← Back to list

Kita Hanya Terlambat Memahami

Bukan Terlambat Mencintai, kan?

alun · 2026-05-23 11:11 · 0 claps · 1.6 min read
#hujan #memahami #mencintai
Open on Medium ↗

Kita Hanya Terlambat Memahami

“Selalu ada cerita Tersimpan di hatiku Tentang kau dan hujan Tentang cinta kita yang mengalir s’perti air”

[embed]

Aku membaca sebuah bagian dari karya Tere Liye yang berjudul “Hujan”. Lalu menatap cukup lama pada salah satu dialog yang terasa begitu berat untuk dipahami. Dialog yang membuat ku tak berhenti berpikir. Akankah hal itu dapat terjadi kala nanti?

Bagiku, “Hujan” tidak selalu berarti cuaca yang membasahi alam semesta; terkadang, ia adalah tentang butiran rasa yang lama menunggu untuk dibalas. Bukan karena tidak memiliki rasa, melainkan keduanya sibuk menebak isi hati masing-masing tanpa benar-benar saling berbicara.

“Hujan” karya Tere Liye

“Hujan” karya Tere Liye

Perihal mencintai, semua makhluk hidup di alam semesta pasti mengerti caranya. Namun perihal memahami, tak ada satupun yang mengetahui bagaimana cara kerja hati manusia — ada ego yang terlalu tinggi untuk direndahkan, ada diam yang terlalu panjang untuk dijelaskan, dan ada perasaan yang lelah untuk dipertahankan.

“Apakah Esok mencintaiku, Maryam?”

: “Dia mencintaimu, Lail.”

“Tapi kenapa dia tidak menghubungiku?”

: “Mungkin dia punya alasan terbaiknya.”

“Tapi kenapa dia membuatku menunggu? Menyiksaku?”

Dan jika pertanyaan itu datang kepadaku, mungkin aku pun tidak akan memiliki jawaban yang benar-benar mampu menjelaskan segalanya. Sebab yang aku tahu, manusia hanya ingin satu hal: diyakinkan bahwa perasaannya tidak hadir sendirian.

Ketika hujan-hujan itu jatuh, serpihan ingatan kembali bertaut. Lail mengingat Esok. Seperti batuan yang tabah dititiki air. Lail merindukannya. Maka manakah yang lebih tabah: hujan saat itu atau lama Lail menunggunya?

Bagaimana waktu bisa sebegitu tega, menitipkan rindu pada jarak. Membiarkan Lail berlumur rasa kesepian. Barangkali, menunggu adalah takdirnya. Aku memahami itu.

Tetapi sesungguhnya, hidup ini memang tentang menunggu. Menunggu kita untuk menyadari: kapan kita akan berhenti menunggu.

Lembar demi lembar buku itu telah terbaca, menyisakan jejak air mata yang diam-diam jatuh di setiap halaman. Ada kalimat-kalimat yang terasa terlalu dekat, seolah bukan lagi sekadar tulisan, melainkan potongan perasaan yang pernah hidup di dalam diriku sendiri.

Hingga hari itu tiba, saat lembar berikutnya terbuka. Ketika seseorang berkata,

“Sungguh maafkan aku, Lail.”

Wahai, inikah akhir dari segalanya? Menutup rindu yang terbalut waktu. Mengobati perasaan yang telah lama ditinggalkan. Menerima kehadiran yang tidak lagi menuntut kepastian.

Denganmu, dengan kita yang memulai bahtera. Atas nama rindu yang datang tak kenal waktu; aku bersaksi, bahwa tiada obat selain bertemu.


메타데이터
post_id
ceedc5e4d0dd
slug
kita-hanya-terlambat-memahami-ceedc5e4d0dd
url
https://medium.com/@alunarchive/kita-hanya-terlambat-memahami-ceedc5e4d0dd
canonical_url
https://medium.com/@alunarchive/kita-hanya-terlambat-memahami-ceedc5e4d0dd
author_url
https://medium.com/@alunarchive
status
ok
fetched_at
2026-06-24 04:09:36