Enemy to Lovers (1)
Pekerjaan Kaula masih cukup banyak, tapi artis satu itu, alias Gama, yang sialnya adalah bosnya sendiri, selalu saja merecoki. Setiap waktu…
Enemy to Lovers (1)
Pekerjaan Kaula masih cukup banyak, tapi artis satu itu, alias Gama, yang sialnya adalah bosnya sendiri, selalu saja merecoki. Setiap waktu menyuruhnya ini dan itu. Memang, pekerjaan Kaula adalah asisten pribadi, tapi tingkah Gama benar-benar membuatnya sakit kepala. Ingin rasanya resign dan lempar ID card ke muka cowok itu, tapi ia butuh uang. Ayahnya masih terbaring lemah di rumah sakit dan biaya pengobatan tak akan datang dari langit.
Seperti sekarang. Kaula di samping di sisi Gama, memegang kipas kecil dan mengarahkannya ke Gama yang tengah duduk santai sambil berbincang dengan Ciara, partner MV project musiknya kali ini.
“Ula, jangan miring-miring. Nih muka gue bisa keringet nanti di kamera,” sentil Gama tanpa menoleh.
Kaula menghela napas, menggigit bibir bawah menahan diri. Sudah jam satu siang, perutnya kosong sejak pagi, tapi cowok satu itu belum juga memberikan waktu istirahat.
Sementara itu, Gama terlihat begitu akrab dengan Ciara. Suara mereka sesekali diiringi tawa kecil, membuat dada Kaula sesak entah karena lapar, lelah, atau… hal lain yang tak ingin ia akui.
“Gue masih inget pas pertama kali kita duet waktu live di Seoul,” kata Ciara sambil tertawa pelan.
“Iya, lo pake dress merah marron itu, kan?” Gama menyengir. “Masih ada fotonya sampe sekarang.”
“Hah? Serius masih disimpen?”
“Of course,” Gama melirik cepat ke Kaula, seolah ingin memastikan ekspresi gadis itu. “Kenangan bareng lo terlalu sayang buat dihapus.”
Kaula membuang muka. Bukan urusan gue. Gue cuma kerja. Hanya kerja.
Tiba-tiba suara berat yang familier menginterupsi suasana.
“Kaula,” Daffa mendekat dengan senyum hangat. “Udah siang, lo udah makan belum?”
Kaula mengerjap. “Eh… belum.”
“Mau bareng gak? Gue mau ke resto seberang, yang lo bilang kemarin suka ayam gorengnya.”
Belum sempat Kaula menjawab, Gama menoleh cepat, suaranya tajam, “Dia masih kerja.”
Daffa tersenyum tipis. “Dia juga manusia, Ga. Butuh makan. Nanti dia balik lagi kok.”
Gama berdiri, tangan disilangkan. “Gue gak bayar dia buat pacaran di jam kerja.”
“Gue bukan ngajak pacaran, cuma ngajak makan siang. Kalau lo takut dia kabur, lo ikut aja sekalian,” balas Daffa, tetap tenang.
Hening sebentar. Tatapan Gama tajam, tapi ada keraguan di baliknya. Kaula menunduk, menunggu keputusan seperti anak kecil yang minta izin main keluar rumah.
Akhirnya, Gama menghela napas panjang. “Sepuluh menit. Kalau lebih dari itu, lo potong gaji.”
Kaula menatapnya heran. “Apa-apaan…”
“Terserah. Mau makan atau enggak?”
Daffa terkekeh dan menggandeng lengan Kaula pelan. “Ayo, sebelum dia berubah pikiran.”
Saat mereka pergi, Gama menatap punggung Kaula dan Daffa menjauh, entah kenapa… kipas kecil yang tadi terasa terlalu dingin, kini justru seolah membawa panas ke dadanya sendiri.
메타데이터
- post_id
- cf8cc70a594a
- slug
- enemy-to-lovers-1-cf8cc70a594a
- url
- https://medium.com/@wanmalinda86/enemy-to-lovers-1-cf8cc70a594a
- canonical_url
- https://medium.com/@wanmalinda86/enemy-to-lovers-1-cf8cc70a594a
- author_url
- https://medium.com/@wanmalinda86
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16