← Back to list

Di Hari Pemakamanku

Monolog sunyi dari bawah tanah, untuk yang masih hidup.

Fara Kaifumi. · 2026-01-08 10:57 · 1 claps · 2.1 min read
#grave #writing #thoughts-and-feelings #thoughts
Open on Medium ↗

https://pin.it/1PhuiybE6

https://pin.it/1PhuiybE6

Aku menulis ini bukan karena aku ingin cepat pergi, bukan karena aku menyerah, bukan pula karena aku tak ingin hidup lagi

Di hari pemakamanku, sesungguhnya aku tidak ingin ada siapa pun yang menangisi kepergianku—sesederhana itu. Namun jika kupikirkan kembali, keinginan itu hanyalah bentuk keegoisanku sendiri. Aku menolak manusia meluapkan emosi yang mereka rasakan, seakan memerintahkan banyak batin untuk tetap diam, padahal di dalamnya mereka meronta ingin bebas.

Sungguh, aku tidak ingin siapa pun—terlebih dirimu—meratapi tumpukan tanah cokelat nan basah yang baru saja menutupi jasad dinginku sepenuhnya. Kau seakan masih berusaha mencerna apa yang baru saja dilakukan tukang gali pada makamku. Tubuhku kini berada di bawah sana: dingin, sunyi, gelap, tanpa secercah cahaya, terkubur bersama banyak perandaian yang tak sempat tercapai.

Banyak yang berbisik-bisik, dari satu telinga ke telinga lain. Beberapa menahan air mata, sementara yang lain air matanya telah kering, menyisakan tarikan napas berat, hingus, dan sesak di dada.

Apa yang mereka ributkan? Tentang apa? Dari bawah sini aku bisa menduganya. Mereka membicarakanku semasa hidup: bagaimana sifatku, apa yang kusukai dan tak kusukai, seberapa dekat hubungan mereka denganku, seberapa banyak tanda yang kuberi sebelum kepergianku. Satu dua orang bahkan menyesali perlakuan mereka kepadaku ketika aku masih ada.

Aku menjadi topik hangat hari ini—mungkin seharian penuh. Semua cerita itu mereka rangkai seperti kaset jadul yang diputar ulang, menyusun ulang adegan demi adegan dari film bernama hidupku.

Sungguh ironis, ketika aku tiada, barulah aku dikenang.

Saat rangkaian pemakaman hampir usai, kau menabur bunga berwarna—entah kau beli atau kau terima dari siapa pun di sekitarmu—lalu menyirami tanah tempatku berbaring dengan air bersih yang menyejukkan. Caramu tak jauh berbeda dari seorang tukang kebun yang menyayangi kebun mimpinya.

Aku bertanya-tanya, apa saja alasan air mata jatuh di hari pemakamanku. Bisa jadi mereka sedang memikul perihal lain; mungkin ada yang terbawa suasana, mungkin ada yang sekadar menjaga formalitas, atau mungkin ada pula yang memang telah terlalu lelah secara emosional dan memilih meluapkannya di atas namaku.

Dirimu tentu berbeda. Kau telah kulatih sedemikian rupa sebelumnya. Kau tidak menangis, tidak gentar, bahkan sempat menguatkan mereka yang rapuh. Namun ada saat-saat ketika mata tak lagi mengawasi, kau terdiam, menatap kosong, mengikuti seluruh proses pemakamanku dengan penuh kesadaran.

Aku berterima kasih karena kau menuruti pintaku, meski permintaan itu menyiksa jiwamu. Maafkan aku karena membebankan keinginan terakhir itu kepadamu. Kau selalu menjadi orang yang bisa kupercaya.

Kini, aku tidak akan lagi menolak emosi apa pun yang ingin mereka keluarkan, terlebih di hari khusus ini—hari pemakamanku. Aku justru akan lega jika mereka menjadikan pemakamanku sebagai alasan untuk membebaskan perasaan yang selama ini terpendam.

Maaf, hanya untuk dirimu aku masih menolak. Aku sungguh tak kuasa melihat setetes pun air matamu jatuh di hadapanku.

Ah, ini hanyalah imajinasiku. Menyenangkan, memang. Namun aku tak tahu apakah pemakamanku kelak akan seperti ini, atau semua ini hanya bualanku semata. Bahkan ada suasana lain yang sebenarnya kutahan untuk tidak kutulis—pemakaman yang berbanding terbalik dari semua paragraf di atas.

Aku mati meringkuk sendirian. Tidak dikenang sama sekali. Tidak ada siapa pun. Baik mereka, maupun dirimu. Sepi.


메타데이터
post_id
cf3d08d8cadf
slug
di-hari-pemakamanku-cf3d08d8cadf
url
https://medium.com/@kyuradevexston/di-hari-pemakamanku-cf3d08d8cadf
canonical_url
https://medium.com/@kyuradevexston/di-hari-pemakamanku-cf3d08d8cadf
author_url
https://medium.com/@kyuradevexston
status
ok
fetched_at
2026-07-13 14:18:34