Pasar Dieng
Gunung Lawu, 26 November 2022
Pasar Dieng

Foto: Magnific
Gunung Lawu, 26 November 2022
Berada di ketinggian 3104 mdpl dengan udara dingin yang seakan menusuk raga dan mentari yang masih tertidur lelap menciptakan gelap malam. Hal ini membuat kelompok pendaki Lawu yang berisikan empat orang membungkus dirinya dengan jaket windproof dan mengenakan headlamp di kepalanya sebagai sumber pencahayaan.
Kelompok pendaki ini dipimpin oleh Bambang sekaligus sebagai navigator, selanjutnya di susul Manda dan Bella sebagai member, dan Rio paling belakang sebagai sweeper. Mereka berempat memulai summit pukul setengah tiga subuh dari lokasi camp Gupak Menjangan. Namun, saat ini keempat pendaki tersebut berhenti sejenak di jalur Pasar Dieng. Bukan tanpa sebab, mereka masih merasakan lelah akibat perjalanan dari basecamp Candi Cetho menuju lokasi camp Gupak Menjangan kemarin.
Angka 03:35 terlihat jelas ketika jari telunjuk menekan tombol light pada jam tangan.
“Sekarang udah setengah empat. Target kita bisa lihat sunrise di puncak, jadi gimana nih, lanjut?” tanya Rio memecah keheningan yang sedari tadi melingkupi mereka berempat.
Bambang dan Manda yang mendengar pertanyaan dari Rio, seketika menatap Bella yang sedang duduk di atas batu sambil meluruskan kedua kaki
“Kalian duluan aja.” Bella mengatur napasnya yang tergesa-gesa lalu kembali berucap “Aku istirahat dulu di sini … Entar aku ikut kelompok lain yang lewat sini, terus nyusul kalian di puncak.”
“Ha? Mana bisa aku tinggalin kamu sendirian di sini!” Bambang tahu-tahu menyela tidak setuju.
“Bam, ini tuh pertama kalinya aku mendaki, tujuan aku cuman mau berhasil summit dan sampai di puncak. Sedangkan tujuan kalian itu mau lihat sunrise di puncak Lawu. Aku gak mau kalian gagal lihat sunrise karena aku. Jadi, kalian duluan aja, nanti kita ketemuan di puncak aja,” tutur Bella sambil memijat-mijat kedua kakinya.
“Iya sih, Bel. Tapi kamu yakin sendirian aja di sini? Kamu gak takut,” sahut Manda membuat Bella diam sejenak. Sejujurnya Bella tidak yakin dengan pilihannya sendiri. Namun, ia juga merasa tidak enak jika menjadi hambatan untuk ketiga temannya.
“Aman, kok. Kamu pikir aku cewek apa?” Bella tertawa renyah. “Intinya aku pasti nyusul kalian deh, guys.”
“Oke, Bel. Ingat pesan aku, jangan summit kecuali kamu ikut sama kelompok pendaki lain, ngerti?” ucap Bambang berdiri dari tempat duduknya dengan menggunakan tracking pole sebagai tumpuan.
“Ngerti, Bam!” Netra Bella masih setia memandangi punggung ketiga temannya yang kini mulai menjauh meninggalkan dirinya lalu pelan-pelan hilang tersedot kegelapan. Kemudian, Bella menyapu pandang sekitarnya yang hanya berupa dataran luas dengan tumpukan batu-batu berserakan dengan pohon edelweis yang tumbuh di sela-selanya serta kabut tipis yang hadir mengurangi jangkauan pandang Bella.
Entah sudah berapa lama Bella terdiam ditemani sepi dan sunyi di sini. Namun, sesuatu yang pasti bahwa sedari tadi atensi Bella terpaku ke arah jalur pendakian dari Gupak Menjangan. Di setiap detik yang berlalu, gadis itu berharap semoga ada pendaki yang datang dari sana sehingga ia bisa ikut dan menyusul teman-temannya di puncak.
“Janck, kok belum ada pendaki yang lewat, sih! Padahal tadi pas di Gupak Menjangan, ramai banget pendaki siap-siap mau summit. Please, *ayolah aku butuh teman ke puncak.”
Selang beberapa menit berlalu, bukannya pendaki yang datang menghampiri Bella, melainkan suara bising yang menghampiri dirinya. Semakin lama, semakin jelas suara itu ditangkap telinga Bella sehingga ia mengetahui bahwa kebisingan itu merupakan suara hiruk pikuk pasar, bahkan ia sesekali mendengar alunan gamelan yang seolah-olah mengajak dirinya untuk datang ke sumber suara.
Sebenarnya Bella merasakan suasana yang berbeda setelah kehadiran suara bising tersebut, tetapi rasa keingintahuannya lebih tinggi dari pada rasa takut. Hal inilah yang melandasi Bella bangkit dari tempat duduknya. Ia menepuk-nepuk bagian belakang celana lalu mengambil tracking pole miliknya dan berjalan mendekati sumber suara tersebut.
Bella terus berjalan membelah kabut yang mendadak hadir semakin tebal di sekelilingnya. Pandangannya memang tidak jelas karena kabut, tetapi ia tetap melangkah maju dengan mengandalkan telinganya yang terus menangkap suara bising dari arah depan. Setelah berjalan cukup lama, barulah kabut perlahan memudar sehingga Bella dapat melihat sebuah pasar ramai akan pengunjung meskipun di lingkupi hutan lebat.
“Ooh, pasar. Jadi, aku gak salah denger kalau tadi tuh suara pasar, ramai juga ini pasar.”
Bella mematikan headlamp-nya karena pasar ini tidak segelap jalur pendakian. Kakinya terus melangkah maju masuk ke dalam pasar, sedangkan kedua pupil matanya berkeliaran ke kiri dan ke kanan memperhatikan setiap kios-kios pedagang yang dilaluinya.
Semakin dalam Bella menyusuri pasar, gadis itu merasa pasar ini tidak jauh berbeda dengan pasar di kota. Ada bau amis dari penjual ikan, tawar menawar antara penjual sayur dengan pembeli, anak-anak yang merengek karena tidak dibelikan jajanan, hingga ada penjual makanan dan kue tradisional. Suatu hal mencolok yang dilihat Bella dari pasar ini adalah kios pedagang yang masih menggunakan lampu gas.
Langkah Bella mendadak terpaku ketika ia menyorot pemandangan indah yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah panggung menjulang megah dengan dua pilar berukiran ular berwarna hijau keemasan yang seolah-olah melilit pilar penyangga. Bagian latar belakang panggung tampak indah dengan batik yang terpasang berpadu dengan gunungan wayang kulit, sedangkan bagian atap panggung bermodel atap rumah joglo.
Dibandingkan keindahan panggung tersebut, tidak kalah menarik wanita dengan paras cantik nan memesona yang sedang menari di atas panggung. Wanita tersebut mengenakan busana berwarna hijau selaras dengan selendang sutra berwarna sama yang melambai-lambai di udara. Pergelangan tangan, kaki dan lehernya dihiasi oleh perhiasan yang membuat penari tersebut semakin menawan.
Alunan gamelan yang dibawakan oleh delapan orang niyaga mengiringi tarian gemulai nan elok wanita penari. Para penonton pria maupun wanita, remaja maupun orang tua, semuanya hanyut dalam euforia kegembiraan dan kebahagiaan. Sorak-sorakan yang dibalas tepuk tangan antar penonton menciptakan suasana meriah di pasar tersebut.
Bella memilih menyaksikan kemeriahan tersebut tanpa berminat bergabung sama sekali. Ia justru membalikkan badan bermaksud pulang dan kembali ke jalur pendakian. Namun, sebelum maksudnya tercapai, Bella dihampiri oleh pria paruh baya di tengah perjalanan pulangnya.
“Nduk, mampir dulu ke warung Pakde, yuk,” ucap Pakde paruh baya yang menghampirinya.
“Eh, makasih, Pakde. Gak usah, soalnya aku lagi buru-buru.” Bella menolak dengan halus sambil mengangkat telapak tangan kanannya menunjukkan penolakan.
“Nduk ini pendaki, ‘kan? Pasti capek selama perjalanan, mari sini makan dulu. Gratis buat Nduk, gak usah bayar. Gak baik juga nolak rezeki, Nduk,” desak Pakde berharap gadis itu menerima tawarannya.
Sebenarnya Bella enggan menerima tawaran Pakde tersebut, tetapi ia merasa tidak enak sama Pakde. Apalagi singa yang bersemayam di perutnya sudah mengaum kelaparan. Di sisi lain, siapa yang mau menolak tawaran makanan gratis sehingga Bella melangkahkan kaki ke warung Pakde tersebut.
“Pakde jualan apa?’ tanya Bella. Ia lalu duduk di kursi kayu panjang yang telah disediakan Pakde dan menyandarkan tracking pole di sebelahnya.
“Ayam goreng kalasan, Nduk. Di tunggu, ya.” Pakde tampak serius mengolah ayam di gerobaknya.
Beberapa menit berlalu dan tibalah Pakde membawa nampan berisikan ayam goreng kalasan dan nasi beserta air minum yang sebentar lagi akan menjadi santapan singa di perut Bella yang kelaparan.
“Ini, Nduk, silakan di makan mumpung masih hangat. Kalau airnya habis atau mau tambah nasi, silakan panggil Pakde,” ucap Pakde sambil menaruh nampan tersebut di samping Bella.
“Makasih, loh, Pakde. Maaf jadi merepotkan gini.” Bella langsung menyambar dan melahap makanan yang disajikan oleh Pakde.
Pakde tersenyum dan melayangkan anggukan sopan lalu kembali ke gerobak untuk meladeni setiap pelanggan yang datang.
Bella menikmati setiap gigitan ayam kalasan yang lembut dan lezat sambil memerhatikan setiap orang yang berlalu-lalu. “Hmm, ayamnya gurih.”
“Bentar kalau ketemu yang lain, aku ajak ke sini deh sekalian bayar ayam ini.”
Di timur, mentari perlahan mengintip di balik sekawanan awan. Saat itu pula kondisi pasar semakin ramai akan orang yang berkunjung. Namun, Bella baru menyadari sesuatu yang janggal di sini.
“Eh? Tunggu dulu … ada yang aneh. Dari tadi aku masuk ke pasar ini, aku gak bertemu dengan pendaki lain, deh. Justru kayaknya hanya aku saja pendaki yang berkunjung ke sini.”
Bella berhenti mengunyah, kepalanya tiba-tiba memutar sebuah memori ingatan yang tampaknya hampir ia lupakan. Tiga hari yang lalu sebelum mendaki, Bambang dan Rio pernah berpesan kepadanya …
“Bella, ini pertama kalinya kamu mendaki. Jadi, kamu harus tahu ini. Nanti kita mendaki Lawu itu via Candi Cetho. Nah, di rute ini tuh ada salah satu spot angker, namanya Pasar Dieng atau dikenal dengan Pasar Setan. Letaknya itu sesudah gupak menjangan. Konon katanya sih tempat itu dijadikan tempat transaksi jual beli makhluk ghaib,” ucap Bambang.
“Katanya juga para pendaki yang lewat situ biasanya mendengar suara kayak di pasar. Oh, iya, di perjalanan lewat Pasar Dieng nanti kalau kamu merasa di ajak jual beli, kamu harus membayarnya dengan menaruh daun dengan sopan lalu mengambil batu. Tapi gak semua sih yang mengalami ini, biasanya yang merasakan itu yang punya indra keenam gitu,” celetuk Rio menambahkan pernyataan Bambang.
“Nah, ini juga ada pesan dari kenalanku. Semisal kamu tiba-tiba tersesat dan masuk di pasar setan. Ingat, jangan sentuh barang apa pun di sana apalagi sampai memakannya. Jika ditawari barang, kamu tolak dengan halus, lalu usahain jalan cepat keluar dari pasar itu. Jangan lupa berdoa dan minta bantuan sama tuhan juga.” Bambang menyeruput kopinya lalu melanjutkan, “Yang terpenting jaga perilaku dan sopan santun selama mendaki, ya, Bel
Memori ingatan yang baru saja selesai terputar di kepalanya membuat Bella diam mematung. Gadis itu mulai tersadar bahwa saat ini dirinya sedang berada di tempat yang tidak seharusnya ia kunjungi — Pasar Setan. Secepat kilat, Bella mengalihkan pandangannya ke arah piring yang ia pegang.
“Aaaarrrhhh …!” Bella terkejut melihat apa yang ada di dalam piring tersebut — Ayam mentah dengan darah segar yang masih berlumur di sekujur bulu hitamnya.
Bella tanpa sengaja menjatuhkan piringnya karena kaget dengan apa yang ia lihat dan merasa mual mengingat apa yang ia makan barusan adalah ayam mentah yang tidak layak di konsumsi.
Teriakan Bella membuat seisi pasar mengarahkan pandangan kepadanya. Bunyi gamelan berhenti mengalun, suara bising menjadi hening, dan orang-orang di pasar berjalan mendekati Bella.
“Enggak sopan loh, Nduk, membuang makanan kayak gini” ucap Pakde Penjual mendekat ke arah Bella sambil menunjukkan wajahnya yang berubah menjadi hancur menyeramkan.
Kabut semakin tebal dan perlahan melingkup pasar sehingga membuat suasana pasar menjadi mencekam. Di saat itu pula wajah orang-orang yang mendekat ke arah Bella menjadi menyeramkan. Ada yang tanpa mata, ada yang hilang separuh wajahnya, ada yang berlumuran darah, hingga ada pula yang tanpa kepala.
Tangan Pakde yang berlumuran darah dengan totol hitam menggenggam erat pergelangan tangan Bella. “Nduk di sini aja, nanti setiap hari makan ayam kalasan milik pakde, ‘kan enak.”
“Pergi … Ja … Jangan ganggu aku!” Bella melepaskan genggaman Pakde lalu bergegas kabur sambil menyalakan headlamp-nya masuk ke dalam hutan meninggalkan pasar tersebut. Bella terus berlari tanpa arah dan berharap agar ia tidak di kejar. Namun, nasib sial menghampirinya karena orang-orang Pasar Setan yang berpenampilan berantakan dengan darah dan bagian tubuh yang tidak lengkap itu mengejarnya.
Kabut tebal seakan memperlambat langkah Bella. Namun, gadis itu terus berlari berlandaskan insting dan firasatnya hingga ia melihat setitik harapan di depan sana. Bella melihat dua sosok samar-samar, tetapi ia yakin salah satunya adalah Bambang.
Kakinya ia paksa berlari, nafasnya mulai berhamburan. Akan tetapi, hal itu tidak sia-sia karena Bella dapat melihat Bambang dengan jelas bersama dengan pria lain berbaju oranye. Sekitar dua meter lagi Bella dapat menghampiri Bambang.
“Bambang!”
“Ini aku Bella!”
Bella terus memanggil nama Bambang berharap pria itu melihatnya di balik kabut yang perlahan menipis. Namun, entah mengapa Bambang dan sosok pria di sampingnya seakan tidak mendengar suara yang memanggilnya.
“Bambang!” teriak Bella sambil memaksa kakinya ‘tuk berlari semakin cepat.
Sedikit lagi Bella dapat menemui Bambang, tetapi tampaknya Bambang bahkan pria di sampingnya masih saja tidak mendengarnya. Hingga kaki Bella menyandung akar pohon sehingga ia terjatuh. “Ah, sakit. Aduh … kok pakai jatuh segala sih.”
“Bambang …! Tolong!” Bella berusaha menggerakkan kakinya yang terasa sakit.
“Ini udah minggu ke dua semenjak Bella hilang, kecil kemungkinan dia bertahan, Mas Bambang. Sebaiknya kita kembali ke pos, melapor kalau sektor ini tidak ditemukan apa-apa,” ucap pria yang menemai Bambang.
“Ha? Dua minggu …?!” ucap Bella setelah mendengar perkataan pria berbaju oranye. Kemudian, ia berteriak histeris melihat Bambang dan pria tersebut pergi menjauh darinya.
“Bambang jangan tinggalin aku!”
“Bam — “
Mendadak mulut Bella ditutup oleh tangan yang muncul dari belakang. Saat itu pula bulu kuduk Bella berdiri, tetapi ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk melihat siapa sosok yang ada di belakangnya.
Pupil matanya membulat ketika ia tahu sosok di belakangnya adalah sang Penari cantik dari Pasar Setan yang kini bermata merah tampak seram. Bukan hanya itu, Bella melihat sekelilingnya dan mengetahui bahwa saat ini ia sedang dikerumuni oleh orang-orang Pasar Setan yang menyeramkan.
“Dek Ayu, kamu sudah dua minggu meninggalkan alam manusia. Karena itu, sekarang Dek Ayu tinggal sama kami saja,” ucap sang Penari sambil berjalan ke depan Bella.
“Tolong kembalikan aku, aku gak seharusnya di sini. Aku punya keluarga, aku harus ketemu mereka. Tolong lepasin aku!” Bulir-bulir air mata Bella bercucur deras ketika ia merapatkan kedua telapak dan jari tangannya di hadapan sang Penari.
“Hihihi, Dek Ayu itu udah tinggal di sini. Saya dan semua orang ini adalah keluarga Dek Ayu sehingga Dek Ayu gak perlu merasa sendirian. Selamat bergabung, ya, Dek Ayu.” Sang Penari tersenyum lembut sambil memberi isyarat kepada salah satu makhluk ghaib untuk membawa Bella.
Mata Bella yang sedari tadi mengeluarkan bulir-bulir air itu memerhatikan sosok makhluk besar dan kekar yang mendekat ke arahnya tampak berbulu lebat berwarna merah kehitaman dengan taring menjulang tajam keluar dari mulutnya.
“Tiidaak … tolooong …!”
Segala peluang telah dimanfaatkan dan segala cara telah dilakukan setelah Bella dilaporkan hilang oleh teman kelompok pendakinya. Tim SAR melakukan Upaya pencarian selama 20 hari. Ranger gunung, relawan, hingga orang yang diyakini memiliki kesaktian karena mampu berinteraksi dengan dunia lain turut membantu dalam pencarian Bella.
Tidak ditemukan adalah dua kata yang pas untuk menggambarkan hasil pencarian Bella. Menurut Sebagian orang, Bella terjebak di Pasar Dieng karena menyentuh atau memakan sesuatu di sana. Sebagian orang lagi mengatakan bahwa Bella tersesat di Jalur Pasar Dieng dan berakhir jatuh di jurang.
Upaya pencarian ditutup pada tanggal 17 Desember 2022 atau tepat hari ke-21 semenjak Bella hilang. Dengan berat hati, Tim SAR menyatakan bahwasanya Bella telah meninggal di Gunung Lawu dan tidak dapat ditemukan jasadnya.
Kini, satu bulan telah berlalu sejak hari itu. Kerabat hingga keluarga Bella telah ikhlas melepaskan sosoknya yang ‘tak lagi bersama mereka. Namun, berbeda dengan Bambang, Rio, dan Manda. Sebab hampir setiap malam, mereka bertiga dikunjungi oleh Bella untuk diajak kembali mendaki ke gunung Lawu.
“Hihi, Bambang … Rio … Manda. Ayo mendaki ke Lawu. Tapi kali ini sampai ke puncak, ya.”
Tamat
Gowa, November 2023
메타데이터
- post_id
- cf29dcb5774e
- slug
- pasar-dieng-cf29dcb5774e
- url
- https://medium.com/@jaladarapaksi/pasar-dieng-cf29dcb5774e
- canonical_url
- https://medium.com/@jaladarapaksi/pasar-dieng-cf29dcb5774e
- author_url
- https://medium.com/@jaladarapaksi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 22:45:08