← Back to list

Terdidik Oleh Harapan

Sejak terlahir di dunia, ada sebuah harapan yang selalu diemban oleh seorang manusia, entah itu datang dari orang tua, keluarga, maupun…

Moh Imam Fadhlurrohman · 2026-06-27 18:22 · 2 claps · 1.5 min read
#harapan #rapuh #terdidik #percaya #kerja
Open on Medium ↗

Terdidik Oleh Harapan

Sejak terlahir di dunia, ada sebuah harapan yang selalu diemban oleh seorang manusia, entah itu datang dari orang tua, keluarga, maupun orang sekitarnya. Ucapnya, anak ini suatu saat nanti harus menjadi “seseorang yang berguna”, namun tak sedikit juga dari mereka yang sudah menitipkan harapan untuk menjadi seseorang secara spesifik ketika tumbuh dewasa nantinya. Semisal yang sering kita dengar seperti harus menjadi Dokter, Tentara, Polisi, bahkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau mungkin diluar dari itu semua.

Ketika harapan itu datang, maka terbit sebuah pola pendidikan yang diberikan terhadap seorang manusia sejak dini. Dipersiapkan dengan sebaik mungkin, sehingga tidak ada rasa lelah untuk memberikan pendidikan yang terbaik. Seberat apapun rintangan dan hadangan yang menghampiri akan selalu dihadapi, karena selalu teringat memberikan hal yang terbaik adalah harga mati yang tidak bisa digadaikan oleh apapun.

Hari demi hari dilalui, bulan demi bulan terlewati, dan tahun demi tahun silih berganti. Tak terasa seorang manusia itu tumbuh menjadi seorang dewasa yang terbebani dengan banyak harapan di pundaknya. Kemudian, meraba dan berusaha sebisa mungkin untuk membuktikan harapan itu dapat menjadi nyata.

Lalu di tengah perjalanan tidak sepenuhnya berjalan dengan baik, ternyata ada luka yang tersembunyi singgah di dalam dirinya. Rasa luka itu teringat kembali, terekam jelas dalam otak semua peristiwa tersebut. Merasa dibayangi oleh rasa ketakutan, dan diselimuti oleh rasa kekhawatiran.

Bingung, gundah, dan tak tahu arah menjadi hal yang selalu dipertanyakan untuk keberlangsungan masa depannya.

Namun terkadang manusia lupa dengan tabiatnya, bahwasannya “manusia adalah tempatnya salah dan lupa”. Ada dari mereka yang mau dan bisa merubahnya, tapi tidak sedikit juga dari mereka yang termakan oleh egonya.

Ketika keegoisan itu menghampiri, memang tidak sepenuhnya salah, namun tidak juga sepenuhnya dapat dibenarkan. Maka seharusnya dan semestinya yang dilakukan ialah dapat mengendalikan ego itu dengan seimbang dan terarah, sehingga apapun yang disampaikan nantinya sebuah rasa kasih sayang yang penuh dan utuh, bukan sebuah hal yang rapuh.

Apa pun yang jatuh hari ini — biarlah jatuh. Peluk erat retakmu, maafkan dirimu bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu masih di sini, masih mencoba, dan itu sudah lebih dari cukup. Jadilah versi terbaikmu — bukan milik siapa pun, hanya milikmu sendiri, yang tumbuh pelan seperti akar tak terlihat namun menopang segalanya.

Dan harapan — biarkan ia memelukmu lebih dulu sebelum kamu tahu cara percaya. Ia tidak pergi, ia tidak pernah pergi. Suatu hari nanti, pelukan itu akan menjadi kenyataan yang kau genggam dengan kedua tanganmu.


메타데이터
post_id
cf24def40ece
slug
terdidik-oleh-harapan-cf24def40ece
url
https://medium.com/@mochimam74/terdidik-oleh-harapan-cf24def40ece
canonical_url
https://medium.com/@mochimam74/terdidik-oleh-harapan-cf24def40ece
author_url
https://medium.com/@mochimam74
status
ok
fetched_at
2026-07-09 15:12:33