Kita (BUKAN) Tommy Lee & Pamela Anderson
Dan saat itu, kita hanyalah kita yang fana, bukan mereka, cintaku.
Kita (BUKAN) Tommy Lee & Pamela Anderson
[embed]
Cintaku, izinkan aku tetap memanggilmu demikian untuk beberapa waktu lagi. Pernah suatu ketika, harapan kita membumbung begitu tinggi, merayap menutupi angkasa dengan kepekatan yang luar biasa. Dalam ruang kepala yang sarat akan kegilaan, aku sempat membayangkan kisah kita akan bermanifestasi seperti Tommy Lee dan Pamela Anderson. Namun, lupakan saja hal itu karena itu hanyalah imajinasi gila yang lahir dari romantisasi yang keliru.
Maafkan aku, cintaku. Sejak awal, aku harusnya berkaca bahwa aku tidak hidup dalam citra yang se-glamor Tommy Lee. Menjadi seorang rocker pun aku kepalang tanggung. Jangankan menciptakan elegi patah hati lewat dentum drum yang menggelegar, rambut gondrong yang menjadi simbol pemberontakan masa mudaku saja harus rela dipangkas. Proses potong rambut itu terjadi bukan karena aku ingin berganti gaya atau sekadar mengikuti tren mode terkini, melainkan demi sebuah tunduk pada realitas korporasi bahwa aku butuh pekerjaan yang layak.

Cintaku, kebutuhan akan pekerjaan layak itu perlahan mengikis ilusi kepahlawanan kita sebagai sepasang kekasih, meskipun fenomena cinta pada pandangan pertama sebenarnya adalah hal yang lumrah. Hal itu merupakan sebuah klise yang dirasakan oleh sekian miliar khalayak di muka Bumi. Namun, pertanyaannya adalah apakah mereka segila kita? Atau setidaknya, apakah mereka se-ekstrem pasangan hits era 90-an itu?
Kalau kupikir ulang, ada hal usang yang aneh dalam kepalaku. Aku tumbuh dalam cekokan musik Glam Metal yang diwariskan oleh Ayahku tercinta. Secara tidak sadar, doktrin musik yang memekakkan telinga itu menuntun langkah kakiku untuk mencoba menyerupai figur rockstar bajingan, persis seperti citra teaterikal Tommy Lee bersama Mötley Crüe di masa jaya mereka.
Demi Tuhan, bahkan jika harus bersumpah demi Setan sekalipun, aku berani jujur bahwa aku langsung terpikat oleh pesona parasmu, cintaku. Ketertarikan itu bermula dari awal tatap muka kita yang canggung, obrolan yang mengalir, hingga kegiatan modern ketika kita saling mengikuti pada laman media sosial pribadi. Kisah kita dimulai dari sana.

Sayangnya, hubungan yang berawal dari pandangan pertama itu justru membuat kita terjebak dalam kecemasan modern. Maafkan ketidakberanianku, cintaku. Aku tidak memiliki nyali seberingas Tommy Lee yang sanggup menyeretmu ke altar pernikahan hanya dalam rentang waktu empat hari setelah perkenalan pertama. Lagipula, jika skenario nekat itu benar-benar terjadi, rasanya mustahil kamu akan menikahiku hanya dengan menggunakan bikini, lalu kita menato nama masing-masing di jari manis sebagai pengganti cincin.
Cintaku, kita hidup di abad ke-21 yang serba digital. Pandangan sosial yang ekstrem seperti itu hanya akan melempar kita ke dalam pusaran portal berita modern terkini. Hubungan kita akan berseliweran di algoritma media sosial dan dikunyah oleh netizen. Skenario romantis paling mentok yang bisa kita lakukan hanyalah kawin lari, sebuah klise adopsi domestik yang jauh dari kesan rock n’ roll.
Ketakutan akan sorotan publik ini sekaligus menegaskan bahwa kesan maskulinitasku di matamu mungkin tampak redup atau bahkan absen. Aku tidak merokok, tidak pula menenggak alkohol untuk merayakan eksistensi lelakiku. Begitu juga kamu. Lantas, bagaimana cara kita mendemonstrasikan pada dunia bahwa kita saling mencintai? Apakah kita harus saling mencumbu di muka umum, melumat bibirmu dengan berisik seakan-akan dunia harus tahu bahwa kamulah satu-satunya, seperti bait anthem romantis milik Dewa 19?
Tidak, cintaku. Kita tidak memiliki kebodohan tembus batas seperti itu. Kita hanyalah pasangan konvensional yang ringkih, yang lehernya dicekik oleh banyak ekspektasi sosial, baik ekspektasimu terhadapku, maupun ekspektasiku terhadapmu. Aku tidak bisa mencumbumu di ruang publik karena sekali lagi kita takut menjadi viral. Kita hanyalah sepasang kekasih yang gemetar memikirkan bagaimana dunia memandang kita. Kita tidak memiliki daya untuk melawan dunia, sehingga kita memilih tunduk dan patuh di dalam sistemnya.

Cintaku, karena kita memilih patuh pada sistem dunia, maka gaya hidup berandalan dan ugal-ugalan memang tidak pernah cocok untuk struktur genetik kita. Bermesraan bagi kita hanyalah kemesraan sewajarnya yang dibatasi oleh norma kolektif. Maka kuingatkan sekali lagi bahwa kamu bukanlah seorang Sexbomb pemersatu bangsa, dan aku jelas bukan berandalan rockstar Glam Metal yang karismatik.
Secara kultural, aku baru akan membuahi rahimmu jika kalimat sah telah sakral terucap dari mulut para saksi. Kita akan melenggang dengan senyum yang dipaksakan menuju altar pernikahan, bersalaman sampai persendian kita bosan dengan seluruh warga yang hadir memenuhi undangan. Kemudian, alih-alih menghabiskan malam pertama dengan persenggamaan yang liar dan eksplosif, kita kemungkinan besar akan duduk di sudut kamar, menghitung amplop pendapatan menikah dan berdiskusi hangat mengenai alokasi dana tersebut demi bertahan hidup.
Sebab, cintaku, sekasar apa pun kedengarannya, kita sama-sama tahu bahwa romansa memerlukan logistik, dan uang adalah variabel penting untuk merawat napas kita di dunia yang kapitalistik ini. Aku mencintaimu dalam segala aspek, namun aku juga seorang realistis.

Namun ironisnya, segala perhitungan logistik dan sikap realistis yang kita jaga agar tidak seperti Tommy dan Pamela, justru tetap membawa kita pada titik temu yang sama beberapa waktu lalu. Titik itu adalah kenyataan bahwa kita berpisah.
Kita mereplikasi akhir cerita mereka dengan cara yang sama-sama tidak baik. Apakah dalam narasi ini aku yang bertindak sebagai bajingan egois, atau kamu yang menjadi pihak yang brengsek? Aku tidak tahu, dan sejujurnya, aku tidak peduli lagi pada atribusi itu.
Cintaku, cintaku, cintaku.
Sampai pada baris tulisan ini diketik pun, lidahku masih mengecap rasa manis sekaligus getir saat menyematkan frasa itu untuk memanggilmu. Namun, ketahuilah bahwa jika ada satu malam atau satu keputusan keliru yang menjadi pemantik retaknya hubungan kita, aku yang berdiri paling depan untuk memulai permintaan maaf. Kau tidak perlu merasa bersalah, tidak perlu mengemis ampunan. Akulah sang pusat dari kehancuran ini, karena akulah yang salah.

Kesadaran akan kesalahan ini akhirnya mematahkan seluruh fantasi masa lalu. Di sinilah jalur paralel kita dengan kisah romansa Tommy Lee dan Pamela Anderson resmi hancur dan melenceng jauh.
Ketika Tommy Lee tetap dipuja dengan sisa-sisa kejayaan gaya hidup rockstar miliknya, dan Pamela Anderson harus menanggung rasa malu yang masif akibat rekaman persetubuhan mereka disebarluaskan di internet hingga menggegerkan dunia, kita justru membalikkan takdir tragis tersebut. Di dunia kita, akulah yang dikutuk untuk hidup dalam ruang hampa yang sunyi, sementara kamu, cintaku, pergilah dan berbahagialah.
Cintaku, tidak perlu ada siklus toksik putus-nyambung seperti yang mereka pertontonkan selama bertahun-tahun. Ciptakanlah lanjutan hidupmu sendiri. Carilah pria lain yang jauh lebih mampu untuk mencintaimu, dibanding aku, pria medioker yang kini hanya bisa memanggil namamu lewat puitisasi pilu yang menyedihkan. Aku pun, pada waktunya, akan melangkah untuk mencari “cintaku” yang baru. Seseorang yang benar-benar akan menetap menjadi rumah, melanjutkan peranmu yang terhenti, menambal luka menganga di hati, dan membuat dadaku kembali berdetak kencang sebagai penanda kebahagiaan yang sebenarnya.
Pada akhirnya, kesimpulan ini terasa begitu absolut bahwa kita memang bukan Tommy Lee dan Pamela Anderson.
Saat itu, aku hanyalah seorang pemuda yang terlampau tergila-gila dengan estetika Glam Rock dan pemberontakan semu Mötley Crüe. Dan saat itu, kita hanyalah kita yang fana, bukan mereka, cintaku.

메타데이터
- post_id
- cf8d8b352e16
- slug
- kita-bukan-tommy-lee-pamela-anderson-cf8d8b352e16
- url
- https://medium.com/@m.f.ilalang/kita-bukan-tommy-lee-pamela-anderson-cf8d8b352e16
- canonical_url
- https://medium.com/@m.f.ilalang/kita-bukan-tommy-lee-pamela-anderson-cf8d8b352e16
- author_url
- https://medium.com/@m.f.ilalang
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 21:52:29