← Back to list

Menilik Perjalanan JNE: Mengantar Kebahagiaan, Mendukung Perekonomian

Sebagai USA (Urang Sunda Asli), perantauan selalu memantik rasa rindu saya akan cemilan “permicinan” yang kriuk-kriuk.

Nita (Qonita) · 2024-07-23 13:52 · 5 claps · 5.0 min read
#jne #courier-companies #history-of-culture #keripik-pedas #anak-rantau
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media

Menilik Perjalanan JNE: Mengantar Kebahagiaan, Mendukung Perekonomian

Sebagai USA (Urang Sunda Asli), perantauan selalu memantik rasa rindu saya akan cemilan “permicinan” yang kriuk-kriuk.

Tahun 2024 ini menjadi kali kedua saya merantau ke daerah Yogyakarta. Sayangnya, mungkin karena cita rasa dan selera daerah yang agak berbeda (meski Jawa Barat dan Yogyakarta tidak jauh-jauh amat), keripik pedas di sini selalu terasa kurang asin, pedas, atau gurih. Dasar memang lidah Sunda, kalau belum seuhah atau kepedasan, kayaknya belum puas.

Karenanya, pencarian saya seringkali berakhir pada belanja online. Meski harus menunggu 3–4 hari, tapi saya selalu ketagihan dengan rasa bahagia ketika akhirnya paket keripik pedas saya sudah di tangan.

Keripik-keripik asin dan pedas ini, yang sebelumnya bisa saya beli dengan mudah di warung dekat rumah seharga seribu rupiah per bungkusnya, kali ini harus menempuh perjalanan lebih dari 400 kilometer bersama kurir paket agar bisa saya nikmati. Jika tidak ada jasa mereka, saya mungkin harus menahan ngiler sampai nanti bisa pulang ke Bandung.

Kenyamanan jajan keripik jarak jauh ini ternyata erat kaitannya dengan perkembangan jasa ekspedisi barang di Indonesia. Namun, siapa sangka ternyata kisahnya berkelindan dengan Jepang, tren wartel, hingga Kaskus!

Lho, kok bisa, ya?

‘Omotenashi’ dalam Ekspedisi

Kantor Yamato Transport dan deretan mobil Takkyubin — Sumber: japan-guide.com

Kantor Yamato Transport dan deretan mobil Takkyubin — Sumber: japan-guide.com

Kita akan melihat sejenak ke Jepang di tahun 70-an.

Saat itu, Yamato Transport, sebuah perusahaan pengiriman logistik yang sudah berdiri selama 51 tahun, menyadari bahwa Kantor Pos Jepang tidak menerima pengiriman barang dengan berat melebihi 6 kilogram.

Melihat kesempatan tersebut, mereka kemudian melahirkan Takkyubin di tahun 1976, sebuah jasa pengiriman barang secara cepat langsung ke rumah.

Inovasi yang ditawarkan? Sistem drop-off dan pick-up di konbini alias convenience store.

Dilansir dari “Konbini-Nation: The Rise of the Convenience Store in Post-Industrial Japan” (Whitelaw, 2018), di era tersebut sudah ada sekitar 1.000 konbini yang tersebar di Jepang. Keberadaan Takkyubin di konbini otomatis menciptakan akses yang lebih mudah bagi masyarakat Jepang untuk berkirim barang pada saat itu. Hemat waktu, hemat tenaga.

Menurut saya, inovasi ini adalah salah satu cara Yamato Transport mewujudkan prinsip omotenashi (おもてなし / 御持て成し), sebuah prinsip bermakna “sepenuh hati memperhatikan pelanggan,” atau dengan kata lain mengutamakan kenyamanan pelanggan. Prinsip yang sudah lama mengakar di masyarakatnya.

Takkyubin berhasil mempelopori modernisasi layanan pengantaran barang, atau dalam bahasa Jepangnya ‘takuhaibin’. Tidak hanya nyaman dan bisa diandalkan, mereka juga mengubah budaya pengiriman barang di Jepang.

Kisah ini kemudian menginspirasi perusahaan jasa serupa di negara yang berjarak lebih dari 6.000 kilometer jauhnya dari Jepang: Indonesia.

Bersanding dengan Wartel

Antrean di wartel — Sumber: topcareer.id

Antrean di wartel — Sumber: topcareer.id

Tahun 1970, di Indonesia berdiri PT Tiki, perusahaan jasa ekspedisi swasta yang dengan cepat menjadi alternatif Pos Indonesia untuk pengiriman domestik saat itu.

Tiki mulai merambah ke ekspedisi luar negeri dengan melahirkan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir di tahun 1990, yang nantinya kita kenal sebagai JNE. Namun, pasar jasa ekspedisi domestik yang menjanjikan lantas mendorong JNE ikut menceburkan diri dengan mendirikan gerai pertama pada tahun 1994.

Tahun 1995, JNE memperkenalkan sistem agen drop point untuk pengiriman barang pada publik. Bisa menebak apa namanya?

Takuhaibin.

Sebagian dari Anda mungkin masih ingat–atau bahkan pernah mengalami–masa kejayaan wartel atau warung telekomunikasi tahun 90-an. Tren ini turut dilirik oleh JNE sebagai sebuah kesempatan untuk mempopulerkan Takuhaibin.

Dilansir dari historia.id, Telekomunikasi Indonesia terbitan tahun 1997 mencatat bahwa terdapat lebih dari 1.100 wartel yang tersebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia per 1993. Jumlah ini terus bertambah setiap tahunnya hingga awal tahun 2000-an.

Alih-alih memanfaatkan toko swalayan sebagai drop-off point seperti Takkyubin, Takuhaibin JNE memilih wartel yang saat itu sedang viral.

Dengan semakin banyaknya wartel di berbagai penjuru Indonesia, JNE memiliki kesempatan besar untuk meluaskan jaringannya. Mengirim dan menerima barang jadi terasa lebih mudah dan praktis karena bisa dilakukan dari wartel terdekat yang menjadi agen Takuhaibin.

Langkah inovasi inilah yang membedakan JNE dari Tiki dan mengangkatnya sebagai pelopor sistem pengiriman barang modern di Indonesia saat itu.

Perkembangan teknologi yang tidak bisa dijegal sempat menenggelamkan bisnis wartel di tahun 2000-an seiring dengan hadirnya tren telepon selular. Akan tetapi, hal itu tidak berdampak signifikan bagi JNE.

Mereka justru semakin bersemangat menumbuhkan agen-agen baru seiring dengan meningkatnya permintaan, terutama ketika masyarakat Indonesia mencicipi kecanggihan internet dan menemukan hal baru: belanja online.

Mudahnya Belanja Melalui Internet

Laman forum jual-beli Kaskus saat ini — Sumber: Kaskus

Laman forum jual-beli Kaskus saat ini — Sumber: Kaskus

Menjelang tahun 2000, Kaskus muncul dengan forum jual-beli online dan memantik gaya hidup baru: belanja daring.

Saya ingat di awal tahun 2000-an toko online belum seramai saat ini. Namun, platform untuk pembuatan katalog produk secara daring mulai bermunculan satu per satu. Ada Multiply, Wordpress, Facebook, hingga Tokobagus yang iklannya sempat malang-melintang di televisi.

Bisnis online pun tampak semakin menjanjikan, mengobarkan semangat masyarakat Indonesia untuk ikut serta. Pakaian, aksesoris, onderdil, hingga makanan seperti keripik pedas yang saya cintai, mulai marak dijual secara daring.

Dengan agennya yang sudah tersebar di kota-kota besar serta layanan pelanggan 24 jam, JNE menjadi jasa ekspedisi yang cukup sering diandalkan untuk pengiriman barang hasil transaksi online. Teriakan khas “Permisi, paket!” dari kurirpun jadi sesuatu yang amat dinanti.

Tidak heran jika kemudian JNE semakin akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia, terutama para pelaku bisnis daring. Termasuk di antaranya adalah pelaku bisnis kecil atau UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang menjadi bagian penting dalam pergerakan ekonomi di Indonesia hingga saat ini.

Totalitas Dukung UMKM

Ngajak Online 2023 — Sumber: jabar.jpnn.com

Ngajak Online 2023 — Sumber: jabar.jpnn.com

Sekarang, dengan semakin besarnya peran lokapasar alias marketplace dalam kegiatan berbelanja online, semakin banyak pula UMKM yang ‘membuka lapak’ di sana.

Sebagai pelopor pengiriman modern di Indonesia, JNE pun turut mendukung ekspedisi untuk transaksi online. Masih dengan energi dan semangat yang sama dalam berinovasi, mereka terus mendukung UMKM untuk lebih kuat dan bermekaran melalui berbagai layanan dan produk.

Salah satunya adalah E-Fulfillment, jasa manajemen logistik dan pergudangan yang lahir tahun 2017. Layanan ini membantu UMKM online menciptakan bisnis terpadu, sehingga mereka tidak perlu khawatir bagaimana mengatur stok barang lebih banyak.

JNE juga aktif terjun ke tengah lingkungan pebisnis kecil dan menengah dengan menggelar talkshow rutin bertajuk “Ngajak Online”. Acara ini memotivasi para pengusaha UMKM untuk terus berkreasi demi bertahan menghadapi berbagai situasi ekonomi, termasuk ketika pandemi Covid-19. Kegiatan ini juga menciptakan komunitas bagi pebisnis untuk saling mendukung di tengah situasi sulit.

Tidak berhenti di sana, JNE juga menelurkan lokapasar khusus UMKM oleh-oleh khas daerah, Pesona. Di sini, pelanggan bisa menemukan ratusan produk makanan, minuman, dan kerajinan dari 50 lebih daerah di Indonesia.

Betul-betul surga bagi saya si tukang jajan 😆.

Puluhan Tahun Antar Kebahagiaan

Perjalanan JNE selama 33 tahun terakhir ini ternyata telah menjadi bagian yang penting bagi jalinan cinta saya dengan produk UMKM favorit, si keripik pedas seuhah.

Di luar sana, di seluruh Indonesia, tidak terhitung sudah berapa juta orang merasakan kebahagiaan yang sama seperti saya ketika menerima kiriman barang.

Entah itu kiriman dari keluarga di kampung halaman, atau sekadar cemilan keripik hasil jajan online — kebahagiaan ternyata bisa sesederhana mendengar teriakan: “Permisi, paket dari JNE!”.

Terima kasih JNE, perjalanan sejarahmu sudah menyambung jutaan kebahagiaan. Jangan kehilangan semangat berkreasi dan berinovasi, agar keripik pedas favorit saya bisa terus dinikmati ke manapun saya merantau 😀.

#JNE #ConnectingHappiness #JNE33Tahun #JNEContentCompetition2024 #GasssTerusSemangatKreativitasnya


메타데이터
post_id
cef675d816b4
slug
menilik-perjalanan-jne-mengantar-kebahagiaan-mendukung-perekonomian-cef675d816b4
url
https://medium.com/@qonitadl/menilik-perjalanan-jne-mengantar-kebahagiaan-mendukung-perekonomian-cef675d816b4
canonical_url
https://medium.com/@qonitadl/menilik-perjalanan-jne-mengantar-kebahagiaan-mendukung-perekonomian-cef675d816b4
author_url
https://medium.com/@qonitadl
status
ok
fetched_at
2026-07-23 08:12:15