← Back to list

Until today, I still haven’t finished reading this book

Perlu diketahui bahwa It’s been a long time since I took a hiatus from reading a book. Lalu pada saat yang sama aku bertemu teman-teman…

Seyaa Pages · 2026-05-17 15:00 · 19 claps · 2.2 min read
#bookreview-blog #mel-robbins #let-them-theory
Open on Medium ↗
Wiki topics: 📋 · Product Management 📚 · Books & Reading

Until today, I still haven’t finished reading this book

from pin by lifestilewithkerry

from pin by lifestilewithkerry

Perlu diketahui bahwa It’s been a long time since I took a hiatus from reading a book. Lalu pada saat yang sama aku bertemu teman-teman yang memiliki minat di bidang yang sama (which is membaca) dan mereka meng-encourage ku untuk mencoba membaca buku lagi hingga aku memutuskan untuk memiliki new resolution this year yaitu membeli buku (minimal 3) untuk kepemilikan dan tanggung jawab atas hobi lamaku.

Tulisan ini aku buat karena terinspirasi dari temanku <son>. Lately dia membuat semacam review buku juga dengan tentu saja bahasa yang sangat unique and represent herself, so since that aku berpikir “oh ternyata bisa juga ya review buku di platform ini”. Thanks son btw ❤.

Buku ini ditulis oleh Mel Robbins seorang Podcaster Self Development, Content Creator and Writer. di awal buku ini dia sedikit bercerita bagaimana dia begitu terpuruk dan titik balik kehidupannya yang di implementasikan dalam Let Them Teory. Setelah membeli buku ini aku serta merta memamerkannya ke teman-teman ku (salah satunya son) Ia sempat me-review sedikit hanya dari melihat daftar isi dan membaca sekilas, son bilang buku ini banyak membahas tentang relationship dan sangat merekomendasikanku untuk menamatkannya.

Di bagian awal, Let Them Theory memisahkan 2 bagian yang seringkali menjadi rancu ketika kita bersosialisasi, yaitu pengaruh diri sendiri dan pengaruh orang lain. Ketika seseorang mengatakan sesuatu, kita tidak bisa mengendalikan mulut mereka. Satu-satunya hal yang bisa kita kendalikan adalah reaksi diri kita sendiri. Mel bilang, saat tubuh kita mulai bereaksi atas perlakuan seseorang, saat itulah kita berkata, “Let Them.” Lalu setelahnya, waktunya kita berkata, “Let Me.”

Let Them untuk menyikapi perilaku orang lain yang tidak bisa kita ubah atau diluar kendali kita, sedangkan Let Me lebih kepada membentengi diri dan menjaga marwah sebagai manusia yang memiliki hak untuk bersuara, berpendapat, ataupun mengacuhkan.

Uniknya di Bab 10 Mell juga memberikan validasi bahwa terkadang emosi tidak stabil yang muncul akibat reaksi dari perilaku orang lain terjadi karena kita tidak cukup percaya akan kualitas yang kita bangun pada diri sendiri, dan ini cukup memukul halus (sebenarnya keras) egoku.

Aku juga jadi teringat pada salah satu pendapat dari seorang mahasiswa psikologi yang pernah melakukan riset tentang perilaku juri dan peserta saat siaran LCC keluar yang sayangnya, aku lupa siapa nama kakaknya. Maafkan aku:(. Ia mengatakan bahwa manusia cenderung defensif; ketika ketahuan salah, banyak orang justru memilih menyerang balik alih-alih mengakui kesalahan dan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Ada salah satu kalimat di Buku Mel yang sangat aku suka

Mencemaskan hal itu (pencapaian orang lain) atau membuat dirimu merasa tidak enak adalah penghinaan terhadap kecerdasanmu. Pada dasarnya kau tau dan bisa mencari cara untuk menang.

Tulisan ini mungkin tidak beraturan, tapi memang rasanya akan lebih baik jika kamu membaca bukunya sendiri. Akan ada banyak hal yang memvalidasi perasaan-perasaan semu yang sedikit banyak pasti pernah hadir di dalam pikiranmu.

from pin by Sarah

from pin by Sarah


메타데이터
post_id
cf2f98f1dc5c
slug
until-today-i-still-havent-finished-reading-this-book-cf2f98f1dc5c
url
https://medium.com/@nabilafayza23/until-today-i-still-havent-finished-reading-this-book-cf2f98f1dc5c
canonical_url
https://medium.com/@nabilafayza23/until-today-i-still-havent-finished-reading-this-book-cf2f98f1dc5c
author_url
https://medium.com/@nabilafayza23
status
ok
fetched_at
2026-07-08 20:12:56