bisa kita sebut saja sebagai Niska. Mahasiswi semester ke 6, dari program studi D4 Bisnis Komunikasi.

Niska baru saja menyelesaikan magang nya di sebuah hotel besar bintang lima di kota Z sebagai pengganti 24 sks pada semester tersebut.

Beban pikirannya menumpuk, kantung mata makin tercetak jelas, dan pada semester selanjutnya ia akan memulai proyek tugas akhir. Sungguh sangat hectic.

Demi menjaga kewarasannya Niska memutuskan untuk pulang ke kota asalnya dan berleha-leha dirumah seperti biasanya ketika libur panjang tiba.

Niska duduk di kereta api sudah sekitar 5 jam perjalanan dan rangkaian gerbong yang ditarik oleh lokomotif itu tak kunjung sampai di tujuan. Ia menatap kosong keluar jendela dengan earphone yg tercantol di kiri dan kanan telinganya yang melantunkan lagu-lagu hits berdasarkan rekomendasi shuffle pintar.

Sekuat tenaga gadis itu menahan kantuk di perjalanan,karena terakhir kali ia tertidur di kendaraan umum, dompetnya yg hanya berisi selembar uang berwarna merah beserta kartu tanda penduduk seumur hidup itu hilang tanpa jejak hingga detik ini.

“Hoam.. ngantuk banget. Ya Tuhan, mau kaya instant.”

Niska bermonolog pelan sambil berandai-andai dapat tertidur pulas di mobil pribadi sekarang juga.

Sudah sekitar 3 hari Niska di rumah. Hanya makan, tidur, urusan toilet dan aktivitas default lainnya.

tok.. tok.. tok..

Pintu kamarnya di ketuk dari luar. “Niska, boleh keluar sebentar? mama mau bicara.”

Niska yg sedang rebahan sambil dump scrolling langsung bangun terduduk. “Iya, Ma. Bentar ya aku pakai baju dulu.”

Agak kurang sopan kiranya jika ia keluar kamar dengar tanktop dan kolor saja seperti sekarang walau dirumah sendiri.

Niska langsung keluar menemui mamanya setelah mengenakan dress- tidak, ini hanyalah daster polos tanpa lengan dengan panjang sebetis.

“Duduk, Nak,” titah sang mama menyambut anak gadisnya yang cantik jelita itu.

Ia mengangguk canggung dan segera duduk di sebelah mama nya. Ada orang lain disana selain ibu dan anak itu.

Lelaki dengan kulit tan tingginya kira-kira 180cm keatas yang nampak lebih tua sekitar 4 hingga 6 tahun dari dirinya. “Siapa, Ma?” tanya Niska dengan berisik pelan ditelinga mama.

“Jadi gini nak, dia namanya Sagara Sadewa,” ujar mama memperkenalkan.

“Bisa panggil saya Sagara,” sahut sang pemilik nama.

“O-okay(?) saya bisa di panggil Niska.”

“Jadi Niska, kedatangan saya kesini adalah untuk melamar kamu.”

“Hah?” bingung Niska.

“Jadi mama pikir sudah saatnya kamu menikah, Niska. Karena kebetulan sudah ada yang meminang dan kamu juga sudah masuk di usia legal menikah,” sahut mama.

“HAH??” Niska semakin bingung. “Aduh pusing banget! gini deh, kenapa tiba-tiba nikah? Aku kuliahnya aja belum selesai!”

“Kamu tidak perlu khawatir soal kuliah mu. Karena saya tidak akan melarang kamu melanjutkan pendidikan setelah kita menikah.”

“Ma!” Niska masih mencari pembelaan dari mamanya. Ini sangat tiba-tiba dan tidak bisa ia cerna dengan benar.

“Anakku, sayangku, lenteraku.. Tolong untuk kali ini aja ya. Mama udah nggak sanggup membayar biaya kuliah kamu..” ujar mama memohon.

Niska langsung bangun dari duduknya. “Kenapa mama baru bilang ke aku kalau keadaannya begini! Tau gitu mending aku kerja! Daripada kuliah lalu dinikahkan begini!”

“NISKALA!” tegur sang mama.

“APA MA?! MAMA MAU BILANG APA?AKU NGGA MAU NIKAH, MA!”

Niska melengos begitu saja tanpa menghiraukan ucapan apapun yang keluar dari mulut mamanya saat ini.

BRAK!

Pintu kamar ia tutup dengan kasar, memberikan efek suara nya begitu nyaring, seakan dinding-dinding dirumah ini akan runtuh.

Sore itu Niska tidak keluar kamar sama sekali hingga hari berganti. Ia hanya tebengong memikirkan nasibnya. Mamanya sudah menjadi single parent sejak ia masih SD, dan terus bekerja hingga saat ini untuk biaya hidup mereka berdua. Niska pikir semuanya berjalan lancar tanpa hambatan. Siapa sangka scene seperti di buku novel remaja yang populer itu akan terjadi pada dirinya seperti hari ini.

Padahal dari dulu dia paling tidak mau menikah apalagi bila sampai memiliki keturunan.

Niska berfikir cukup ia saja yang hidupnya susah. Ia tak mau jadi seperti mama nya. Menikah, punya anak, lalu suaminya ntah kemana, berakhir bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri beserta anaknya. Terlihat sangat menyedihkan dimatanya.

“Bodoh banget.”

Niska terlelap dalam isakan dan perut yang lapar hingga pagi.

Niska ke dapur tanpa mendapati siapapun disana, bahkan tidak ada tanda pernah ada yang berkutat di dapur pagi ini.

“Tumben mama nggak masak? Semarah itu kah? Harusnyakan aku yang marah,” ia bergumam sendiri.

tok.. tok.. tok.. “Niska..(?)”

Niska menoleh ke arah pintu rumah depan. Suara yang tidak asing itu, Sagara. Dengan ogah-ogahan ia datangi dan menyahut tanpa membuka pintu.

“Apa?!” sahut Niska nyolot.

“Tolong di buka pintunya, ini saya bawakan sarapan. Tidak ada makanan ‘kan? Mama di rumah sakit.”

Deg! Jantung Niska rasanya merosot turun. Ia tak tahu keadaan mama nya dan hanya sibuk mengurung diri.

Buru-buru gadis berambut abu itu membuka pintu.

“Sejak kapan mama ke rumah sakit? Mama sakit apa? Kenapa ngga kabari? Dirumah sakit mana mama sekarang? Aku mau kesana!”

Pertanyaan-pertanyaan itu di lontarkan bertubi-tubi oleh Niska.

“Hey, calm down. Mama tidak kenapa-napa dan sedang istirahat. Kamu sekarang makan dulu, siap-siap yang rapih lalu saya antar ke rs.”

Niska mendelik tidak senang. Meski begitu tetap ia kerja kan titah dari calon suaminya itu. Memikirkan kata ‘calon suami’ benar-benar membuatnya merinding.

Saat ini mama masih di rumah sakit, bisa-bisanya mama nya terkena asam lambung hingga di rawat inap begini hanya karena aku menolak menikah, pikir Niska heran.

“Nanti mama tinggal sama siapa kalau aku nikah?” tanya Niska masih mencoba untuk membujuk mama nya.

Mama tersenyum lembut dan mengusap pipi Niska. “Itu urusan mama, Niska cukup laksanakan apa yang menjadi urusan Niska.”

Benar-benar jawaban yang tidak memuaskan, bintang satu.

“Kenapa harus nikah sih, ma? Gimana kalo nanti si Sagara² itu tidurnya kayang atau kayak helikopter?”

“Bukannya kamu ya yang tidur kayak helikopter.”

“Ck, iya lagi.”

Mama memperhatikan wajah Niska dengan seksama dan mengusap-usap punggung tangannya.

“Niska, kamu.. sudah besar ya, putri kecil mama..”

Hari minggu, hari dimana mamanya dan Sagara sudah menentukan jadwal kencanku. Yang lebih tepatnya bisa di bilang persiapan pernikahan. Seperti mencari gaun dan cincin.

Pernikahan mereka tidak akan digelar dengan pesta sesuai permintaan Niska. Ia benar-benar tidak mau berbasa-basi dan menemui banyak tamu dengan berpesta.

Ditambah lagi pemberkatan nikahnya harus sudah terlaksana sebelum Niska kembali aktif berkuliah.

Saat ini ia dan Sagara sedang fitting di sebuah butik. Butik yang sangat mewah dan elegan sampai membuat Niska berfikir nih orang (Sagara) beneran kaya ya?

“Lu kenapa mau nikah sama gue?” tanya Niska. Alih-alih menggunakan bahasa yang sopan, Niska malah menggunakan lu-gue untuk memperjelas bahwa dirinya tidak ingin ‘dekat’.

“Mama belum cerita ya?” Sagara malah bertanya balik.

“Ngga, jawab to the point aja napa sih.”

“Bisa dibilang karena janji masa lalu,” jawab Sagara tidak jelas.

Janji apa yang telah di buat oleh mama nya di masalalu itu, pikir Niska.

“Nanti deh saya ceritakan lebih detail nya ketika kita sedang berdua.”

Niska mangut-mangut setuju. Ia pun tak mau di jadikan bahan gosip oleh karyawan-karyawan di butik ini.

Raut marah, kecewa, sedih tercetak di wajah Naia. Ia sudah dengar semuanya dari Sagara.

Ayahnya yang hilang bak di telan bumi itu telah menggadaikannya ke keluarga Sagara dengan membawa kabur uang senilai 271 triliun.

Dan yang membuatnya lebih marah adalah karena mama nya dan bunda Sagara adalah teman lama. Tidak bisa ia bayangkan seberapa malu mama nya sepanjang hidup ini.

Dan sekarang pun hanya ‘diri’ nya lah yang bisa di bayarkan atas semua kelakuan bangsat ayahnya agaknya belumlah cukup.

Ntah Niska harus bersyukur atau apa sekarang karena di peristri alih-alih di perbudak oleh Sagara. Niska benar-benar mengutuk manusia yang di sebut ayah itu, mengakuinya sebagai ayah pun Niska sudah tak sudi.

Setelah cerita dari Sagara, Niska jadi lebih penurut. “Kamu boleh mengutarakan pendapat mu seperti sebelumnya dan menolak jika ada yang tidak kamu setujui. Saya cerita nggak untuk membuat kamu tunduk.”

“Nurut aja aku, aku udah pasrah, atur aja ini arahnya kemana aku ngikut.”

Bersama sifatnya yang melunak, cara bicarakan pun berubah dari lu-gue menjadi aku-kamu. Sagara sebenarnya frustasi dengan sifat Niska yang sekarang. Hingga ide jahil terlintas di pikirannya.

“Pasrah? U sure?”

“Iya.”

Sagara dari bangku pengemudi melirik ke kiri melihat Niska yang duduk dengan pandangan lurus ke jalanan.

Tangan kanannya memegang kemudi, sedangkan tangan kirinya menyingkirkan poni panjang di wajah Niska membuat sang empuh terkejut.

Sagara menyeringai melihat reaksi Niska yang nampak lucu di matanya.

“Masih pasrahnya~” Sagara terkekeh pelan.

Jujur saja, kalau bukan karena ‘tahu diri’, Niska benar-benar sudah melayangkan pukulan ke lelaki disebelah nya ini.

Mobil Sagara sampai di basement rumah sakit. Ia parkirkan dengan rapih, mesin mobil pun telah di matikan tapi kenapa tak kunjung keluar? Pikir Niska.

Perasaan Niska mulai tidak enak. Sagara mulai mendekat ke arahnya, lebih dekat hingga deru nafas mereka terdengar satu sama lain.

Niska tidak tau situasi macam apa ini, ia pun menutup matanya rapat-rapat, dan..

Ceklek.

Seatbelt nya terbuka bersamaan dengan matanya. And bumb! Wajah Sagara benar-benar di depan wajahnya saat ini, bergerak sedikit sama hidung mereka akan langsung bersentuhan.

Sagara menyunggingkan senyuman, “kenapa kamu merem gitu? ngarep ya?”

Plak!

Demi tuhan Niska benar-benar reflek menampar wajah tampan Sagara. “Sshhs.. sakit.. kuat banget kamu nampar saya,” adu Sagara.

“Maaf banget, reflek!” kata Niska sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Benar-benar memalukan.

Malam ini Niska masih di rumah sakit menemani mamanya. Dengan teliti ia menyuapi mama nya makan malam.

“Mama kapan bisa pulang?” tanya Niska.

“Besok,” jawab mama singkat.

“Syukurlah.”

“Lusa kan kamu sudah akad, masa iya mama masih sakit-sakitan disini,” ujar mama semangat.

Niska tersenyum melihat antusias mamanya. Keren banget mama masih bisa sekuat ini, pikir Niska.

“Niska tau ngga, dulu waktu masih umur 1 tahun kamu hyperactive banget.”

Hyperactive gimana tuh contohnya?”

“Pernah waktu kamu mama tinggal sebentar ke toilet, taunya kamu udah manjat di atas mobil,” ujar mama.

“Buset! Tapi masih mending ngga sih, ma. Itu tetangga kita dulu yg keluarga ungu anaknya pernah ngerangkak ke genteng.”

Ibu-anak itu tertawa terbahak-bahak mengingat pernah ada kejadian se-gong itu.

“Ah iya kamu juga pernah main sepedaan, dan ntah gimana malah terjun bebas ke selokan besar! Hahaha!”

Dan seterusnya, mereka bernostalgia kenangan indah bersama hingga larut malam.

“Berdasarkan janji nikah yang telah kalian ikrarkan di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya, maka saya, atas nama Gereja dan umat Tuhan, meneguhkan kalian sebagai suami dan istri. Apa yang telah dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia.”

Janji nikah telah di ikrarkan oleh kedua mempelai dan di sah kan oleh pendeta. Kini kedua insan ini telah menjadi sepasang suami istri.

Kedua mempelai saling memasangkan cincin. Sagara menyingkap veil dari wajah Niska dan mengecup singkat bibirnya di sambut sorak sorai para tamu yang tak begitu ramai.

Tertangkap dari sudut mata Niska bahwa mama nya kini tengah berderai airmata haru melihat putri semata wayangnya telah menikah.

“Akhirnya aku bisa istirahat dengan tenang setelah ini,” gumam mama.

Seminggu setelah menikah Niska dan suaminya masih tinggal bersama mama atas pèmintaan Niska, at least ia ingin tinggal hingga sebelum masuk kuliah nanti.

Sore ini mendung, mama keluar berjalan kaki membeli kue tradisional di gang depan.

Sagara sudah menawarkan untuk pergi menggantikan mama keluar namun di tolak dengan alasan lagi pengen jalan-jalan.

Alhasil sekarang Sagara tetap di rumah dan berkutat di dapur menyiapkan untuk makan malam.

Jangan tanya dimana Niska, sudah jelas dia tidak ingin melakukan apapun dan hanya ngendep di kamar seperti biasanya.

Mama sudah di jalan pulang ke rumah, namun perasaannya tidak enak. Dia seperti di buntuti sejak pulang dari toko kue tadi. Beliau mempercepat langkahnya hingga rintik hujan mulai turun rintik-rintik.

Takut di ikuti dan takut kehujanan, mama berlari kecil menuju rumah.

Jleb!

Mungkin ini adalah hari sialnya. Dadanya di tusuk dari belakang, menyebabkan darah mengucur begitu deras. Mama memegangi sumber yang terus mengalir berharap darah dan rasa sakit ini dapat berhenti.

Warga yang berada di sekitar mulai mengerumuni beliau, sebagiannya mengejar penguntit untuk di gebuki.

Kalau matinya dengan cara ini, setidaknya Niska ngga perlu tau sakit ku apa.

Dibawah rintik hujan, diatas gundukan tanah basah. Niska tunduk menangis meraung-raung. “KENAPA TUHAN.. KENAPA KAMU AMBIL MAMA DARI AKU..”

Sagara hanya bisa memeluk Niska untuk menguatkannya. Sagara pun akan sehisteris itu jika hal ini terjadi pada bundanya.

Niska benar-benar runtuh hari ini, apapun boleh di ambil dari dirinya tapi tidak dengan mama nya.

Kini Niska sudah sangat pucat, di ajak menepi pun dia enggan. “Mama pasti sedih kalau lihat kamu seterpuruk ini, Niska,” ujar Sagara.

“Tuhan.. aku mau ikut sama mama..”

Nyess, hati Sagara sangat sakit mendengar Niska merancau begitu.

“Mas, kepalaku pusing..”

Pandangannya kabur dan mulai menggelap. Niska pingsan dalam pelukan Sagara.

Maaf Niska, mama duluan ya.

Sudah satu tahun setelah kepergian mamanya. Kini Niska sedang berdiri di depan gundukan tanah itu lagi.

Tanah yang awalnya basah, kini telah kering dan di temani rerumputan liar yang tidak begitu tinggi.

“Ma, hari ini aku wisuda, aku cumlaude loh. Mama ngga mau liat aku? Padahal mama yang usahakan aku untuk sekolah sampai setinggi ini. Tapi mama malah ngga bisa liat hasil ku gimana.”

To Be Continued…

kalau rame lanjut part 2


메타데이터
post_id
ced4ddf9488d
slug
sebenarnya-kenapa-aku-memilih-lahir-jika-takdir-ku-semenyedihkan-ini-ced4ddf9488d
url
https://medium.com/@bingbebby/sebenarnya-kenapa-aku-memilih-lahir-jika-takdir-ku-semenyedihkan-ini-ced4ddf9488d
canonical_url
https://medium.com/@bingbebby/sebenarnya-kenapa-aku-memilih-lahir-jika-takdir-ku-semenyedihkan-ini-ced4ddf9488d
author_url
https://medium.com/@bingbebby
status
ok
fetched_at
2026-08-29 10:44:51